Lintasan Sejarah 19 Juni 2017
Hari ini, Senin tanggal 19 Juni 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Ramadhan 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 29 Khordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Quthbuddin Shirazi Wafat
728 tahun yang lalu, tanggal 24 Ramadan 710 HQ, Quthbuddin Shirazi, dokter, ahli matematika, fisikawan, astronom, dan filsuf besar Iran, meninggal dunia di kota Tabriz.
Quthbuddin Shirazi adalah salah satu murid Nashiruddin Thusi, ulama terkemuka pada zaman itu. Quthbuddin adalah orang pertama yang meneliti fenomena pembentukan pelangi dan berhasil menemukan penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut.
Quthbuddin Shirazi juga aktif sebagai dokter dan bertahun-tahun bekerja di rumah sakit Shiraz, Iran selatan. Dia banyak menulis buku di bidang kedokteran, hikmah, matematika, dan astronomi . Di antara karya-karyanya adalah buku berjudul Penjelasan Atas Buku "Qaanun" Ibnu Sina dan Observasi Akhir dalam Astronomi.
Maximilian Tewas
150 tahun yang lalu, tanggal 19 Juni tahun 1867, Maximilian, keturunan Austria yang menjadi raja di Meksiko, tewas dibunuh para pejuang kebebasan negara itu.
Meksiko merdeka pada tahun 1821, namun negara itu masih terus dilanda kekacauan politik. Setelah Benito Juarez pada tahun 1855 menjadi presiden, ia melakukan kebijakan liberal dan sekularisasi gereja.
Akibatnya, kekuasaan gereja yang merupakan perpanjangan tangan imperialisme negara-negara Eropa menjadi berkurang dan hal ini menimbulkan kemarahan negara-negara Eropa, terutama Perancis. Pada tahun 1866, Perancis melantik kerajaan boneka di Meksiko dengan Maximilian sebagai raja. Namun perjuangan kemerdekaan yang dilancarkan Benito Juarez mencapai hasil dengan dibunuhnya Maximilian dan Benito Juarez kembali diangkat sebagai presiden.
Jenderal Ahmad Yani Lahir
95 tahun yang lalu, tanggal 19 Juni 1922, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah.
Jenderal Ahmad Yani adalah seorang pahlawan revolusi dan nasional Indonesia. Beliau dikenal sebagai seorang tentara yang selalu berseberangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Ketika menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak tahun 1962, ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani.
Jabatan terakhir sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat(Men/Pangad) sejak tahun 1962.
Dewan Pelaksana Nasionalisasi Minyak Iran Dibentuk
66 tahun yang lalu, tanggal 19 Juni 1951, menyusul disahkannya UU Nasionalisasi minyak Iran, dibentuklah Dewan Pelaksana Nasionalisasi Minyak Iran yang terdiri dari para ahli di bidang perminyakan.
Setelah dibentuknya dewan ini, Iran melepaskan diri dari segala urusan dengan perusahaan minyak Inggris yang sebelumnya menguasai perminyakan Iran.
Pemutusan hubungan ini diikuti dengan keluarnya 450 tenaga kerja asing dari Iran dan sebagai balasan, Inggris melancarkan ancaman militer serta berbagai upaya politik untuk menggagalkan upaya nasionalisasi minyak Iran tersebut. Hari pembentukan Dewan Pelaksana Nasionalisasi Minyak Iran hingga kini diperingati rakyat Iran sebagai "hari pemutusan hubungan dengan perusahaan minyak Inggris."
Ali Syariati Wafat
40 tahun yang lalu, tanggal 29 Khordad 1356 HS, Doktor Ali Syariati, seorang cendekiawan Iran kontemporer, gugur di London akibat dibunuh oleh agen rahasia rezim Shah Pahlevi.
Ali Syariati dilahirkan pada tahun 1933 di Sabzewar, timur laut Iran. Pada saat menuntut ilmu di bidang sastra Persia, Ali Syariati aktif dalam kegiatan politik menentang rezim Shah. Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Sorbonne Perancis hingga meraih gelar doktor di bidang sejarah agama-agama.
Setelah kembali ke Iran, Doktor Ali Syariati aktif memberikan ceramah-ceramah kepada kaum muda Iran yang membahas masalah keadilan, perlawanan terhadap kezaliman, dan masalah-masalah agama yang dikaitkan dengan situasi sosial zaman itu. Pidato-pidato Ali Syariati banyak memberikan pencerahan kepada para pemuda Iran dan dia menjadi salah satu penggerak revolusi Islam di Iran.
Pidato-pidato Syariati disampaikan di Husainiah Irsyad, sebuah gedung pertemuan yang menjadi pusat penyebaran pemikiran perjuangan Islam. Di gedung tersebut, cendikiawan-cendekiawan besar lainnya, seperti Murthada Mutahhari dan Syahid Bahonar juga aktif memberikan ceramah-ceramahnya.
Dalam usianya yang pendek, Ali Syariati meninggalkan lebih dari 200 karya penulisan, di antaranya berjudul Islam dan Manusia, Sejarah Peradaban, dan Haji.