Lintasan Sejarah 29 Agustus 2017
Hari ini, Selasa tanggal 29 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 7 Dzulhijjah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Shahrivar 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Imam Baqir as Gugur Syahid
1324 tahun yang lalu, tanggal 7 Dzulhijjah 114 HQ, Imam Muhammad Baqir as, keturunan Rasulullah generasi keempat gugur syahid pada usia 57 tahun.
Beliau dilahirkan pada tahun 57 Hijriah di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Ali Zainal Abidin as, imam ke-4 dan putra Imam Husein as. Setelah Imam Zainal Abidin gugur syahid, Imam Baqir pun melanjutkan tampuk kepemimpinan umat Islam. Saat itu, kekhalifahan Islam berada di tangan Dinasti Umayah yang kekuatannya semakin melemah. Pada masa hidup Imam Baqir, terjadi perpindahan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke Dinasti Abbasiah.
Namun, kedua pemerintahan itu memiliki kesamaan, yaitu membenci kepemimpinan Ahul Bait di tengah kaum Muslimin. Setelah Imam Ali Zainal Abidin dibunuh oleh khalifah Dinasti Umayah, Imam Baqir as pun dibunuh oleh khalifah Dinasti Abbasiah.
Selama masa hidup beliau yang singkat, Imam Muhamad Baqir as sangat aktif mengembangkan dan menyebarkan ajaran serta keilmuan Islam di tengah masyarakat. Beliau mendirikan pusat pendidikan besar agama Islam yang dipenuhi dengan murid-murid yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Ketinggian ilmu Imam Muhammad Baqiras membuat beliau dijuluki Baqirul Ulum, yang artinya pemecah inti ilmu.
Imam Muhammad Baqir dimakamkan di pekuburan Baqi, di kota Madinah, di samping makam ayahandanya, Imam Zainal Abidin dan Kakeknya Imam Hasan Mujtaba yang juga gugur syahid dibunuh oleh khalifah yang berkuasa saat itu.
Ayatullah Marashi Najafi Wafat
27 tahun yang lalu, tanggal 7 Shahrivar 1369 HS, Ayatullah Marashi Najafi meninggal dunia di usia 96 tahun dan dikuburkan di jalan masuk perpustakaan yang dibangunnya.
Ayatullah Sayid Shihab ad-Din bin Sayid Mahmoud bin Sayid al-Hukama Tabrizi Marashi Najafi lahir di kota suci Najaf, Irak pada 1276 HS. Ayahnya adalah seorang ahli hukum dihormati yang mengajar di hauzah Najaf, dan itu di bawah bimbingan ayahnya, beliau mulai pendidikan agamanya. Dia kemudian pergi ke Samarra dan Kazhimiah untuk pendidikan tinggi.
Setelah itu beliau pindah ke Mashad, sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke kota Qom dan menyelesaikan pendidikan agama tingkat mujtahid di bawah bimbingan Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Selain teologi dan fiqih, beliau juga belajar matematika, astronomi, dan obat-obatan dari berbagai macam ahli.
Di Qom, beliau menjadi ulama terkemuka dan mulai memberikan kuliah-kuliah agama dan diakui sebagai marji dari sejumlah ulama besar lainnya. Beliau mengabdikan usianya selama 70 tahun untuk mengajar dan mendidik ulama besar lainnya seperti Syahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Ibrahim Amini, Sheikh Hossein Mazhahiri, Sayid Ali Qazi Thathabai, dan Sayid Murtadha Askari.
Beliau juga meninggalkan sebuah perpustakaan besar di kota Qom yang memiliki khazanah kitab yang cukup besar. Perpustakaan ini termasuk ketiga terbesar di Dunia Islam dan saat ini memiliki sekitar 250 ribu kitab dan 2500 manuskrip.
Katrina Melanda Tiga Negara Bagian Amerika Selatan
12 tahun yang lalu, tanggal 29 Agustus 2005, badai topan Katrina melanda pesisir tiga negara bagian di Amerika Selatan yang terletak di Teluk Meksiko.
Rakyat di tiga negara bagian ini menjadi korban badai topan yang merupakan topan terburuk dalam satu dekade lalu. Kota New Orleans ibu kota Lousiana tenggelam dalam air. Lebih dari seribu orang tewas dan ratusan lainnya menjadi pengungsi.
Satu hal yang akan senantiasa dicatat oleh sejarah dalam bencana ini ialah sikap pemerintah Amerika yang lambat dalam memberi bantuan kepada korban. Reaksi terhadap foto-foto tragis dan memilukan para korban di kota New Orleans memberikan tamparan hebat terhadap pemerintah Gedung Putih. Pemerintah Presiden Bush pun dihadapkan dengan skandal besar dan untuk menekan kritikan publik, dia pun terpaksa menyingkirkan sejumlah pejabat tinggi AS.