Lintasan Sejarah 1 Juli 2018
Hari ini, Ahad tanggal 1 Juli 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 17 Syawal 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 10 Tir 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Perang Khandaq Meletus
1434 tahun yang lalu, tanggal 17 Syawal 5 HQ, Perang Khandaq atau Perang Ahzab meletus di seputar kota Madinah.
Perang ini pecah akibat hasutan kaum Yahudi Madinah yang takut melihat kemajuan Islam. Kaum Musyrikin Mekah kemudian bergerak menuju Madinah untuk menyerang kaum Muslimin dengan dipimpin oleh Abu Sufyan.
Ketika Rasulullah mendengar kabar akan datangnya serangan dari kaum Musyrikin itu, beliau berunding dengan para pasukannya. Salman al-Farisi, salah seorang sahabat setia Rasul, mengusulkan agar digali parit di seputar kota Madinah.
Ketika pasukan Musyrikin melihat parit itu, mereka amat terkejut dan perang tertunda selama beberapa hari. Kemudian, beberapa tokoh perang Musyrikin, di antaranya Amr bin Abdiwad, berhasil melewati parit tersebut dan berduel dengan Imam Ali. Melihat para pendekarnya berhasil dikalahkan, kaum Musyrikin ketakutan dan kembali ke Mekah.
Rwanda dan Burundi Merdeka
56 tahun yang lalu, tanggal 1 Juli 1962, Rwanda dan Burundi, dua negara yang saling berbatasan di Afrika, meraih kemerdekaan mereka masing-masing.
Kedua negara ini sejak abad ke-18 dijajah oleh Jerman, namun setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia Pertama, Liga Bangsa-Bangsa menyerahkan kekuasaan atas kedua negara Afrika itu kepada Belgia.
Resolusi PBB tahun 1962 akhirnya mengakhiri kolonialisme di Rwanda dan Burundi. Penduduk mayoritas Rawanda dan Burundi adalah suku Hutu dan Tutsi.
Ayatullah Sayid Hassan Mousavi Bojnourdi Wafat
43 tahun yang lalu, tanggal 10 Tir 1354 HS, Ayatullah Sayid Hassan Mousavi Bojnourdi meninggal dunia di usia 80 tahun di kota Najaf dan dimakamkan di sisi gurunya Sayid Abolhassan Isfahani.
Sayid Ulama wa Mujtahidin Ayatullah Mirza Hassan Mousavi Bojnourdi yang dikenal dengan Sayid Agha Bozourg lahir di sebuah desa Bojnourd, provinsi Khorasan dan besar di sana.
Menginjak usia 27 tahun, Sayid Agha Bozourg pergi ke Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Dengan kemampuannya, beliau segera disejajarkan dengan pengajar dan mujtahid Najaf.
Kuliah Ayatullah Bojnourdi di Najaf dihadiri banyak ulama dan beliau sendiri memiliki hubungan dengan pusat-pusat keilmuan dunia Islam seperti Universitas al-Azhar, Mesir. Beliau meninggalkan banyak karya tulis tak ternilai seperti Qaulnaqi al-Hikmah yang terhitung sebagai syarah terbaik buku al-Asfar al-Arba'ah Mulla Sadra, Muntahal Ushul, catatan pinggi buku al-Urwah al-Wutsqa dan Dzakhirah al-Ma'ad.