Lintasan Sejarah 30 Juni 2018
Hari ini, Sabtu tanggal 30 Juni 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 16 Syawal 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 9 Tir 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Faruqi Lahir
929 tahun yang lalu, tanggal 16 Syawal 510 HQ, Ibnu Arzaq Faruqi, seorang ulama besar Arab, terlahir ke dunia.
Sejak masa mudanya, Ibnu Faruqi telah mempelajari fiqih, hadis, bahasa, dan tafsir Quran. Dia kemudian lebih tertarik pada ilmu sejarah dan banyak melakukan penelitian serta perjalanan ke berbagai kawasan.
Hasil penelitian dan perjalanannya itu dicatatnya dalam buku "Tarikh al-Faruqi".
Revolusi Irak Melawan Inggris Dimulai
98 tahun yang lalu, tanggal 30 Juni 1920, rakyat Irak memulai perjuangan mereka melawan penjajahan Inggris di bawah pimpinan Ayatullah Mirza Muhammad Taqi Shirazi.
Setelah Perang Dunia Pertama, berdasarkan kesepakatan pasukan Sekutu dalam masalah pembagian wilayah Ottoman, kekuasaan atas Irak, Palestina, dan Yordania diserahkan kepada Inggris.
Menanggapi kesepakatan imperialis itu, Ayatullah Mirza Muhammad Taqi Shirazi mengeluarkan fatwa jihad dan dimulailah revolusi rakyat Irak untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka. Namun, perlawanan itu tidak berhasil mencapai tujuannya karena kuatnya tentara Inggris yang didukung oleh negara-negara Barat.
Sayid Ahmad Pishavari Wafat
88 tahun yang lalu, tanggal 9 Tir 1309 HS, Sayid Ahmad Pishavari meninggal dunia di usia 86 tahun di Tehran dan dimakamkan di komplek makam Imam Zadeh Abdollah di Tehran.
Sayid Ahmad Adib Pishavari lahir di kota Ojaq, Pakistan pada 1223 Hs. Beliau termasuk keturunan sayid yang terkenal di Ojaq, dimana nasab mereka dalam sair dan suluk sampai kepada Sohravardiah. Adib selama beberapa waktu tinggal di Afghanistan dan Khorasan untuk menuntut ilmu-ilmu aqli dan naqli.
Pada usia 40 tahun, beliau pindah ke Tehran dan melalui sisa umurnya di sana. Dalam menyampaikan pidato, Adib Pishavar mengikuti metode guru-guru klasik. Sesuai dengan keluasan informasi dan pengetahuannya tentang budaya Islam dan pelbagai ilmu keislaman serta penguasaannya yang mendalam akan bahasa dan sastra Persia membuat syair-syairnya memiliki kandungan yang luas.
Sayid Ahmad Pishavar meninggal sejumlah karya ilmiah seperti kumpulan syair, Tashif Diwan Naser Khosrou dan komentar atas buku sejarah Baihaqi.