Lintasan Sejarah 7 Agustus 2017
Hari ini, Senin tanggal 7 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 14 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 16 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ayatullah Dzun-Nuri Lahir
144 tahun yang lalu, tanggal 14 Dzulqadah 1294 HQ, Ayatullah Dzun-Nuri, seorang ulama dan cendikiawan muslim terkemuka asal Tabriz, Iran, terlahir ke dunia.
Sejak kecil, beliau telah mempelajari ilmu-ilmu agama dan sastra Arab dan kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke Najaf, Irak.
Setelah meraih derajat mujtahid, beliau kembali ke Iran dan mengabdikan hidupnya di bidang pengajaran dan penulisan buku. Di antara karya-karya yang ditinggalkan oleh Ayatullah Dzun-Nuri adalah buku berjudul “Qadha wa Syahadat” dan “Syarhi bar Urwatul Wutsqa”.
Imam Khomeini Perintahkan Pembentukan Jihad Universitas
37 tahun yang lalu, tanggal 16 Mordad 1359 HS, Imam Khomeini ra perintahkan dibentuknya Jihad Universitas.
Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, kondisi masyarakat belum disterilkan dari budaya taghut dan simbol-simbolnya masih bertebaran di mana-mana. Selain itu, para anasir aktif taghut di universitas-universitas selain berusaha mencegah penyebaran budaya Islam. Akibatnya, para mahasiswa bangkit menghadapi masalah ini dan meliburkan universitas-universitas.
Imam Khomeini ra mendukung gerakan para mahasiswa ini dan mengeluarkan perintah pembentukan lembaga revolusioner bernama Jihad Daneshgahi atau Jihad Universitas. Setelah terbentuknya staf revolusi budaya, budaya Barat mulai dihapus perlahan-lahan dari pusat-pusat keilmuan dan budaya Iran. Pusat budaya yang menjadi staf pelaksana revolusi budaya ini pada 1363 HS berubah nama, sehingga pada 1364 HS setelah universitas-universitas berdiri sendiri dan terpisah dari Kementerian Budaya dan Pendidikan Tinggi, masalah Jihad Universitas dibicarakan kembali.
Berdasarkan anggaran dasar lembaga ini, Jihad Universitas bersifat umum dan non pemerintah, serta berada di bawah pengawasan Dewan Tinggi Revolusi Budaya. Sejak tahun 1369 HS, Jihad Universitas ditentukan sebagai lembaga di luar universitas dan menjadi jembatan antara universitas dan sektor industri serta jasa Iran.
AS, Lebanon, PLO TandaTangani perjanjian
35 tahun yang lalu, tanggal 7 Agustus 1982, AS, Lebanon, dan organisasi pembebasan Palestina atau PLO menandatangani perjanjian yang berisi penarikan mundur pasukan PLO dari Beirut, ibu kota Lebanon.
Perjanjian ini dilakukan menyusul serangan meluas yang dilancarkan rezim Zionis ke Lebanon sejak bulan Juli tahun 1982 dengan tujuan mengusir tentara PLO keluar dari Libanon. Meskipun tentara Zionis memiliki perlengkapan militer yang sangat canggih, tetapi tentara PLO berhasil melakukan perlawanan selama 80 hari.
Namun akhirnya, ketua PLO, Yaser Arafat, bersedia menarik 12.000 pasukannya keluar dari Libanon dan kemudian berpangkalan di delapan negara Arab lainnya. Meskipun demikian, kehadiran tentara Zionis di Lebanon terus mendapatkan pelawanan dari pejuang muslim Lebanon, sampai akhirnya tentara Zionis terpaksa angkat kaki dari wilayah itu pada tahun 2000.
Bom Teror Dua Kedubes AS di Afrika
19 tahun yang lalu, tanggal 7 Agustus 1998, sedikitnya 200 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang luka-luka setelah serangan bom teror atas dua Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Afrika, masing-masing di Kenya dan Tanzania.
Dua insiden itu terjadi bersamaan dalam selisih beberapa menit. Ledakan pertama terjadi di Kedubes AS di Dar es Salaam, ibukota Tanzania.
Lima menit kemudian, bom menghancurkan gedung Kedubes AS di ibukota Kenya, Nairobi. Ledakan di Nairobi melukai Duta Besar AS, Prudence Bushnell.
Georgia menyerang Ossetia Selatan
9 tahun yang lalu, tanggal 7 Augustus 2008, pasukan tentara Georgia dengan dukungan dari Amerika menyerang ke kawasan Ossetia Selatan yang terletak di utara negara ini.
Dalam serangan ini ratusan warga sipil tewas atau luka-luka. Sehari kemudian, tentara Rusia yang memberi dukungan kepada milisi pendukung kemerdekaan Ossetia Selatan berhasil memukul mundur tentera Georgia. Menyusul kemudian Russia bersama para milisi berhasil menguasai pelabuhan penting Batumi dan mendekati Tiblisi, ibu kota negara ini.
Akhirnya Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy turun tangan sebagai mediator dan akhirnya Rusia pada 12 Agustus bersedia menarik tentaranya dari Georgia. Dalam hal ini Moskow mengakui secara resmi kemerdekaan dua kawasan Ossetia Selatan dan Abkhazia di Georgia. Langkah Rusia terhadap Georgia dinilai sebagai peringatan Moskow kepada pemerintah-pemerintah barat khususnya Amerika terkait perluasan NATO ke Eropa Timur dan negara-negara bekas Uni Soviet.