Mar 27, 2017 08:14 Asia/Jakarta

Hari ini, Senin tanggal 27 Maret 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Jumadil Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Farvardin 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Abul Qasim Syatibi Wafat

 

848 tahun yang lalu, tanggal 28 Jumadil Tsani 590 HQ, Abul Qasim Syatibi ulama dan pembaca al-Quranul Karim asal Mesir, meninggal dunia.

 

Meskipun buta, Syatibi yang termasyhur dengan nama Imamul Qurra'. Selain menguasai ilmu pembacaan al-Quran, juga menguasai ilmu tajwid, nahwu, tafsir Quran, hadis, bahasa, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Dia juga sangat banyak menghapal hadis.

 

Abul Qasim Syatibi banyak meninggalkan karya di antaranya "Qasidah Syatibiah" yang berisi berbagai masalah tajwid dan telah dicetak berkali-kali di Mesir dan India.

 

Kelahiran Penemu Sinar X 

 

172 tahun yang lalu, tanggal 27 Maret tahun 1845, Wilhelm Conrad Rontgen, matematikawan dan ahli Fisika terkenal Jerman lahir ke dunia.

 

Rontgen banyak melakukan kajian dan penelitian yang berhubungan dengan sinar.

Akhirnya pada tahun 1895, saat melakukan sebuah penelitian di laboratoriumnya, secara tak sengaja ia menemukan sebuah sinar yang dapat menembus berbagai benda yang tak ditembus oleh cahaya biasa. Karena misterius, sinar ini diberinama Sinar X.

 

Pada tahun 1901, Rontgen menerima hadiah Nobel untuk Fisika. Wilhelm Conrad Rontgen meninggal pada tahun 1923 di Munich, Jerman.

 

Mirza Muhammad bin Sulaiman Tankabuni Wafat

 

136 tahun yang lalu, tanggal 28 Jumadil Tsani 1302 Hijriah, Mirza Muhammad bin Sulaiman Tankabuni, ulama dan sastrawan Iran meninggal dunia.

 

Selain ahli dalam fiqih, dia juga sastrawaan yang berilmu dan penyair yang berbakat pada zamannya. Di antara karya-karya yang ditinggalkan Tankabuni adalah "Qishahul Ulama" yang berisi penjelasan mengenai keadaan dan karya-karya sebagian ulama pada masa lampau.

 

Karya Tankabuni lainnya adalah "al-Fawaid fi Ushulid-Din" yang berisi penjelasan mengenai prinsip agama dalam bentuk bait-bait syair.

 

Kazem Zadeh Iranshahr, Penulis Kontemporer Iran Wafat

 

55 tahun yang lalu, tanggal 7 Farvardin 1340 HS, Kazem Zadeh Iranshahr meninggal dunia di Swiss dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di sana.

 

Hossein Zadeh Iranshahr Tabrizi lahir di kota Tabriz pada 1262 HS dan menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Untuk beberapa waktu ia pergi ke Kaukasus dan memilih Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya. Kazem Zadeh bergabung dengan warga Iran pencari kebebasan yang tinggal di Istanbul dan bersama mereka membentuk Asosiasi Persaudaraan Iran.

 

Dari Turki, Kazem Zadeh lalu pergi ke Mekah dan setelah itu menuju Eropa. Ia melanjutkan pendidikannya di Paris dan belajar jurnalistik. Selama di Paris, ia bersama Allamah Mohammad Qazvini mendirikan Asosiasi Sastra dan Sains Iran dan setelah beberapa waktu ia mengajar bahasa dan sastra Persia di Universitas Cambridge, Inggris.

 

Kazem Zadeh pada 1301 HS mempublikasikan majalah Iranshahr di Istanbul selama empat tahun  dan Kementerian Kebudayaan Iran mengangkatnya sebagai pemimpin mahasiswa Iran di Turki.

 

Setelah tinggal selama 19 tahun di Jerman, Kazem Zadeh memutuskan untuk pergi ke Swiss dan di sana membentuk sebuah aliran Irfan Bathini yang memiliki banyak pengikut. Selain bahasa Persia, ia menguasai bahasa Perancis, Inggris, Jerman dan Arab dan banyak menggubah syair. Ia menulis banyak karya seperti Dar Jostejou-ye Khoushbakhti, Rah-e Now, Tajalliyat-e Rouh-e Irani dan lain-lain.

 

Sekjen PBB Mengutuk Penggunaan Senjata Kimia

 

28 tahun yang lalu, tanggal 7 Farvardin 1367 HS, Sekjen PBB mengutuk penggunaan senjata kimia.

 

Sekalipun Irak di masa rezim Saddam banyak menggunakan senjata kimia dan Dewan Keamanan PBB di tahun-tahun berikutnya tidak mereaksi hal ini, Javier Perez de Cuellar, Sekjen PBB waktu itu akhirnya mengambil inisiatif mengeluarkan pernyataan mengutuk pemerintah Irak.

 

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 7 Farvardin 1367 Hs (28 Maret 1988), Sekjen PBB menyatakan penyesalannya dan menyebut memiliki banyak bukti terkait penggunaan senjata kimia di hari-hari terakhir perang Iran-Irak yang digunakan oleh rezim Saddam. Menurutnya, penggunaan senjata kimia telah merenggut banyak korban dari warga kedua negara.

 

Di bagian lain dari pernyataannya, Sekjen PBB secara transparan mengecam penggunaan senjata kimia dalam kondisi dan alasan apapun.

 

Pernyataan ini sangat penting dan jarang terjadi di PBB. Keberanian de Cuellar ini pada saat yang sama menunjukkan dirinya bersikap netral dan tidak berpihak, sehingga berhasil mempertahankan hubungannya dengan dua negara yang konflik selama 8 tahun. Sikap ini sangat berpengaruh dalam membatasi pelanggaran HAM selama masa perang dan membantu segera diakhirinya perang.