Lintasan Sejarah 10 Juni 2018
Hari ini, Ahad tanggal 10 Juni 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Ramadhan 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 20 Khordad 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Athiyyah Wafat
856 tahun yang lalu, tanggal 25 Ramadan 541 HQ, Ibnu Athiyah, seorang ulama hadis dan tafsir terkenal asal Andalusia, meninggal dunia.
Ibnu Athiyah berasal dari keluarga berpendidikan dan hampir semua anggota keluarga itu adalah ilmuwan dan sastrawan. Meskipun Ibnu Athiyah terkenal sebagai ahli tafsir dan hadis, namun banyak penulis sejarah yang mencatat bahwa dia juga menguasai ilmu fiqih, ushul fiqih, dan sastra.
Karya terpenting Ibnu Athiyah adalah kitab tafsir dengan mukadimah yang dianggap sebagai karya terbaik dalam ilmu Quran. Karya lain Ibnu Athiyah berjudul "al-Barnamij".
Inggris Menyerang Malaya
228 tahun yang lalu, tanggal 10 Juni 1790, tentara Inggris menyerang semenanjung Malaya yang saat itu berada di bawah pendudukan Belanda.
Sebelumnya, semenanjung Malaya, yang kini merupakan bagian dari negara Malaysia, telah dijajah dan dikuras kekayaan alamnya oleh Belanda. Secara bertahap, Inggris melakukan infiltrasi ke Malaya dan dengan melancarkan serangan militer, akhirnya berhasil memukul mundur Belanda dari wilayah itu.
Pada tahun 1824, Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian, yang berisi penyerahan Malaya kepada Inggris dan sebaliknya, Inggris berjanji tidak mengutak-atik kolonialisasi Belanda atas Indonesia. Malaysia akhirnya merdeka pada tahun 1957, 12 tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
Imam Khomeini Memecat Bani Sadr dari Panglima Tertinggi
37 tahun yang lalu, tanggal 20 Khordad 1360 HS, Imam Khomeini ra memecat Bani Sadr dari jabatan Panglima Tertinggi Militer.
Terpilihnya Bani Sadr sebagai Presiden Iran pada 1358 HS, mulai muncul masalah pemilihan perdana menteri dan pembentukan kabinet. Dua masalah ini menjadi sumber perselisihan antara presiden dan parlemen.
Bani Sadr sebagai kepala negara juga memegang jabatan sebagai panglima tertinggi meyakini bahwa dalam melawan musuh, mereka harus ditarik ke dalam Iran kemudian diblokade dan dimusnahkan. Strategi ini membuat banyak daerah Iran yang diduduki tentara Irak.
Sementara itu, Imam Khomeini ra berusaha meredakan dan mendamaikan perselisihan yang ada antara presiden dan pihak-pihak yang tidak menyetujui kebijakannya dan mengajak semua pihak untuk bisa menahan diri. Akhir dari usaha ini pada 20 Khordad 1360 HS, setelah bermusyawarah dengan para pejabat tinggi, beliau mencabut jabatan Panglima Tertinggi dari Abolhassan Bani Sadr.