Aug 31, 2017 05:02 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 31 Agustus 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 9 Dzulhijjah 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Shahrivar 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Hari Arafah, Hari Para Pecinta Ilahi

Tanggal 9 Dzulhijjah dalam sejarah dikenal dengan nama Hari Arafah dan termasuk hari-hari besar Islam, sekalipun tidak disebut sebagai hari raya atau ied.

Di hari ini Allah Swt menyeru hamba-hamba-Nya agar beribadah dan melakukan ketaatan. Allah sendiri mempersiapkan segalanya kepada mereka yang melakukan ibadah dan berdoa di hari ini. Pada hari penuh berkah ini setan begitu terhina dan marah.

Sejak tergelincirnya mata hari pada tanggal 9 Dzulhijjah, para jamaah haji melakukan ibadah wukuf di padang Arafah. Banyak hadis yang menyebutkan keutamaan melakukan wukuf di padang Arafah. Sementara saat matahari terbenam, para jemaah haji bergerak dari Arafah menuju Masy’ar al-Haram dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan manasik haji.

Malaysia Merdeka

60 tahun yang lalu, tanggal 31 Agustus 1957, Malaysia meraih kemerdekaannya dari Inggris. Masyarakat Malaysia  sejak abad ke-13 secara bertahap mengenal Islam.

Pengaruh Eropa masuk ke negara ini pada awal abad ke-16 dengan masuknya Alburquerque, pelaut Portugis. Pada abad ke 17, Belanda menguasai Malaysia. Kemudian pada tahun 1824 atas perjanjian antara Belanda dan Inggris, Malaysia diserahkan kepada Inggris dan Indonesia diserahkan kepada Belanda.

Pemerintahan Malaysia berbentuk federasi dan tiap negara bagian dipimpin oleh seorang Sultan. Wilayah Malaysia terdiri dari dua bagian terpisah di tepi Laut Cina Selatan. Luas wilayah negara ini adalah sekitar 330 ribu kilometer persegi dan berbatasan dengan Indonesia dan Thailand.

Imam Musa Sadr Hilang

39 tahun yang lalu, tanggal 9 Shahrivar 1357 HS, Imam Musa Sadr dinyatakan hilang setelah diundang ke Libya.

Imam Musa Sadr lahir di kota Qom pada 1307 HS. Setelah menyelesaikan  pendidikan dasar agamanya, beliau kemudian belajar kepada ayahnya Ayatullah Sayid Sadr ad-Din, Ayatullah Sayid Mohammad Mohaqqeq Damad, Sayid Hossein Boroujerdi dan Imam Khomeini ra. Setelah itu beliau menuju kota Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya di sana hingga mencapai mujtahid.

Pasca wafatnya Ayatullah Sayid Abdul Husein Syarafuddin, Imam Musa Sadr memegang tampuk kepemimpinan Syiah Lebanon. Di masa kepemimpinannya, beliau berhasil mengubah kondisi budaya, sosial dan politik warga Syiah di Lebanon Selatan dan untuk itu beliau menggagas pendirian "Harakah al-Mahrumin" (Gerakan Pengentasan Kemiskinan).

Pejuang Islam yang tak kenal lelah ini senantiasa berusaha menciptakan persatuan antara negara-negara Arab dan memobilisasi mereka mengisolasi rezim Zionis Israel. Beliau melakukan perjalan ke negara-negara Arab untuk memperkuat Harakah al-Mahrumin dan membeli senjata. Perlahan-lahan beliau menjadi tokoh politik penting internasional.

Ketika Libya mengundang Imam Musa Sadr ke negaranya, dalam perjalanan ke negara ini, pada 9 Shahrivar 1357 HS, beliau menghilang dan tidak ada kabarnya. Sekalipun banyak berita tentang beliau yang kontradiktif mengenai apakah beliau masih hidup atau tidak, tapi tidak ada dokumen yang betul-betul dapat dipercayai mengenai nasib beliau.

Tragedi di Irak

12 tahun yang lalu, tanggal 31 Augustus 2005, hampir seribu orang umat Islam Irak tewas saat menghadiri acara peringatan haul di kota Kazhimain yang berdekatan dengan kota Bagdad.

Pada hari itu, hampir lebih dari satu juta umat Islam Irak turut serta dalam acara peringatan hari kesyahidan Imam Musa Kazhim as, Imam ketujuh mazhab syiah ini.

Kejadian itu bermula saat sejumlah orang misterius memprovokasi orang yang berbarengan dengan suara beberapa ledakan menyebabkan kerumunan berusaha keluar dari tempat kejadian. Akibatnya ratusan orang tewas dan cidera terinjak dan kejatuhan reruntuhan jembatan yang roboh.