Lintasan Sejarah 18 Juli 2018
Hari ini, Rabu tanggal 18 Juli 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 4 Dzulqadah 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Tir 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Mahlabi, Penulis Mesir Meninggal Dunia
783 tahun yang lalu, tanggal 4 Dzulqadah 656 HQ, Mahlabi, seorang penulis dan ilmuwan terkenal Mesir meninggal dunia pada usia 57 tahun.
Dia dikenal sebagai penulis prosa terkemuka di zamannya, sampai-sampai, Ibnu Khalikan, sejarawan termasyhur mencatat tentang Mahlabi sebagai berikut, "Saya bertemu dengannya dan saya menyaksikan segala hal yang sebelumnya saya dengar tentangnya."
Mahlabi juga meninggalkan buku kumpulan syair. Syair-syairnya bersifat sederhana dan penuh kelembutan. Syair-syairnya amat populer di tengah masyarakat sehingga berkali-kali dicetak ulang di Mesir dan Beirut.
Galaksi Bimasakti Ditemukan
235 tahun yang lalu, tanggal 18 Juli 1783, William Hershel, seorang astronom Inggris, berhasil mengidentifikasi Galaksi Bimasakti atau Milky-way.
Dengan teleskop hasil buatannya sendiri, Hershel berhasil menemukan bahwa Galaksi Bimasakti tersusun dari milyaran bintang, sedangkan tata surya, yaitu matahari dan planet-planet yang mengelilinginya hanya satu bagian yang sangat kecil dari galaksi tersebut.
Penelitian selanjutnya menemukan bahwa Galaksi Bimasakti terdiri dari 400 milyar bintang dengan garis tengah sekitar 130.000 tahun cahaya, sementara satu tahun cahaya sama dengan 9500 milyar kilometer. Galaksi Bimasakti jika dilihat dari samping berbentuk seperti cakram dan dari atas seperti spiral.
Iran Menerima Resolusi 598 DK-PBB Tahun 1975
30 tahun yang lalu, tanggal 27 Tir 1367 HS, Republik Islam Iran menerima Resolusi 598 Dewan Keamanan PBB
Salah satu alasan bohong rezim Baath Irak untuk menginvasi teritorial Republik Islam Iran adalah perselisihan soal perbatasan yang telah ditetapkan dalam perjanjian Aljazair tahun 1975. Di saat perang, ketika eksistensi Irak berada dalam kondisi bahaya, Amerika dan sekutunya yang menjadi pendukung Irak secara praktis terlibat dalam perang.
Sementara itu, Imam Khomeini ra dengan melihat masalah Republik Islam dan mengetahui konspirasi luas Amerika dan Barat untuk menghapus Revolusi Islam, setelah melakukan konsultasi dengan para komandan senior dan pejabat tinggi negara akhirnya menerima resolusi 598 Dewan Keamanan PBB.
DK-PBB dalam resolusi ini mengajak dua negara; Iran dan Irak untuk melakukan gencatan senjata dan menciptakan perdamaian. Iran yang melihat isi resolusi ini masih menguntungkan, khususnya butir yang terkait dengan penyebutan siapa pelaku agresi pertama dan pembayaran kerugian akhirnya menerima resolusi itu.