Jul 29, 2017 03:21 Asia/Jakarta

Hari ini, Sabtu tanggal 29 Juli 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 5 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Raja Olaf II Dari Norwegia Tewas

987 tahun yang lalu, tanggal 29 Juli 1030, Raja Olaf II Haraldsson dari Norwegia, tewas dalam pertempuran di Stiklestad.

Raja Olaf II dikenal sebagai raja efektif pertama di seluruh Norwegia karena berhasil melepaskan diri dari dominasi Denmark dan berhasil memperluas ajaran Kristen di negaranya. Selain itu, pada tahun 1024, Raja Olaf II juga menyusun aturan relijius yang dianggap sebagai UU Norwegia yang pertama. Olaf II adalah anak dari Lord Harald Grenske. Ia dibesarkan sebagai seorang penyembah berhala.

Ia kemudian bergabung dalam pasukan Viking dan bergabung dalam berbagai pertempuran. Pada tahun 1015,  Olaf pergi ke Perancis dan di sana dia dibaptis menjadi Kristen. Dua tahun kemudian, Olaf kembali ke Norwegia dan merebut berbagai wilayah yang diduduki oleh Denmark, Swedia, dan bangsawan Norwegia, Earl Haakon of Lade. Hingga tahun 1016, Olaf berhasil menguasai seluruh wilayah Norwegia dan menjadi raja di sana.

Selama 12 tahun kemudian, Raja Olaf II membangun kerajaan yang berbasiskan Kristen dan tanpa belas kasihan, ia memaksa rakyatnya untuk memeluk Kristen.

Sayid Ibnu Thawus Meninggal Dunia

774 tahun yang lalu, tanggal 5 Dzulqadah 664 HQ,  Ridha ad-din Ali bin Musa yang terkenal dengan nama Sayid Ibnu Thawus,  seorang ulama fiqih, hadis, sejarah, dan sastra muslim, meninggal dunia.

Sayid Ibnu Thawus menjalani masa kecil dan remajanya di tanah kelahirannya, Hilah, yang terletak di Irak. Di sana, ia mempelajari berbagai bidang ilmu agama. Sayyid Ibnu Thawus menjalani hidup dengan kezuhudan dan ketakwaan. Oleh karena itulah ia selalu menolak berbagai jabatan yang ditawarkan oleh rezim yang berkuasa saat itu, yaitu Dinasti Abbasiah.

Dia banyak meninggalkan karya-karya penulisan di bidang ilmu teologi, akhlak, fiqih, dan hadis. Sebagian besar karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan berkali-kali dicetak ulang. Di antara karya Ibnu Thawus yang terpenting aaadalah buku berjudul "al-Luhuf" yang mengisahkan kejadian di hari Asyura dan dianggap sebagai salah satu buku sejarah terkemuka.

Buku karya Ibnu Thawus lainnya berjudul "al-Malahim wal Fitan" yang berisi berbagai peristiwa sebelum dan di saat munculnya Imam Mahdi af.

Ibnu Hisham Meninggal

677 tahun yang lalu, tanggal 5 Dzulqadah 761 HQ, Ibnu Hisham, seorang ilmuwan besar Mesir, meninggal dunia pada usia 53 tahun.

Selain menguasai bidang nahwu dan  hadis, Ibnu Hisham juga dikenal sebagai ilmuwan di bidang sastra dan bahkan mampu menyusun syair. Keterkenalan Ibnu Hisham terutama karena bukunya yang berjudul "Mughni." Buku ini amat dipuji oleh kalangan ilmuwan dan menunjukkan ketinggian ilmu Ibnu Hisham.

Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim terkemuka, juga menyebut-nyebut buku ini dan menyatakan bahwa buku ini memiliki nilai yang sangat tinggi.

Selama berabad-abad, kitab "Mughni" dijadikan sebagai salah satu buku yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Bani Sadr Melarikan Diri ke Perancis

36 tahun yang lalu, tanggal 7 Mordad 1360 Hs, Bani Sadr, mantan Presiden Iran melarikan diri ke Perancis.

Bani Sadr, mantan Presiden Iran diimpeachment oleh parlemen akibat kerjasamanya dengan kelompok Munafikin, memprovokasi pertikaian di dalam negeri dan kelalaian dalam membela perbatasan Iran semasa perang serta tidak mencegah ekspansi militer Baath Irak ke perbatasan Iran.

Berdasarkan impeachment yang dilakukan parlemen, Imam Khomeini ra kemudian memberhentikannya dari posisi presiden.

Pasca pemberhentiannya, Bani Sadr lebih banyak bersembunyi dan lewat surat dan kaset ia memprovokasi rakyat untuk melakukan kekacauan. Namun hidup secara sembunyi-sembunyi yang dilakukannya tidak bertahan lama. Karena rakyat ternyata tidak terprovokasi olehnya, bahkan dalam pemilu presiden, rakyat Iran memilih Syahid Rajai sebagai presiden penggantinya.

Akhirnya, melihat situasi yang semakin tidak menguntungkan bagi dirinya, Bani Sadr pada 7 Mordad 1360 Hs dengan menyamar berpakaian wanita bersama Massoud Rajavi, Ketua Kelompok Munafikin (MKO) melarikan diri dari Iran.