Rafah, Jalur ke Gaza yang Dihantui Interogasi, Ancaman, dan Penghinaan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i185030-rafah_jalur_ke_gaza_yang_dihantui_interogasi_ancaman_dan_penghinaan
Pars Today - Seorang wanita Palestina yang kembali ke Gaza dari Penyeberangan Rafah menceritakan serangkaian penghinaan, penyitaan barang-barang anak-anak, interogasi keras, penutupan mata, dan ancaman oleh tentara Israel.
(last modified 2026-02-04T09:48:26+00:00 )
Feb 04, 2026 16:38 Asia/Jakarta
  • Penyeberangan Rafah
    Penyeberangan Rafah

Pars Today - Seorang wanita Palestina yang kembali ke Gaza dari Penyeberangan Rafah menceritakan serangkaian penghinaan, penyitaan barang-barang anak-anak, interogasi keras, penutupan mata, dan ancaman oleh tentara Israel.

Sabah Al-Riqab, seorang wanita Palestina yang kembali ke Gaza lewat Penyeberangan Rafah menceritakan serangkaian penghinaan, penyitaan barang-barang anak-anak, interogasi keras, penutupan mata, dan ancaman oleh tentara Israel.

Al-Riqab mengatakan, "Meskipun sangat takut, ia dengan tegas memilih untuk kembali ke tanah airnya."

Sabah Al-Riqab menceritakan detail mengejutkan tentang apa yang dialaminya dalam perjalanan pulang. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai "serangkaian penghinaan, ketakutan, dan interogasi keras".

Al-Riqab mengatakan bahwa setelah memasuki sisi Palestina di Penyeberangan Rafah, keluarganya dihadapkan dengan jalan panjang yang dikelilingi kawat berduri. Semua barang dan hadiah mereka, termasuk mainan anak-anak dan parfum, disita oleh tentara Israel dengan dalih "barang terlarang".

Mereka dipaksa berjalan kaki selama sekitar lima belas menit melewati kawat berduri dan kemudian dipindahkan ke bus yang dikawal oleh jip militer Israel, dengan jip lain mengikuti di belakang mereka.

Wanita Palestina itu mengatakan bahwa bus itu melanjutkan perjalanan ke pos pemeriksaan milik kelompok tentara bayaran Ghassan Al-Dahini di daerah Morag. Di sana, tentara Zionis melakukan penggeledahan menyeluruh dan memalukan, menyita paspor mereka, dan kemudian menyerahkan mereka ke pos pemeriksaan Israel sekitar 30 meter jauhnya.

Al-Riqab mengatakan bahwa rasa takut dan cemas mencekam mereka, terutama dalam cuaca dingin yang menusuk tulang. Tentara Israel berulang kali bertanya kepadanya apakah ada anggota Hamas dalam keluarganya atau apakah dia mengenal siapa pun yang berafiliasi dengan gerakan tersebut, tetapi dia tidak menjawab.

Setelah itu, mereka diarahkan ke pos pemeriksaan Israel. Pada titik ini, penggeledahan dan interogasi individu dimulai, yang berlangsung sekitar dua jam. Mereka diikat dan ditutup matanya; situasi ini memperparah teror mereka, terutama ketakutan mendalam Al-Riqab akan apa yang mungkin terjadi pada putri-putrinya.

Wanita Palestina itu menekankan bahwa pertanyaan-pertanyaan pasukan pendudukan berfokus pada hubungan mereka dengan Hamas dan siapa yang telah mereka hubungi dari gerakan tersebut di kota Arish, Mesir. Seorang perwira pasukan pendudukan bertanya kepadanya mengapa ia begitu bersikeras untuk kembali ke Gaza dan mencoba membujuknya untuk kembali ke Mesir bersama kelima putrinya dan menawarkan untuk menyediakan akomodasi bagi mereka, tetapi Al-Riqab dengan tegas menolak semua upaya tersebut.

Narasi ini menggambarkan penghinaan sistematis, penyitaan harta benda pribadi, interogasi panjang dengan tangan dan mata terikat, dan upaya untuk mencegah warga Palestina kembali ke tanah mereka. (sl)