Lintasan Sejarah 25 Maret 2017
Hari ini, Sabtu tanggal 25 Maret 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 26 Jumadil Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 5 Farvardin 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Miqdad bin Abdullah Al-Hilli Wafat
612 tahun yang lalu, tanggal 26 Jumadil Tsani 826 Hijriah, Abu Abdillah Syaraf ad-Din Miqdad bin Abdullah bin Muhammad al-Hilli meninggal dunia.
Miqdad bin Abdullah al-Hilli lebih dikenal dengan sebutan Fadhil Miqdad adalah seorang faqih, teolog dan peneliti. Beliau termasuk satu dari ulama besar Syiah.
Setelah Fadhil Miqdad menyelesaikan pendidikan dasar agamanya, beliau hadir dalam kuliah fiqih, ushul fiqih dan hadis yang disampaikan oleh gurunya Muhammad bin Makki atau Syahid Awwal. Beliau begitu serius belajar, sehingga menjadi ulama besar Syiah di masanya.
Fadhil Miqdad meninggal banyak karya ilmiah seperti Adab al-Hajj, Ayaat al-Ahkam dan Kanz al-Irfan.
Beliau wafat di kota Najaf dan kuburannya berada di dekat Baghdad di jalur tempat lewatnya para peziarah ke Najaf al-Asyraf.
Dimulainya Penarikan Pasukan Rusia dari Iran
70 tahun yang lalu, tanggal 5 Farvardin 1325 HS, dimulainya penarikan pasukan Rusia dari Iran.
Dalam Perang Dunia II, Iran diduduki oleh pasukan Sekutu dan setelah berakhirnya perang, pasukan Sekutu masih tetap bercokol di Iran.
Setelah beberapa waktu dicapai kesepakatan agar pasukan Sekutu keluar dari Iran dan meninggalkan negara ini. Tapi Rusia tetap tidak ingin keluar dari Iran, sekalipun mereka termasuk penandatangan kesepakatan itu.
Oleh karenanya, pemerintah Iran mengadu pada Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dan menuntut penarikan mundur pasukan asing dari negaranya. Usaha ini pada akhirnya berhasil dan pasukan Rusia pada 5 Farvardin 1325 Hs (25 Maret 1946) meninggalkan Iran menuju negaranya.
Pembunuhan Raja Faisal dari Arab Saudi
42 tahun yang lalu, tanggal 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdul-Aziz Al Saud, tewas setelah ditembak keponakannya, Pangeran Faisal Ibnu Musaed, di Ibukota Riyadh.
Transfusi darah dan pemompaan jantung yang dilakukan tim dokter gagal menyelamatkan nyawa Raja Faisal. Raja Faisal terluka parah ketika Pangeran Musaed menembakkan tiga peluru dari jarak dekat dalam suatu audiensi kerajaan.
Berdasarkan keterangan para saksi, sebelum menembak Pangeran Musaed menunggu kedatangan Raja Faisal di koridor sambil bercakap-cakap dengan sejumlah delegasi Kuwait. Saat bertemu, Raja Faisal membungkuk untuk mencium keponakannya itu. Namun Pangeran Musaed menarik sebuah pistol keluar dan menembak pamannya dari bawah dagu dan di telinga.
Seorang pengawal langsung memukul Musaed dengan pedang. Saksi mengatakan melihat Menteri Minyak Sheikh Yamani meminta pengawal itu untuk tidak membunuh si pangeran.
Kemenakan raja itu lalu ditahan dan diinterogasi mengenai pembunuhan itu. Para dokter dan psikiatris sepakat bahwa Pangeran Musaed menderita ketidakseimbangan mental.
Setelah upaya pembunuhan itu, Ibukota Riyadh ditutup selama tiga hari sebagai tanda duka cita. Saudara Raja Faisal, Khalid, ditunjuk keluarga kerajaan sebagai pengganti.
Sejarawan dan Sastrawan Bastani Parizi Wafat
2 tahun yang lalu, tanggal 5 Farvardin 1393 Hs, Doktor Mohammad Ebrahim Bastani Parizi, sejarawan dan sastrawan Iran meninggal dunia.
Bastani Parizi lahir pada 1304 Hs di Pariz, dekat Sirjan di selatan Iran. Setelah menyelesaikan pendidikan awal hingga menengah, Bastani Parizi melanjutkan pendidikannya di Universitas Tehran jurusan sejarah dan berhasil menjadi sarjana pada 1330 Hs.
Selama beberapa tahun mengajar, ia melanjutkan kembali pendidikannya hingga meraih gelar doktor di bidang sejarah. Sejak saat itu, peneliti besar Iran ini memberikan kuliah di Universitas Tehran.
Sejak muda, Doktor Bastani Parizi telah menunjukkan bakatnya dalam menulis dan menggubah syair. Ia banyak menulis artikel untuk majalah atau menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab, dan Perancis ke dalam bahasa Persia.
Doktor Bastani Parizi memiliki banyak karya yang ditinggalkan seperti DzulQarnain Ya Koroush Kabir (Dzulqarnain atau Koroush Agung), Khatoun Haft Ghaleh, Tarikh Kerman dan Talash-e Azadi yang berhasil meraih penghargaan Unesco.