Kepulauan Hormozgan; Tempat Sejarah, Geopolitik, dan Alam Berpadu
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185048-kepulauan_hormozgan_tempat_sejarah_geopolitik_dan_alam_berpadu
Di bawah terik matahari Teluk Persia, pulau-pulau Hormozgan bersinar di antara sejarah, alam, dan ekonomi.
(last modified 2026-02-05T06:22:37+00:00 )
Feb 05, 2026 13:10 Asia/Jakarta
  • Kepulauan Hormozgan; Tempat Sejarah, Geopolitik, dan Alam Berpadu

Di bawah terik matahari Teluk Persia, pulau-pulau Hormozgan bersinar di antara sejarah, alam, dan ekonomi.

Di bawah matahari Teluk Persia yang tak kenal ampun, tersebar di sepanjang jalur perairan strategis Provinsi Hormozgan, terbentang sebuah kepulauan pulau-pulau Iran; masing-masing laksana permata unik yang terjalin dalam anyaman sejarah, alam, dan ekonomi yang subur di wilayah ini.

Menurut laporan Pars Today mengutip Press TV, artikel ini menelusuri arus sejarah yang mendalam, alam yang tangguh, dan transformasi ekonomi yang berani, serta menunjukkan bagaimana wilayah-wilayah yang dahulu dikenal dalam peta para geograf kuno dengan nama “Oarakta” dan “Organa”, kini telah berubah menjadi mutiara-mutiara alami Teluk Persia.

 

 

Hutan bakau (Hara) di Pulau Qeshm

Qeshm: Benteng geopolitik dan suaka ekologi

Pulau Qeshm, pulau terbesar di Teluk Persia, merupakan sebuah wilayah yang sejarahnya bertumpuk lapis demi lapis seperti batuan sedimennya, menjadi saksi ribuan tahun ambisi manusia dan kekuatan alam yang tak pernah berhenti.

Pulau ini, yang pada masa kuno dikenal sebagai “Abrakavan” atau “Pulau Gavan”, karena bentuknya yang memanjang sejajar dengan garis pantai daratan utama, selalu memiliki nilai strategis yang luar biasa dan senantiasa menjadi incaran kekuatan-kekuatan besar.

 

Lembah Bintang (Dareh Setaregan) di Pulau Qeshm

Benteng Portugis di kota Qeshm dan bangunan yang dikenal sebagai “Benteng Naderi” di Laft, bagaikan para penjaga yang keras dan kokoh, menampilkan contoh arsitektur militer era kolonial dan Safawi.

Masjid Barkh di Desa Kusheh—yang kemungkinan berasal dari awal penaklukan Islam dan dibangun kembali setelah gempa dahsyat abad ke-14—menjadi bukti kehidupan spiritual yang mengakar kuat di kalangan penduduk pulau.

Tak kalah penting, sumur-sumur cerdas “Tala” di Laft—yang secara tradisional berjumlah 366 sumur—merupakan contoh solusi kuno terhadap krisis kekurangan air kronis. Waduk bawah tanah Kharbas menunjukkan pola permukiman yang berasal dari era Sasaniyah, sementara sisa-sisa pemakaman Inggris di Basidu dan waduk amal “Bibi” yang dibangun pada awal abad ke-19, memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sebuah pulau yang terus-menerus dibentuk, disesuaikan, dan diperebutkan oleh gelombang penduduk, penguasa, dan pedagang yang silih berganti.

Namun, keagungan Qeshm tidak hanya terletak pada sejarah manusianya, melainkan juga pada arsitektur alamnya yang luar biasa—sebuah keistimewaan yang diakui dengan penetapannya sebagai Geopark Global UNESCO.

Qeshm adalah museum geologi raksasa terbuka; tempat erosi, tektonik garam, dan sedimentasi menciptakan lanskap surealis yang terus berubah. Lembah Bintang dengan formasi tinggi dan runcingnya, serta jaringan luas gua-gua garam—termasuk Gua Garamdan yang menakjubkan, gua garam terpanjang di dunia—membuka jendela pada seni bawah tanah bumi.

Di sepanjang pesisir, hutan laut bakau (Hara) membentuk salah satu ekosistem paling vital sekaligus paling rapuh di kawasan ini. Hamparan mangrove yang luas ini berfungsi sebagai tempat pembiakan ikan dan krustasea serta sebagai tempat berlindung burung-burung migran. Bersama terumbu karang dan pantai berpasir Qeshm—yang menjadi lokasi bertelurnya penyu laut—semuanya menegaskan pentingnya nilai ekologis pulau ini.

Selama beberapa generasi, ekonomi lokal terikat erat dengan lingkungan ini dan bertumpu pada perikanan, pertanian kecil, kebun kurma, dan—di masa lalu—perburuan mutiara. Ekspor balok garam murni dan kayu bakar pernah memasok pasar di seluruh Teluk Persia.

Pada akhir abad ke-20, pemerintah Iran, dengan menyadari potensi unik Qeshm, mendirikan Organisasi Kawasan Bebas Qeshm pada tahun 1368 H (1989). Tujuan langkah ini adalah memanfaatkan posisi strategis pulau, sumber gas alam di sekitarnya, serta warisan alam dan budaya yang kaya untuk membentuk pusat perdagangan, industri, dan ekowisata.

Saat ini Qeshm berada dalam keseimbangan yang halus dan dinamis: berupaya melestarikan keajaiban geologi kuno dan cara hidup tradisionalnya, sambil menghadapi tuntutan pembangunan ekonomi modern. Pulau ini berdiri sebagai kesaksian agung atas keterikatan abadi antara alam dan sejarah di salah satu persimpangan peradaban tertua di dunia.

 

Menara angin (Badgir) di Kota Laft, Pulau Qeshm

Jika Qeshm mewakili jiwa mentah dan kuno pulau-pulau Teluk Persia, maka Kish mewujudkan masa depan mereka yang berkilau dan ambisius; sebuah pulau yang berubah dari pos tenang perburuan mutiara menjadi etalase ekonomi dan pariwisata Iran.

Makna historis Kish sebagai kekuatan dagang abad pertengahan—yang kala itu dikenal sebagai “Qeys”—sering tersembunyi di balik gemerlap modernnya.

Antara abad ke-11 hingga ke-13 Masehi, Kish bangkit sedemikian rupa hingga mampu bersaing dengan Hormuz. Para penguasanya—baik dari dinasti Jolandah maupun yang berafiliasi dengan Buwaihiyah—memimpin armada laut kuat yang menguasai jalur perdagangan menuju India dan Afrika Timur, bahkan pada tahun 1135 M menyerang Aden.

Reruntuhan kota kuno Harireh, yang dipenuhi pecahan porselen impor, menjadi bukti posisinya dalam jaringan luas perdagangan Samudra Hindia, sementara mutiara-mutaranya dipuji oleh para penjelajah, dari Marco Polo hingga Abul Feda.

Masa keemasan ini meredup setelah penaklukan Kish oleh Hormuz pada abad ke-13, dan selama berabad-abad pulau ini kembali pada kehidupan sederhana nelayan dan petani kurma; populasinya hanyalah bayangan dari kejayaannya dahulu.

 

Pantai Pulau Qeshm

Revolusi Islam 1357 H (1979) secara tiba-tiba mengakhiri era eksploitasi privat Kish pada masa Pahlavi dan meninggalkan proyek-proyek mewah yang terbengkalai. Setelah Perang Iran-Irak, Republik Islam Iran memulihkan infrastruktur pulau, namun membalik arah fundamentalnya.

Pada tahun 1368 H (1989), Kish dihidupkan kembali sebagai kawasan perdagangan bebas pertama di negara itu dengan misi baru yang berorientasi pada rakyat.

Organisasi Kawasan Bebas Kish mengalihfungsikan sisa-sisa ambisi kerajaan: hotel-hotel mewah yang dulu terlarang diubah menjadi akomodasi publik, dan bandara eksklusif menjadi gerbang terbuka bagi semua.

Kerangka hukum tidak lagi ditulis untuk kepentingan segelintir elit, tetapi dirancang untuk menarik investasi dan pariwisata demi kepentingan mayoritas.

Kini, pulau yang dahulu merupakan benteng tertutup bagi diktator dan kroninya, menerima sekitar dua juta pengunjung setiap tahun—mayoritas besar adalah keluarga dan warga negara Iran yang sebelumnya terhalang dari mengakses pesisir mereka sendiri.

Pusat kota Kish

Saat ini, Kish adalah studi tentang kontras dan ambisi terpusat. Ekonominya bertumpu pada tiga pilar: pariwisata belanja, pariwisata medis, dan pariwisata rekreasi.

Aset alam pulau dikemas untuk rekreasi: pantai karang untuk snorkeling, taman lumba-lumba untuk hiburan keluarga, dan resor mewah seperti hotel laut terapung “Toranj” yang menampung arus wisatawan domestik dan asing yang terus meningkat, melampaui dua juta orang per tahun.

Secara budaya, Kish menampilkan perpaduan yang khas: dialek bandari, tradisi yang dipengaruhi budaya Arab, dan warisan pelayaran masih hidup di sudut-sudut pulau, meskipun budaya dominan semakin dibentuk oleh konsumerisme dan arus wisatawan yang terus-menerus.

Waduk air (Ab Anbar) di Kish

Dengan demikian, Kish menjadi eksperimen paling berani Iran dalam kapitalisme global: sebuah aset strategis untuk menghindari sanksi Barat melalui perdagangan, serta sebuah laboratorium sosial tempat pertarungan antara pelestarian dan pembangunan, tradisi dan modernitas, serta kontrol negara dan kebebasan ekonomi dipentaskan di atas panggung yang bermandikan matahari dan dilapisi karang.

 

Waduk air (Ab Anbar) di Kish

Hormuz: Permata merah di selat strategis

Berkontras tajam dengan pembangunan masif Kish, Pulau Hormuz adalah tempat di mana sejarah dan geologi memaksakan diri dengan kekuatan yang tak terbendung.

Gundukan batu kering ini, penjaga selat yang menyandang namanya, menampilkan lanskap yang dicat dengan spektrum merah tua, oker, dan kuning yang hampir surealis—warna-warna yang berasal dari cadangan oksida besi dan oker—yang memberinya julukan puitis “Pulau Pelangi”.

Namun, arti penting Hormuz jauh melampaui ukuran fisiknya dan berakar pada posisinya yang selama berabad-abad menjadikannya salah satu titik strategis paling didambakan di bumi.

 

Tebing dan pantai selatan Pulau Hormuz

Di era modern, arti Hormuz telah didefinisikan ulang secara keras oleh geopolitik dan bahan bakar fosil. Selat yang diawasinya telah menjadi jalur pengangkutan minyak paling vital di dunia; hampir seperlima konsumsi minyak global melewati perairan sempit ini.

Fakta ini mengembalikan Hormuz ke pusat perhitungan strategis global. Kini pulau ini juga menjadi tuan rumah fasilitas militer Iran, sekaligus berperan sebagai penjaga dan potensi tuas tekanan dalam ketegangan regional dan internasional.

Secara lingkungan, Hormuz tetap sangat rapuh; lanskap unik dan ekosistem laut di sekitarnya sangat rentan. Upaya mengembangkan pariwisata terbatas—dengan fokus pada geologi yang nyaris “luar bumi”, pantai pasir merah, dan sisa-sisa Benteng Portugis—dilakukan dengan hati-hati dan berada di bawah bayang-bayang peran militer dan strategis pulau ini.

Dengan demikian, Hormuz hari ini adalah simbol yang kuat: pengingat masa lalu perdagangan yang agung namun kejam; keajaiban geologi dengan keindahan menakjubkan; dan titik panas permanen dalam arena berisiko tinggi keamanan energi global—sebuah pulau yang tanah merahnya diam-diam menjadi saksi berabad-abad perebutan kekuasaan dan terus memengaruhi pembentukan dunia.

Di luar trilogi Qeshm, Kish, dan Hormuz, perairan Hormozgan dipenuhi oleh rasi pulau-pulau kecil; masing-masing seperti benang khas dalam anyaman kaya provinsi ini yang menekankan ketangguhan alam, kedalaman sejarah, dan ekonomi tradisional.

Pulau-pulau seperti Larak, Hengam, Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil mungkin tidak memiliki skala atau pembangunan mencolok seperti tetangga mereka yang lebih besar, namun maknanya sangat dalam dan berakar pada ekologi, warisan budaya, dan kehidupan kokoh masyarakat lokal.

 

Lembah Pelangi di Pulau Hormuz

Pulau Larak, yang terletak di kanal strategis selatan Hormuz, mencerminkan sejarah panjang permukiman dan pertahanan. Benteng Portugis kecil berbentuk persegi—yang kemungkinan berasal dari akhir abad ke-16—pernah melindungi sumber air tawar vital bagi kapal-kapal yang melintas dan berfungsi sebagai pos pengawas selat.

Seiring waktu, peran Larak berkembang dan memperoleh fungsi strategis: pada dekade 1360-an H (1980-an) terdapat fasilitas transfer minyak yang diserang selama Perang Pertahanan Suci (Perang Iran-Irak), dan kini pulau ini berfungsi sebagai pangkalan angkatan laut. Secara ekologis, Larak tetap memiliki arti vital; menjadi tempat persinggahan burung migran seperti flamingo, dan perairan sekitarnya merupakan bagian dari ekosistem laut rapuh Selat Hormuz.

Sebaliknya, Pulau Hengam di barat daya Qeshm menampilkan wajah berbeda dan semakin bergerak menuju ekowisata berkelanjutan. Pulau ini terkenal dengan pengamatan harian lumba-lumba hidung botol Teluk Persia, yang dapat dilihat melalui tur perahu dari Qeshm.

Hengam juga memiliki formasi geologi yang mencolok, termasuk pegunungan sedimen berwarna-warni dan pantai kaya fosil, sementara desa tradisionalnya mempertahankan gambaran gaya hidup Teluk Persia yang lebih tenang dan pra-modern.

Ekonomi Hengam merupakan kombinasi pariwisata kecil, perikanan, dan produksi kerajinan tangan halus berbentuk jaring yang dibuat oleh perempuan setempat—sebuah model potensial untuk keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan manfaat ekonomi berbasis masyarakat lokal.

Pulau-pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil menempati posisi yang lebih kontroversial dalam lanskap geopolitik kawasan. Di masa lalu, pulau-pulau ini merupakan stasiun persinggahan bagi komunitas dagang dan nelayan—pola yang umum di seluruh Teluk Persia.

Abu Musa memiliki arti ekonomi karena ladang minyak dan cadangan oksida merah, sementara pulau-pulau Tunb terutama bernilai karena posisi strategisnya. Secara keseluruhan, pulau-pulau ini menunjukkan bahwa bahkan daratan terkecil di Teluk Persia pun memiliki arti geopolitik yang berkelanjutan.

 

Plankton bioluminesen di pantai Pulau Larak

Secara keseluruhan, pulau-pulau kecil ini menyingkap ritme dasar kehidupan di Teluk Persia. Ekonomi mereka tetap terikat kuat dengan laut, dan perikanan tradisional masih menjadi sumber utama penghidupan dan mata pencaharian.

Bersama-sama—dari yang terbesar hingga yang terkecil—pulau-pulau ini membentuk bagian yang tak terpisahkan, berlapis, dan menakjubkan dari warisan nasional Iran.(PH)