Lintasan Sejarah 22 Agustus 2017
Hari ini, Selasa tanggal 22 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Dzulqadah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 31 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Imam Jawad Diracuni Isterinya
1218 tahun yang lalu, tanggal 29 Dzulqadah 220 HQ, Imam Jawad as diracuni istrinya atas perintah Khalifah Mu’tasim.
Setelah mensyahidkan Imam Ridha as, Khalifah Makmun meminta Imam Jawad as, anak Imam Ridha as agar pindah dari Madinah ke kota Baghdad. Makmun kemudian mengawinkan anak perempuannya Ummul Fadhl yang dinilai pengikut Syiah sebagai perkawinan paksaan dengan tujuan politis dengan Imam Jawad as. Imam Jawad as tidak memiliki anak dari perkawinannya dengan Ummul Fadhl. Anak-anak beliau berasal dari perkawinannya dengan Sumanah al-Maghribiya.
Pasca kekhalifahan Makmun, saudaranya Mu'tasim menjadi khalifah. Ia tidak dapat menahan kebenciannya setiap kali mendengarkan kesempurnaan dan keutamaan akhlak Imam Jawad as. Akhirnya ia memanggil Imam Jawad as agar tinggal di Baghdad. Ketika hendak berangkat, beliau harus berpisah dengan anak tercintanya Ali an-Naqi dan kuburan kakeknya Rasulullah Saw. Imam Jawad as tiba di Baghdad pada 28 Muharram 220 HQ.
Mu'tasim mengetahui bahwa Ummul Fadhl tidak begitu suka kepada Imam Jawad as. Karena beliau lebih memperhatikan ibu Imam ali an-Naqi as. Oleh karenanya, Ummul Fadhl senantiasa mengadukan beliau kepada Mu'tasim. Bahkan hal ini telah dilakukan berkali-kali di masa hidupnya Ma'mun, tapi tidak didengarkan olehnya. Ma'mun tahu benar mengganggu Imam Jawad as tidak maslahat bagi kekhalifahannya.
Pada akhirnya, Mu'tasim berhasil meyakinkan Ummul Fadhl untuk membunuh Imam Jawad as. Untuk itu ia mengirimkan racun kepada Ummul Fadhl agar dicampurkan ke dalam minuman beliau. Imam Jawad as syahid pada 29 Dzuqadah 220 HQ akibat racun yang diberikan istrinya.
Perang La Rochelle Pecah di Perancis
389 tahun yang lalu, tanggal 22 Agustus 1628, terjadi Perang "La Rochelle" di Perancis, yang merupakan perang terakhir antara kaum Katolik dan Protestan.
Perang ini dimulai oleh kaum Protestan Inggris. Kaum Katolik yang dilindungi oleh tentara Perancis di bawah pimpinan Kanselir Perancis saat itu, Richelieu, berjuang melawan kaum Protestan dan mempertahankan kota La Rochelle.
Perang berakhir satu tahun kemudian dengan kemenangan kaum Katolik dan pembebasan kota La Rochelle dari penguasaan Protestan.
Perjanjian Segi Tiga Rusia, Polandia, dan Denmark
319 tahun yang lalu, tanggal 22 Agustus 1698, ditandatangani Perjanjian Segitiga antara tiga negara yaitu Rusia, Polandia, dan Denmark.
Para raja di ketiga negara tersebut bermaksud mengalahkan Raja Swedia yang masih muda, Carol Ketiga, dan menjajah Swedia. Oleh karena itu, dua tahun kemudian, pada bulan April tahun 1700, negara-negara anggota Perjanjian Segitiga itu menyerang Swedia.
Raja Carol Ketiga berjuang mempertahankan negerinya dan berhasil mengalahkan tiga negara tersebut. Setelah mengadakan perdamaian dengan Denmark, pada tahun 1704, Raja Carol Ketiga menyerang Polandia dan menjajah negeri itu. Selanjutnya, Raja Swedia itu menyerang Rusia, namun gagal meraih kemenangan.
Pesan Imam Khomeini Menyusul Pembakaran Bioskop Rex
40 tahun yang lalu, tanggal 31 Mordad 1356 HS, Imam Khomeini ra mengirimkan pesan terkait pembakaran bioskop Rex oleh anasir Shah Pahlevi.
Pasca terjadinya kejahatan biadab pembakaran bioskop Rex, Abadan oleh anasir Shah Pahlevi, Imam Khomeini ra dalam sebuah pesan dari Najaf, Irak kepada rakyat Abadan beliau mengingatkan bahaya yang sama di kota-kota lain yang akan dilakukan oleh rezim Pahlevi. Untuk itu Imam meminta kepada para orator dan siapa saja untuk memberikan pencerahan dan informasi kepada rakyat Iran.
Di bagian dari pesan penting Imam Khomeini ra yang dikeluarkan pada 31 Mordad 1356 HS terkait kejahatan bioskop Rex disebutkan:
"Saya tidak percaya ada seorang muslim atau manusia yang akan melakukan kebiadaban seperti ini, kecuali orang-orang yang biasa melakukan kejahatan yang sama. Pernyataan Shah yang menyebutkan para demonstran yang menentang saya akan merasakan "ketakutan besar" dan mengulangi pernyataannya setelah peristiwa bioskop Rex, yang merupakan janji sebelumnya, adalah bukti konspirasi. Musibah besar ini bagi Shah sebuah pekerjaan besar untuk melakukan propaganda di dalam dan luar negeri dan memberikan tanda dan perintah kepada media-media di dalam dan luar negeri untuk menipu masyarakat dengan menyebutkan kejahatan ini dilakukan oleh rakyat tertindas Iran. Dengan demikian mereka ingin memperkenalkan kepada negara-negara internasional bahwa rakyat Iran yang menuntut hak dan kebenaran merupakan masyarakat yang tidak mengenal kemanusiaan dan Islam."
Rezim Pahlevi pada 28 Mordad 1357 HS membakar bioskop Rex di Abadan yang mengakibatkan 377 orang meninggal dunia.