Lintasan Sejarah 28 Oktober 2017
Hari ini, Sabtu tanggal 28 Oktober 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 8 Shafar 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Aban 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Salman Al-Farisi Wafat
1404 tahun yang lalu, tanggal 8 Shafar 35 HQ, Salman Al-Farisi, salah seorang sahabat besar Rasulullah Saw meninggal dunia.
Salman adalah orang Iran pertama yang memeluk agama Islam. Selama mendampingi Rasulullah Saw, Salman dikenal karena ketinggian ilmunya, kesetiaannya kepada Islam, serta sifat-sifatnya sangat mulia. Karena semua keistimewaannya itu, Salman bahkan diakui oleh Rasulullah sebagai bagian dari Ahli Bait atau keluarga Nabi.
Saat perang Ahzab digelar, peranan Salman dalam mempertahankan kota Madinah dicatat oleh para sejarawan ketika memberikan ide pembuatan parit di sekeliling kota Madinah. Parit inilah yang menjadi benteng pelindung kota dari pasukan gabungan musyrikin yang jumlahnya mencapai 10.000 orang itu.
Setelah Rasulullah Saw wafat, Salman tetap menunjukkan loyalitasnya kepada Ahl Bait Nabi. Ia adalah sahabat setia Imam Ali as dalam suka dan duka. Saat Imam Ali dibaiat sebagai khalifah, Salman mendapat tugas sebagai salah satu gubernur utusan Imam Ali.
Pembunuhan Massal Penduduk Palestina
69 tahun yang lalu, tanggal 28 Oktober 1948, pada era Perang Arab-Israel Pertama, tentara Zionis membunuh massal warga desa ad-Dawaimah di kawasan pendudukan Palestina.
Tentara Zionis menyerang masjid di desa ini dan membunuh 75 kaum muslim Palestina yang sedang sholat di sana. Kemudian, mereka membunuh 35 keluarga yang tengah bersembunyi di sebuah gua di luar desa. Setelah membunuh seluruh warga desa itu, tentara Zionis kemudian meratakan desa tersebut dengan tanah.
Pada tahun 1984, ketika para pejabat PBB meminta penjelasan dari wakil Israel di PBB mengenai pembunuhan massal di desa itu, para wakil Israel tersebut mengingkari keberadaan desa dengan nama Ad-Dawaimah untuk menutup-nutupi kekejaman yang telah mereka lakukan.
Imam Khomeini ra Tolak Rencana Fahd Soal Perdamaian Palestina-Israel
36 tahun yang lalu, tanggal 6 Aban 1360 HS, Imam Khomeini ra tolak rencana Raja Fahd soal perdamaian Palestina-Israel.
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan setelah penandatanganan perjanjian damai Camp David antara pemerintah Mesir dan rezim Zionis Israel yang dimediasi Amerika, rezim-rezim yang menjual dirinya di Timur Tengah mulai mengikuti jejak Mesir untuk berdamai dengan Israel.
Fahd bin Abdul Aziz yang waktu itu merupakan Pangeran Mahkota Arab Saudi pada tanggal 18 Mordad 1360 (9 Agustus 1981) mengusulkan sebuah rencana yang berisikan sejumlah poin; pertama, Israel harus mundur dari seluruh daerah yang didudukinya, termasuk Baitul Maqdis. Kedua, tidak adanya jaminan hak bagi warga Palestina yang ingin pulang, terutama pemberian ganti rugi atas kerugian yang dialami selama ini. Ketiga, jaminan hak bagi seluruh negara di Timur Tengah untuk hidup secara damai.
Poin ketiga merupakan poin paling cerdik untuk mengakui secara resmi rezim Zionis Israel Hal ini pula yang membuat dunia Islam tidak mengakui rencana ini.
Imam Khomeini ra saat mereaksi rencana ini pada tanggal 6 Aban 1360 Hs (28 Oktober 1981) dalam sebuah pidatonya mengatakan, "Wajib bagi kami dan setiap muslim menolak rencana-rencana seperti yang dilakukan oleh Anwar Sadat dan Fahd bin Abdul Aziz. Wajib bagi kita untuk mengecam setiap rencana yang tidak berpihak kepada orang-orang tertindas (mustadhafin). Hari ini, tidak ada yang lebih berbahaya dari perjanjian Camp David dan rencana Fahd yang memperkuat Israel dan kejahatannya. Ide-ide semacam ini membuat munculnya perpecahan dan membuka jalan bagi Israel."