Lintasan Sejarah 18 April 2018
Hari ini, Rabu tanggal 18 April 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 1 Sya'ban 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 29 Farvardin 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Thawus Meninggal Dunia
746 tahun yang lalu, tanggal 1 Sya'ban 693 HQ, Ghiyatsuddin Abu Muzaffar Abdul Karim bin Ahmad yang dijuluki Ibnu Thawus, seorang ahli fiqih dan sastrawan terkenal abad ke-7 Hijriah meninggal dunia di kota Kazhimain Irak.
Ibnu Thawus dilahirkan pada tahun 648 dan pada usianya ke-12 tahun, dia telah menghapal al-Quran dan setelah itu dia mempelajari sastra. Dia belajar kepada ulama-ulama besar, di antaranya Nashiruddin Thusi. Ibnu Thawus banyak meninggalkan karya penulisan dalam bahasa Arab.
Konferensi Asia Afrika
63 tahun yang lalu, tanggal 18 April tahun 1955, dimulailah Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di kota Bandung.
Konferensi ini berlangsung hingga tanggal 25 April 1955 dan diikuti oleh wakil dari 29 negara Asia dan Afrika. Tujuan utama konferensi ini adalah membentuk kubu kekuatan negara-negara dunia ketiga untuk menghadapi dua kubu adidaya, Barat dan Timur.
Di akhir konferensi, ditandatanganilah Deklarasi Bandung yang isinya kesepakatan untuk mengadakan kerjasama ekonomi dan budaya di antara negara-negara dunia ketiga serta mengakui adanya hak untuk menentukan nasib bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Selain itu, konferensi ini juga mengeluarkan resolusi menentang penjajahan, di antaranya penjajahan Perancis atas Guinea Baru. Konferensi Asia Afrika juga menjadi pendahuluan dari terbentuknya Organisasi Gerakan Non-Blok.
Hari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran
39 tahun yang lalu, tanggal 29 Farvardin 1358 HS, diperingati sebagai Hari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.
Bersamaan dengan kemenangan Revolusi Islam Iran, militer rezim Shah Pahlevi yang terdiri dari para pemuda Iran menyambut seruan Imam Khomeini ra untuk bergabung dengan rakyat. Setelah menumbangkan rezim Shah Pahlevi, mereka bangkit untuk melindungi Revolusi Islam dari musuh dalam dan luar negeri.
Imam Khomeini ra menyebut saat-saat bergabungnya militer dengan rakyat "saat gembira hamba Allah dan putus asanya musuh". Sekalipun ada sebagian orang yang menginginkan dibubarkannya militer, Imam Khomeini ra sebagai pendukung utama militer mengeluarkan pesan pada 27 Farvardin 1358 dan mengumumkan keharusan mempertahankan militer. Demi tercipta konsolidasi yang lebih kokoh di tubuh militer, Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah bersejarah dan tanggal 29 Farvardin dijadikan sebagai Hari Militer.
Dalam pesannya Imam Khomeini ra menyebutkan, "Kini angkatan bersenjata melayani Islam dan militer yang ada islami. Oleh karenanya, penting bagi rakyat untuk menyatakan dukungannya terhadap militer. Kini, tidak boleh menentang militer Islam yang menjadi pelindung kemerdekaan. Kami, kalian dan militer adalah saudara dan harus berusaha bersama-sama untuk mempertahankan keamanan negara dan mengakhiri aksi-aksi merusak para perusak."