Aug 13, 2017 03:51 Asia/Jakarta

Hari ini, Ahad tanggal 13 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Wafatnya Penyair Maroko, Abu Zayd Al-Qayrawani

982 tahun yang lalu, tanggal 20 Dzulqadah 456 HQ, Abu Zayd al-Qayrawani, penyair Maroko meninggal dunia pada usia 66 tahun

Abu Muhammad Abdullah ibn Abi Zayd al-Qayrawani adalah seorang penyair, sastrawan dan kritikus Maroko yang lahir pada tahun 390 HQ. Abu Zayd al-Qayrawani sejak kecil telah mempelajari syair dan sastra serta ilmu-ilmu lainnya. Demi mempelajari lebih dalam kepada para ilmuwan besar, ia kemudian pindah ke kota Qayrawan yang terletak di selatan Tunisia yang pada masa itu menjadi pusat peradaban Islam di Afrika Utara dan Andalusia.

Setelah memperdalam kemampuannya di bawah bimbingan guru-guru hebat, Abu Zayd al-Qayrawani mampu meningkatkan kemampuannya di bidang puisi dan sastra. Syair-syair al-Qayrawani dari sisi makna, pujian, deskripsi dan gazal merupakan gambaran dari tahapan kehidupan sosial dan sastranya.

Di sisi lain, al-Qayrawani juga menciptakan metode baru di bidang kritik sastra. Sebelumnya, kritik sastra hanya sampai pada pengantar dan penjelasan, al-Qayrawani mengubah kritik sastra hingga menjadi satu mazhab pemikiran di bidang ini.

Abu Zayd al-Qayrawani banyak meninggal karya dalam bentuk manuskrip dan sebagian telah dicetak dan diterbitkan. Kebanyakan karya mengulas tentang jenis-jenis puisi dan para penyair Qayrawan.

Mohammad Reza Memecat Doktor Mosaddegh

64 tahun yang lalu, tanggal 22 Mordad 1332 HS, Mohammad Reza, raja terakhir dari Dinasti Pahlevi di Iran, secara ilegal memecat Doktor Mosaddegh dari jabatan perdana menteri dan menggantikannya dengan Mayor Jenderal Zahedi.

Keputusan Reza Shah ini diambil atas desakan AS dan Inggris karena pemerintahan Mosaaddegh, dengan dukungan rakyat, telah menasionalisasi minyak Iran. Untuk menghindarkan diri dari dampak keputusannya itu, Reza Shah pergi ke utara Iran.

Setelah usaha penyingkiran Mosaddegh tersebut gagal, Shah kemudian melarikan diri ke Irak, lalu ke Italia. Namun, enam hari kemudian, AS dan Inggris mendalangi kudeta terhadap pemerintahan Mosaddegh. Setelah Mosaddegh tersingkir, Reza Shah kembali ke Iran untuk meneruskan pemerintahan despotiknya dengan dukungan AS dan Inggris yang berkeinginan menguras habis sumber-sumber minyak Iran.

Afrika Tengah Merdeka

57 tahun yang lalu, tanggal 13 Agustus 1960, Afrika Tengah meraih kemerdekaannya dari Perancis.

Negara yang semula bernama "Ubangi Shari" ini pada abad ke-19 menjadi jajahan Perancis. Pada tahun 1958, Afrika Tengah diberi status otonomi khusus oleh Perancis dan baru dua tahun kemudian meraih kemerdekaan penuh dan memiliki pemerintahan berbentuk republik.

Afrika Tengah memiliki luas wilayah 623.000 kilometer persegi, terletak di bagian tengah benua Afrika, dan berbatasan dengan Sudan, Chad, Kamerun, dan Republik Demokratik Kongo.

Tembok Berlin Dibangun

56 tahun yang lalu, tanggal 13 Agustus 1961, pemisahan kedua Jerman mulai terlihat jelas saat tentara Jerman Timur, yang didukung Uni Soviet, memasang kawat berduri dan batu-batu bata.

Pembangunan itu membelah Berlin menjadi dua, bagian timur dikendalikan Soviet dan di bagian barat diawasi oleh tiga negara demokratik, yaitu Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis.

Beberapa tahun berikutnya, pembatas itu dibuat permanen sehingga dikenal dengan nama Tembok Berlin. Tembok itu tak hanya membelah Jerman, yaitu Jerman Timur dan Jerman Barat, namun juga menjadi ikon Perang Dingin - yang sarat dengan persaingan politik dan militer antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Dalam 12 tahun sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, antara 2,5 juta hingga 3 juta warga Berlin Timur eksodus ke Berlin Barat demi mencari penghidupan yang lebih baik. Sedangkan di tengah masa pembangunan Tembok itu, sebanyak 1.000 warga di Berlin Timur setiap hari mengungsi ke Barat.

Itulah sebabnya pemerintah komunis Jerman Timur, dengan restu Soviet, tidak hanya membangun tembok, namun juga menerapkan penjagaan bersenjata untuk mencegah eksodus berikut.

Pada 9 November 1989, seiring dengan pudarnya dominasi Soviet, rakyat di Jerman Timur memutuskan untuk merubuhkan Tembok Berlin. Perubuhan itu akhirnya mengarahan kepada penyatuan kembali Jerman sejak 3 Oktober 1990.