Des 26, 2018 07:07 Asia/Jakarta
  • 26 Desember 2018.
    26 Desember 2018.

Lintasan Sejarah hari ini, Rabu tanggal 26 Desember 2018 bertepatan dengan tanggal 17 Rabiul Tsani 1440 Hijriah Qamariah. Menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 5 Dey 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah apa saja yang terjadi pada hari ini di tahun-tahun yang lampau:

Muhaqiq Hilli Lahir

 

838 tahun yang lalu, tanggal 18 Rabiul Tsani 602 HQ, Muhaqiq Hilli, seorang ulama dan ahli fiqih Islam termasyhur, terlahir ke dunia di Irak.

 

Selain dikenal memiliki ilmu yang tinggi di bidang agama, Muhaqiq Hilli juga merupakan seorang penyair. Muhaqiq Hilli meninggalkan banyak karya-karya syair dan juga meninggalkan karya penulisan di bidang agama, antara lain berjudul Syara'iul Islam fi Masailul Halal wal Haram.

 

Ilmuwan Islam ini meninggal dunia tahun 676 Hijriah pada usia 74 tahun.

 

Imam Khomeini ra Umumkan Hari Berkabung di Mashad
 

40 tahun yang lalu, tanggal 5 Dey 1357 HS, Imam Khomeini ra mengumumkan hari berkabung nasional di Mashad.

 

Pengumuman itu disampaikan menyusul syahadah sejumlah warga mashad pada 2 Dey akibat konflik yang terjadi antara warga dengan aparat milter di sekitar rumah Ayatullah Sayid Abdullah Shirazi.

Menyusul peristiwa itu sekitar 250 ribu warga turun ke jalan-jalan di kota ini melakukan pawai akbar memperingati syuhada 2 Dey sekaligus aksi protes atas kejahatan rezim Pahlevi.

 

Pasukan Rusia Mulai Lancarkan Invasi ke Afganistan

39 tahun yang lalu, tanggal 26 Desember 1979, Tentara Merah Uni Soviet melancarkan invasi ke Afganistan.

 

Invasi ini kemudian menjadi peristiwa operasi dan aksi pendudukan terpanjang Uni Soviet terhadap sebuah negara merdeka. Pendudukan atas Afganistan itu diakui oleh generasi baru pemerintahan Soviet sendiri sebagai salah satu kesalahan besar yang pernah dilakukan penghuni Istana Kremlin selama ini. Invasi itu dilakukan dengan dalih memenuhi permohonan Babrak Karmal, salah seorang pejabat Afganistan saat itu.

Sehari setelah invasi tersebut, Karmil memegang tongkat kekuasaan di Afganistan melalui cara kudeta. Sejak itu, mujahidin Afganistan bangkit mengangkat senjata melawan sekitar 130 ribu pasukan dan berhasil membuat pasukan Soviet keteteran. Dari sisi lain, AS yang merasa kepentingannya terancam jika Soviet berhasil menancapkan pengaruh dan kekuatannya di Afganistan, akhirnya ikut mengganyang pasukan Soviet dengan memberikan dukungan politik, ekonomi, dan bahkan militer kepada sejumlah kelompok pejuang Afganistan.

Akibat agresi Pasukan Merah itu, puluhan ribu umat Islam Afganistan gugur dan sebagian menderita luka-luka.  Pada akhirnya, karena keteteran dan terjadi perubahan kebijakan luar negeri serta tak kuasa menanggung biaya perang yang begitu besar, Moskow terpaksa menarik mundur pasukannya dari Afganistan pada tahun 1989.