Lintasan Sejarah 30 Juli 2017
Hari ini, Ahad tanggal 30 Juli 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 6 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 8 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Abul Hasan Suhrawardi Meninggal
905 tahun yang lalu, tanggal 6 Dzulqadah 533 HQ, Abul Hasan Suhrawardi, seorang ulama fikih dan matematikawan terkemuka muslim meninggal dunia.
Suhrawardi menguasai ilmu-ilmu keislaman namun ia lebih dikenal sebagai ahli matematika.
Dia menuntut ilmu dari Imam Muhammad Ghazali, ulama dan penulis besar pada zaman itu. Karya terkenal Suhrawardi adalah "Ushulul Jabr wal Muqabalah" yang hingga kini masih tersimpan dalam bentuk tulisan tangan.
Ibnu Hani Meninggal Dunia
705 tahun yang lalu, tanggal 6 Dzulqadah 733 HQ, Ibnu Hani, penyair, penulis, dan ahli philologis terkemuka dunia Islam meninggal dunia.
Ibnu Hani dilahirkan di selatan Andalusia (saat ini bernama Spanyol), setelah ia menyelesaikan pendidikan dasar, dan dalam usia yang masih remaja, ia melanjutkan studinya di perkuliahan para ulama dan pakar terkenal pada masa itu.
Dalam waktu singkat, Ibnu Hani telah menguasai berbagai displin ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sastra. Setelah itu, ia mulai mengajar dan mengkader murid-muridnya. Ibnu Hani juga dikenal sebagai penyair, dan meninggalkan sejumlah karya dalam bidang ini.
Salah satu karya peninggalan Ibnu Hani adalah kitab "Syarhu Al-Tashil." Ia syahid dalam perang merebutkan kembali teluk Jabal Thariq.
Ayatullah Meshkini Wafat
10 tahun yang lalu, tanggal 8 Mordad 1386 HS, Ayatullah Meshkini meninggal dunia di usia 86 tahun.
Ayatullah Ali Akbar Feiz yang lebih dikenal dengan Meshkini lahir pada 1300 di desa Bolouk Meshkin dari keluarga agamis. Ayahnya seorang ulama yang juga aktif mengurusi warga. Beliau mengikuti ayahnya pergi ke Najaf, Irak dan belajar di sana, lalu kembali lagi ke Iran. Selama di Iran, beliau belajar ilmu-ilmu pendahuluan hauzah kepada ayahnya. Setelah ayahnya meninggal dan sesuai dengan nasihat ayahnya, beliau pergi ke kota Ardebil untuk menuntut ilmu agama. Di sana ia sempat belajar tata bahasa Arab seperti saraf dan nahwu.
Ketika terjadi peristiwa Kashf Hejab (pelarangan jilbab) di masa Reza Khan yang menyulut protes ulama dan rakyat di Mashad, Ayatullah Meshkini kemudian pergi ke Qom dan belajar agama di sana.
Ayatullah Meshkini selama hidupnya mendirikan Yayasan al-Hadi di bidang percetakan. Beliau sendiri menulis banyak buku di pelbagai bidang. Ayatullah Meshkini juga termasuk orang pertama yang bergabung dengan kebangkitan Imam Khomeini ra dan berkali-kali ditangkap oleh SAVAK dan dipenjara.
Beliau merupakan anggota Jameeh Modarresin Hauzah Ilmiah Qom (Asosiasi Pengajar Hauzah Ilmiah Qom) dan banyak dari pernyataan yang dikeluarkan lembaga ini ditandatangani olehnya. Dengan kemenangan Revolusi Islam Iran, beliau memegang posisi-posisi penting seperti Ketua Dewan Ahli Kepemimpinan.
Pengeboman USS Indianapolis
72 tahun yang lalu, tanggal 30 Juli 1945, kapal USS Indianapolis ditorpedo kapal selam Jepang dan tenggelam dalam hitungan menit di perairan yang dipenuhi ikan hiu.
Korban yang selamat dari kejadian itu hanya 317 jiwa dari 1.196 penumpang. Akan tetapi, USS Indianapolis telah sukses menyelesaikan misi besarnya, yakni pengiriman komponen kunci bom atom ke Pulau Tinian di Pasifik Selatan. Bom atom itu baru akan dijatuhkan seminggu kemudian di Hiroshima.
Perkara tenggelamnya kapal Indianapolis disidangkan di pengadilan militer. Di sana Kapten Charles McVay dinyatakan bersalah karena gagal melakukan pelayaran berute zig-zag yang semestinya bisa menyelamatkan kapal dari serangan musuh. Namun, banyak awak kapal yang selamat berpendapat bahwa McVay hanya dijadikan kambing hitam. Barulah pada 2000, 55 tahun setelah Indianapolis tenggelam, Kongres AS menjernihkan nama McVay.
Kecelakaan Pesawat Penumpang dan Jet di Jepang
46 tahun yang lalu, tanggal 30 Juli 1971, sebuah kecelakaan udara antara Boeing 7727 dan pesawat tempur menewaskan 162 orang. Setelah diselidiki, pesawat militer melakukan penerbangan tanpa menggunakan radar.
Pesawat All Nippon Airways 58 melakukan perjalanan dari Bandara Chitose, Hokkaido, ke Tokyo, dengan sebagian besar penumpang yang akan memberikan bantuan untuk korban perang. Namun saat berada di atas ketinggian Pegunungan Alpen, pesawat penumpang itu bertabrakan dengan dua pesawat jet militer.
Diduga, terjadi kesengajaan dalam peristiwa itu karena pilot pesawat jet militer, Yoshimi Ichikawa, mampu menyelamatkan dirinya dengan keluar dari pesawat dan menggunakan parasut keselamatan. Yoshimi didakwa atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana, tetapi ia dibebaskan dalam pengadilan.