Lintasan Sejarah 13 Juni 2018
Hari ini, Rabu tanggal 13 Juni 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Ramadhan 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 23 Khordad 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Abu Mash’ar Balkhi Wafat
1167 tahun yang lalu, tanggal 28 Ramadan 272 HQ, Abu Mash'ar Balkhi, ahli astronomi dan ahli ilmu hadis asal Iran, meninggal dunia.
Abu Mash'ar pada awal abad ke-3 Hijriah pergi ke Bagdad untuk mempelajari ilmu astronomi dan di sana ia mempelajari berbagai sumber ilmu dalam bahasa Yunani, Suryani, India, dan Arab.
Dalam pandangan Abu Mash'ar, segala fenomena di alam ini, termasuk astronomi, bersumber dari Tuhan. Di antara karya-karya Abu Mash'ar berjudul "al-Madkhal al-Kabir" dan "al-Mawalid as-Shagirah".
Perlawanan Pertama Bangsa Palestina
97 tahun yang lalu, tanggal 13 Juni 1921, untuk pertama kalinya warga Palestina melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah kolonial Inggris.
Perlawanan yang berlangsung di tahun-tahun pertama kolonialisme Inggris tersebut menunjukkan adanya reaksi keras warga Palestina atas berbagai politik yang dijalankan Inggris di kawasan itu. Sebagaimana yang tercantum dalam Perjanjian Balfour, Inggris menyatakan diri sebagai pendukung utama para pemukim Yahudi di kawasan Palestina hingga terbentuknya sebuah negara Israel Raya di sana.
Sejak perjanjian Balfour itu diimplementasikan, jumlah warga Yahudi di kawasan Palestina meningkat secara pesat dari sekitar 35.000 orang pada tahun 1923 menjadi lebih dari 600.000 pada akhir tahun 40-an.
Imam Khomeini Perintah Dibentuknya Lembaga Revolusi Budaya
38 tahun yang lalu, tanggal 23 Khordad 1359 HS, Imam Khomeini ra perintahkan dibentuknya Lembaga Revolusi Budaya Iran.
Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah dibentuknya lembaga Revolusi Budaya untuk menciptakan perubahan besar di universitas-universitas Iran. Di bagian dari pesannya itu, Imam meminta dari anggota lembaga ini untuk menyusun pelbagai jurusan dan garis-garis besar masa depan universitas berdasarkan budaya dan nilai-nilai Islam.
Tujuan asli pembentukan lembaga Revolusi Budaya ini adalah merekonstruksi sistem pendidikan tinggi negara dan menghapus budaya Barat dari wajah universitas Islam.
Sesuai dengan perintah Imam, para anggota lembaga ini terdiri dari para pakar dan dosen dari pelbagai bidang disiplin ilmu. Lembaga Revolusi Budaya ini kemudian berganti nama menjadi Dewan Tinggi Revolusi Budaya dan wewenangnya secara perlahan-lahan menjadi lebih luas, hingga mencakup upaya mengatur urusan budaya masyarakat di pelbagai bidang berdasarkan budaya Islam.