Lintasan Sejarah 14 Juni 2018
Hari ini, Kamis tanggal 14 Juni 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Ramadhan 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Khordad 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Furat Meninggal Dunia
632 tahun yang lalu, tanggal 29 Ramadan 807 HQ, Ibnu Furat, seorang sejarawan dan ahli fiqih asal Mesir, meninggal dunia di kota Kairo.
Ibnu Furat dilahirkan di kota yang sama pada tahun 735 Hijriah dan sejak masa remaja telah mulai menelaah berbagai bidang ilmu. Keistimewaan Ibnu Furat adalah kecintaannya pada bidang sejarah.
Di antara karya-karya Ibnu Furat yang terpenting adalah kitab berjudul "Tarikhud-Duwal Wal Muluk", yang juga dikenal dengan nama "Sejarah Ibnu Furat". Di dalam kitab ini ia menuliskan berbagai kejadian di abad ke-6 dan 7 Hijriah secara berurutan dari tahun ke tahun dan di tiap akhir tahun, ia menuliskan nama-nama pembesar yang meninggal di tahun itu. Karya ibnu Furat lainnya berjudul "Asma'us Shahabah" dan "Tarikh Al-Ibad wal Bilad".
Pasukan Perancis mendarat di Aljazair
188 tahun yang lalu, tanggal 14 Juni 1830, tentara Perancis mendarat di pantai Aljazair yang mengawali serbuan negara imperialis ini ke Aljazair.
Perancis menghadapi perlawanan sengit rakyat Aljazair yang menolak penjajahan atas negeri mereka. Dengan berbagai cara, akhirnya Perancis berhasil menduduki Aljazair secara penuh tahun 1910.
Meski demikian perlawanan bersenjata rakyat Aljazair tetap berlanjut dan memuncak seiring dengan berakhirnya perang dunia II.Tahun 1962, dengan semakin meningkatnya perlawanan rakyat dan tekanan dunia, Presiden Perancis saat itu Charles de Gaulle terpaksa menyetujui pemberian status kemerdekaan penuh kepada Aljazair.
Surat 120 Anggota Parlemen Minta Dibahas Ketidaklayakan Politik Bani Sadr
37 tahun yang lalu, tanggal 24 Khordad 1360 HS, 120 anggota parlemen Iran mengirim surat agar dibahas ketidaklayakan politik Bani Sadr.
Rakyat Iran dengan gagah berani melakukan perlawanan yang luas atas agresi militer rezim Saddam. Tapi front perang yang semakin luas tanpa ada dukungan yang seharusnya dari Bani Sadr sebagai Panglima Tertinggi seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Iran, membuat friksi antara presiden Iran ini dengan parlemen, Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga revolusioner lainnya semakin mencapai puncaknya.
Sementara nasihat Imam Khomeini ra agar dicapai kesepahaman tidak juga berhasil, maka pada sidang tanggal 24 Khordad 1360 Hs, surat dari 120 anggota parlemen akhirnya dibacakan yang isinya meminta penindaklanjutan kelayakan politik Bani Sadr.
Pasca disepakati ketidaklayakan politik Bani Sadr di Majlis Iran, Imam Khomeini ra berdasarkan keputusan itu memberhentikannya dari posisi presiden.