Lintasan Sejarah 2 Agustus 2017
Hari ini, Rabu tanggal 2 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 9 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 11 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Nasir Khusraw Qubadiani Lahir
1044 tahun yang lalu, tanggal 9 Dzulqadah 394 HQ, Nasir Khusraw Qubadiani, seorang penyair dan penulis termasyhur Iran, terlahir ke dunia di kota Balkh, yang kini termasuk wilayah Afganistan.
Sejak kecil, Nasir Khusraw telah mempelajari berbagai ilmu yang berkembang di zamannya dan telah menghapal al-Quran. Selain mahir di bidang sastra Persia, Nasir Khusraw juga menguasai ilmu hitung, teknik sipil, astronomi, kedokteran, farmasi, dan teologi.
Kehidupan Nasir Khusraw penuh dengan lika-liku. Awalnya, ia bekerja sebagai sekretaris dalam pemerintahan Mahmoud dan Masoud Ghaznavi. Namun, setelah terjadi perubahan pemikiran dalam dirinya, Nasir Khusraw meninggalkan dunia politik dan melakukan penelitian di bidang agama.
Ia juga melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Hasil perjalanannya itu dicatatnya dalam buku "Safar Nameh". Dia juga banyak meninggalkan karya penulisan lain, di antaranya berjudul "Wajhud-Din" dan "Raushan-naiy Nameh".
Ayatullah Sheikh Fazlollah Nouri Gugur
108 tahun yang lalu, tanggal 11 Mordad 1288 HS, Ayatullah Sheikh Fazlollah Nouri, seorang ulama dan pejuang besar Iran, gugur syahid kerana digantung oleh antek-antek kolonialis.
Ayatullah Sheikh Fazlollah Nouri adalah ahli fiqih garis depan di Teheran dan sangat berjuang keras dalam menyebarkan pemikiran Islam dan paham keadilan. Ayatullah Nouri merupakan salah satu pemimpin utama perjuangan kaum ruhaniwan dan rakyat Iran dalam melawan dinasti Qajar dan dalam Revolusi Konstitusional. Namun, setelah dibentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai hasil dari Revolusi Konstitusional tersebut, Ayatullah Nouri mendapati bahwa sebagian undang-undang yang disepakati oleh majelis tidak sesuai dengan pandangan Islam.
Oleh karena itulah beliau dan sejumlah pejuang lainnya mengadakan aksi protes di makam Sheikh Abdul Adzhim di kota Rey, selatan Teheran. Akhirnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat bersedia mengubah undang-undang dasar yang tidak sesuai dengan pandangan Islam tersebut dan Ayatullah Nouri kembali ke Teheran. Setelah direbutnya kota Tehran dan berakhirnya despotisme, antek-antek kolonialis memanfaatkan situasi untuk melindungi despotisme dengan membunuh Ayatullah Nouri.
Irak Dipastikan Gunakan Senjata Kimia Terhadap Iran
29 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus 1988, komisi penelitian PBB yang dikirim ke Iran dan Irak, dengan mengeluarkan dua laporannya, menyatakan bahwa Irak selama peperangan melawan Iran telah berkali-kali menggunakan senjata kimia.
Ini adalah pengakuan terang-terangan pertama dari PBB mngenai penggunaan senjata kimia tentara Irak terhadap Iran. Namun, Dewan Keamanan PBB sama sekali tidak mengeluarkan resolusi apapun dalam menanggapi penggunaan senjata kimia ini.
Senjata kimia yang digunakan secara luas dan menyerang tidak saja tentara Iran, melainkan juga rakyat sipil Iran, sama sekali tidak ditanggapi oleh PBB. Alasannya adalah demi melindungi kepentingan Barat yang bekerja sama dengan Irak dalam memproduksi senjata kimia tersebut.
Oleh karena itulah, beberapa jam setelah laporan tersebut disiarkan, kota Ashnawieh di bagian barat Iran dibombardir dengan bom kimia dan melukai 2400 penduduk kota itu. Komisi penelitian PBB juga mengakui adanya penyerangan bom kimia di Ashnawieh yang dilakukan setelah diadakannya perjanjian gencatan senjata antara Irak dan Iran ini.
Invasi Irak ke Kuwait
27 tahun yang lalu, tanggal 2 Agustus 1990, tentara Irak menginvasi negara tetangganya, Kuwait.
Invasi ini merupakan invasi Irak kedua setelah sebelumnya di tahun 1980 menyerang Iran. Sebelumnya, Rezim Saddam selalu menyatakan bahwa kawasan Kuwait adalah provinsi Irak yang ke-19. Invasi ke Kuwait ini bertujuan untuk mengambil alih kekayaan minyak Kuwait dan dengan demikian, Rezim Saddam berharap bisa menjadi pemimpin dunia Arab. Namun, invasi Irak ke Kuwait ini mendapat reaksi negatif yang sangat besar dari dunia internasional.
Dunia internasional dan PBB menngecam invasi Irak ini dan memerintahkan agar Irak keluar dari Kuwait. Kemudian, sejumlah negara dengan dipimpin oleh AS mengirimkan pasukannya ke Teluk Persia dengan tujuan untuk mengusir Irak. Meskipun telah dilakukan berbagai macam lobi politik selama tujuh bulan, tentara Irak tetap bertahan di Kuwait.
Akhirnya, pasukan aliansi pimpinan AS melakukan penyerbuan ke Irak hingga menimbulkan kerugian dan kerusakan yang sangat besar bagi tentera dan rakyat Irak. karena serangan pasukan aliansi itu, pada tanggal 28 Februari 1991, Irak mengakhiri aneksasinya di Kuwait.