Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (61)
-
perkembangan teknologi Iran
Para peneliti di Universitas Yasuj Iran berhasil menciptakan nano adsorben yang mempermudah penentuan kadar jenis obat untuk mengontrol gula darah yang tersisa dalam air kencing atau darah. Tingkat dan dosis pemakaian obat memiliki keterkaitan langsung dengan kesembuhan dari penyakit atau efek samping obat.
Salah satu jenis obat itu adalah Glibenclamide (GB) yang merupakan obat penurun kadar gula darah dan sangat berguna untuk mengobati penyakit diabetes tipe 2.
Menurut para peneliti, sisa obat yang terdapat dalam cairan biologis badan seperti air seni dan darah memiliki kaitan langsung dengan tingkat obat yang dibutuhkan tubuh dan keselamatan manusia, akan tetapi selama cairan biologis memiliki jaringan yang rumit, pengukuran obat secara langsung tidak mungkin dilakukan dan membutuhkan sebuah tahap persiapan efektif untuk "prekonsentrasi" dan pembersihan obat.
Dalam proyek penelitian ini, nano adsorben diletakkan di atas polimer molekuler yang dapat merampungkan tahap prekonsentrasi sampel dengan efisiensi tinggi.
Berkurangnya waktu tahap penyiapan sampel dan penggunaan pelarut organik yang lebih sedikit, termasuk di antara kegunaan nano adsorben ini. Hasil penelitian tersebut dimuat di jurnal ilmiah Journal of Chromatography pada tahun 2017.
Para pakar di sebuah perusahaan Eropa berhasil mengeluarkan izin dari EU GMP (Europe Good Manufacturing Practice) untuk sebuah perusahaan farmasi Iran.
Para pakar itu mengkaji perusahaan Iran, CinnaGen terkait kepatuhan menjalankan prinsip efisiensi produksi, GMP dan dengan memberikan laporan hasil positif produksi obat ini yang tidak tampak berbeda dengan prinsip farmasi internasional, menunjukkan bahwa tingkat kualitas perusahaan ini sesuai dengan standar EU GMP, sehingga sertifikat GMP Eropa akhirnya dikeluarkan untuk perusahaan ini.
Perusahaan farmasi Iran ini adalah produsen produk biologis pertama di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang berhasil mendapat sertifikat GMP.
Para peneliti Universitas Tarbiat Madares Iran dengan tujuan menurunkan polusi udara, memanfaatkan limbah pohon Parrotia untuk melakukan proses sintesis yang murah atas sebuah nano adsorben gas karbon dioksida. Dewasa ini, karbon dioksida dikenal sebagai penyebab fenomena pemanasan global yang terpenting.
Di sisi lain, pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor adalah produsen utama gas karbon dioksida dan pencemaran udara. Menurut para peneliti, tujuan asli dari proyek penelitian ini adalah menciptakan nano adsorben karbon aktif dengan kapasitas sangat tinggi untuk menyerap karbon dioksida.
Dalam penelitian ini, biomassa pohon Parrotia sebagai tanaman asli Iran yang tumbuh di utara negara ini, digunakan sebagai "precursor" untuk memproduksi karbon aktif.
Jumlah yang melimpah dan akses yang mudah termasuk salah satu alasan utama penggunaan biomassa pohon Parrotia sebagai precursor untuk memproduksi nano adsorben ini. Biaya akhir pembuatan nano adsorben ini sangat rendah, di sisi lain kinerjanya dalam menghapus karbon dioksida lebih tinggi dari sampel-sampel serupa.
Dalam penelitian ini, ditemukan sebuah metode untuk menciptakan karbon aktif yang mampu menurunkan tingkat penggunaan air dan aktivator yang merupakan bagian terpenting dari proses sintesis, hingga 99 persen. Selain itu proses sintesis karbon aktif dengan metode ini tetap menjaga kualitas dan tanpa mencemari lingkungan dengan air limbah.
Sebelum dan sesudah proses sintesis nano adsorben, dilakukan sejumlah banyak uji coba untuk meneliti kualitas precursor dan karbon aktif yang disintesiskan, di antara uji coba tersebut adalah analisa unsur dan analisa senyawa precursor.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan secara berkesinambungan nano adsorben ini tidak menurunkan kinerjanya. Nano adsorben ini dapat dipasang di bagian luar cerobong asap pabrik dan knalpot kendaraan. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah Journal of Cleaner Production pada tahun 2017.
Hasil sebuah penelitian di Institut Royan Iran menunjukkan istri-istri yang pernah mengalami keguguran sekali atau beberapa kali kemungkinan besar akan melahirkan bayi prematur. Jika janin meninggal secara alamiah saat kandungan berusia 20 minggu, maka dengan sendirinya istri akan mengalami keguguran.
Keguguran alami lebih banyak disebabkan oleh kelainan kromosom janin yang baru terbentuk, kelainan terjadi pada pasangan atau karena implantasi yang tidak sesuai.
Setiap kelahiran yang terjadi sebelum usia kandungan mencapai 38 minggu, termasuk kelahiran yang prematur dan bayi yang lahir juga prematur. Kelahiran prematur merupakan salah satu penyebab tertinggi kematian bayi dan penyebab kedua kematian anak balita.
Para peneliti di Institut Royan, Universitas Ilmu Kedokteran Maragheh dan Universitas Ilmu Kedokteran Tehran melakukan penelitian untuk mengkaji hubungan antara keguguran alami dengan kelahiran prematur dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.
Dalam penelitian ini proses kelahiran di 103 rumah sakit Tehran diteliti. Dari 4.991 sampel kelahiran yang diteliti, para istri yang pernah mengalami keguguran alami atau berulang, lebih besar berisiko untuk melahirkan secara prematur.
Selain itu, peluang kelahiran sebelum waktunya pada istri-istri yang pernah mengalami satu kali keguguran adalah 1,33 persen, dua kali keguguran 1,78 persen dan lebih dari dua kali keguguran adalah 4,1 persen lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengalami keguguran sebelumnya.
Hasil penelitian ini membuktikan, pada istri-istri yang memiliki rekam jejak keguguran alami, kemungkinan melahirkan secara prematur semakin besar dan harus berhati-hati serta dilakukan prediksi lebih besar terhadap mereka. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah internasional Gynecology and Obstetrics.
Dengan merancang sebuah uji coba, para peneliti di pusat kanker John Hopkins Kimmel, Washington, Amerika Serikat membuka kemungkinan deteksi 8 tipe kanker rahim dengan uji darah. Para peneliti baru-baru ini merancang sejenis uji darah yang mampu mendeteksi kanker rahim, hati, perut, pankreas, esofagus, usus, paru-paru dan payudara.
Para peneliti merancang sebuah eksperimen yang menggunakan dua biomarker (marka biologis) untuk mendeteksi keberadaan kanker di tubuh manusia. Penemuan biomarker yang secara khusus menunjukkan keberadaan kanker di dalam tubuh, adalah pekerjaan yang sangat sulit, namun dalam beberapa tahun terakhir dicapai banyak kemajuan di bidang ini.
Uji coba ini dinamai CancerSEEK dan menggunakan dua metode untuk mendeteksi keberadaan kanker rahim, hati, pankreas, esofagus, usus, paru-paru dan payudara.
Menurut para peneliti, penggunaan senyawa dari beberapa biomarker untuk deteksi awal kanker, mungkin dapat mengubah metode-metode deteksi penyakit ini pada fase-fase berikutnya.
Uji coba ini menggunakan sebuah panel pelacak yang terkonsentrasi pada 8 protein dan 16 bagian gen. Metode ini diuji coba terhadap 1.005 penderita kanker di berbagai fase penyakit ini. Secara rata-rata uji coba darah tersebut 70 persen sukses mendeteksi jenis kanker, namun dibandingkan dengan diagnosa terhadap beberapa jenis kanker lain, kinerjanya lebih baik.
Sebagai contoh, tingkat kesuksesan metode ini lebih kecil dalam mendeteksi kanker payudara dibandingkan kasus-kasus lainnya, akan tetapi untuk mendeteksi kanker rahim, tingkat kesuksesannya mencapai 98 persen.
Penggunaan metode ini dalam skala luas memerlukan uji coba yang lebih banyak, akan tetapi tim peneliti dari sekarang sudah memulai riset dalam skala luas yang melibatkan 10.000 partisipan yang sehat.[]