Okt 08, 2018 13:50 Asia/Jakarta
  • Gua Hira, tempat Rasulullah Saw menerima wahyu.
    Gua Hira, tempat Rasulullah Saw menerima wahyu.

Dalam Islam, masjid adalah rumah Allah Swt dan pusat untuk kegiatan ibadah dan penghambaan diri. Oleh karena itu, Allah Swt dengan rahmat-Nya, memperkenalkan masjid sebagai Baitullah yaitu; menjadikannya sebagai tempat untuk ibadah, berdoa, dan berkomunikasi dengan-Nya.

Dalam komunikasi ini, kitab suci al-Quran memiliki kedudukan yang istimewa. Al-Quran mengandung makrifat tinggi Ilahi di bidang tauhid, sifat-sifat para nabi, rahasia dunia ghaib, sunnah-sunnah Ilahi, pengenalan manusia dan nasib mereka, serta berita yang berhubungan dengan masa lalu dan masa depan.

Al-Quran menawarkan cara untuk membebaskan manusia dari kebodohan, takhayul, dan hawa nafsu, dan menempatkan manusia di jalan menuju kesempurnaan. Hubungan antara al-Quran dan masjid sudah terjalin sejak awal kemunculan Islam. Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi Saw disebutkan bahwa "Para pecinta al-Quran adalah para pencinta masjid juga."

Pada dasarnya, al-Quran dan masjid adalah dua pilar yang saling melengkapi dan tidak terpisahkan serta berperan sangat signifikan dan efektif sebagai dua faktor penting dalam keimanan masyarakat dan penyebarannya di tengah umat. Di masjid, ayat-ayat al-Quran – karena selaras dengan nuansa spiritual masjid – lebih mudah tertanam dalam jiwa manusia dan menyediakan ruang yang lebih besar untuk berpikir dan bertadabbur.

Nabi Muhammad Saw telah menyebutkan sebuah contoh yang sederhana untuk menarik perhatian lebih kaum Muslim terhadap dua pilar penting ini. Beliau bersabda, "Siapa dari kalian yang suka pergi pada pagi hari ke lembah Aqiq atau Buthan di Mekkah, dan membawa pulang dua unta berpunggung besar kepada keluarga kalian tanpa harus berdosa atau memutus hubungan kekerabatan?"

Para sahabat menjawab, "Kami semua suka wahai Rasulullah!" Rasul lalu bersabda, "Jika salah satu dari kalian datang ke masjid dan mempelajari satu ayat Allah, maka yang itu jauh lebih baik daripada satu unta, dan jika mempelajari dua ayat, maka itu jauh lebih baik daripada dua unta, dan tiga ayat lebih baik daripada tiga unta."

Di Arab Saudi, unta berpunggung besar memiliki nilai yang sangat berharga, sehingga pada waktu itu setiap orang siap menempuh perjalanan sulit ke lembah Aqiq atau Buthan demi memperoleh kekayaan seperti ini. Oleh karena itu, Rasul Saw bersabda, "Sebagaimana kalian rela bekerja keras demi memperoleh nikmat materi yang cepat hilang dan susah menjaganya, maka kalian harus bekerja jauh lebih keras demi mendapatkan kenikmatan spiritual yang abadi, di mana kalian akan selalu membutuhkannya."

Masjid adalah rumah Allah dan membaca al-Quran merupakan salah satu ibadah tertinggi yang dapat dilakukan di rumah Allah ini. Kitab suci ini memperkenalkan masjid sebagai tempat dengan banyak keutamaan sehingga orang-orang yang memusuhi masjid dan berniat merusaknya, mereka dianggap sebagai orang-orang yang paling zalim di muka bumi.

"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat." (Surat al-Baqarah ayat 114)

Komplek Masjid Sab'ah.

Sejarah Pembangunan Masjid Sab'ah di Madinah

Pada segmen ini, kami akan memperkenalkan Masjid Sab'ah (Masjid Tujuh) di Madinah. Ada tujuh masjid di wilayah Perang Khandak di mana enam di antaranya terletak bersebelahan dan satunya lagi berjarak terpisah. Masjid tersebut antara lain; Masjid Salman, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, Masjid Ali, Masjid Fatimah, dan Masjid Fath, dan sebuah masjid yang jaraknya lebih jauh dengan nama Masjid Qiblatain.

Masjid yang paling penting dari kelompok masjid tersebut adalah Masjid Fath, yang terletak di sebuah gunung, di mana di balik gunung itu, para sahabat menggali parit dalam Perang Ahzab. Sebenarnya, gunung tersebut adalah tempat Rasulullah Saw bersiaga selama perang. Diriwayatkan, masjid ini dinamakan dengan al-Fath karena di tempat ini Rasul Saw mendirikan shalat sebagai rasa syukur atas kemenangan untuk kaum Muslim.

Perang Ahzab adalah perang ketiga terbesar melawan kaum musyrik setelah Perang Badr dan Perang Uhud. Perang ini diikuti langsung oleh Rasulullah Saw. Perang Ahzab meletus pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriyah yang bertempat di sekitar kota Madinah. Dalam perang ini, semua suku-suku di Mekkah bekerja sama dengan kaum Yahudi untuk mencerabut akar agama Islam. Tapi, kaum musyrik kalah total berkat kehendak Allah Swt, penggalian parit atas usulan Salman al-Farisi, keberanian Imam Ali as, dan ketahanan para sahabat Nabi Saw.

Salah satu masjid lain dalam kelompok Masjid Sab'ah adalah Masjid Salman al-Farisi. Salman adalah salah satu sahabat Nabi Saw yang terkenal. Menurut beberapa riwayat, Salman memeluk agama Majusi pada usia anak-anak dan kemudian pindah ke agama Kristen pada usia remaja. Ia pergi ke tanah Syam dan berguru kepada pendeta Kristen.

Salman kemudian berkelana ke tanah Hijaz setelah mendengar berita tentang munculnya seorang nabi di tanah bangsa Arab. Namun, dalam perjalanan ini dia ditawan oleh beberapa suku Arab, yang akhirnya dijual kepada seorang Yahudi dari suku Bani Quraizah, dan kemudian bersama tuannya pergi ke Madinah. Mimpi Salman akhirnya terwujud di Madinah, ia bertemu Rasulullah Saw dan beriman kepadanya.

Dalam Perang Ahzab, Salman mengusulkan agar daerah di sekeliling Madinah digali parit untuk mencegah musuh menyeberang dan menyerang kota. Masjid Salman dibangun untuk menghormati kontribusinya dalam perang tersebut dan ide cemerlangnya untuk menggali parit.

Madinah Al Munawarah.

Di barat daya Masjid Salman, terletak Masjid Imam Ali bin Abi Thalib as. Diriwayatkan bahwa di tempat inilah Imam Ali ikut serta dalam Perang Khandaq. Masjid Imam Ali mencerminkan perannya yang tak tertandingi dalam mengalahkan jagoan Arab, Amr bin Abdi Wud.

Masjid Sab'ah lainnya adalah Masjid Fatimah as. Tidak ada catatan sejarah mengenai Masjid Fatimah dan masjid ini disebut juga dengan Masjid Sa'ad bin Muadz. Sa'ad bin Muadz adalah pemimpin kabilah Aus dan dalam Perang Ahzab, ia terluka dan gugur syahid. Rasulullah Saw bersabda, "Ribuan malaikat hadir mengiring jenazah Sa'ad bin Muadz." Dalam literatur Ahlu Sunnah, kematian Sa'ad bin Muadz telah mengguncang Arsy Ilahi.

Masjid Abu Bakar terletak di sebelah tenggara Masjid Salman. Masjid ini juga terletak di tempat yang tinggi yang bisa ditempuh dengan melewati beberapa anak tangga. Bangunan masjid ini, sama seperti Masjid Fath, telah mengalami beberapa kali renovasi.

Adapun Masjid Umar bin Khattab terletak 10 meter ke arah selatan Masjid Abu Bakar. Menurut para peneliti, sumber-sumber sejarah sama sekali tidak menyinggung keberadaan masjid ini hingga abad ke-9 Hijriyah. Pada dasarnya, di antara masjid-masjid tersebut, hanya Masjid Fath, Masjid Salman, dan Masjid Ali ibn Abi Thalib yang disebut dalam teks-teks abad pertama Hijriyah.

Sementara Masjid Qiblatain adalah sebuah masalah yang berbeda. Masjid ini untuk mengenang perintah perubahan arah kiblat kaum Muslim dari Masjid al-Aqsa ke Masjidil Haram pada 15 Sya'ban tahun kedua Hijriyah. Dan mengingat Rasulullah Saw mendirikan shalat ke dua arah yang berbeda, maka ia dikenal dengan Masjid Qiblatain.

Saat ini, Masjid Qiblatain berdiri tegak dengan dua kubah, dua menara, dan dua mihrab, di mana yang satu mengarah ke Masjidil Haram dan satunya lagi menghadap ke Baitul Maqdis di bagian barat Madinah. (RM)