Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (65)
-
perkembangan iptek Iran
Menurut keterangan panitia Kongres Internasional Dokter Bedah Mulut dan Maksilofasial ke-16, Iran di bidang operasi bedah mulut dan maksilofasial menduduki peringkat pertama di Timur Tengah.
Dalam kongres yang digelar di Hotel Olympic Tehran, 21-22 Januari 2018 itu, sejumlah dokter dari Austria, Jerman, Swiss, Belanda, Spanyol, Azerbaijan dan Turki ikut ambil bagian.
Dibahas sejumlah tema dalam kongres ini, di antara yang terpenting adalah teknologi baru dalam bedah rekonstruksi wajah (facial reconstruction surgery) dan bedah kosmetik wajah (facial cosmetic surgeries), juga hidung.
Dengan memperhatikan peningkatan angka kecelakaan dan Trauma Maksilofasial, juga penyebarluasan kanker kepala dan leher, dewasa ini rekonstruksi kepala dan wajah berubah menjadi sebuah urgensi dalam ilmu bedah maksilofasial.
Menurut panitia kongres, Iran di bidang ini mengalami kemajuan yang cukup pesat dan dalam operasi bedah kosmetik wajah dan bedah rekonstruksi wajah, dilihat dari jumlah operasi serta pengalaman para dokter bedah maksilofasial, menduduki peringkat pertama di Timur Tengah dan bersama India serta Cina termasuk tiga negara unggul di Asia. Lebih dari 95 persen operasi bedah maksilofasial di Iran memiliki kualitas tinggi.
Para peneliti di Universitas Teknologi Amirkabir, Tehran dengan menggunakan silk nanofiber (serat nano sutra), merancang composite scaffold (komposit perancah) untuk menyembuhkan cedera ligamen pada para atlet yang dapat menjadi pilihan tepat untuk transplantasi ke ligamen manusia yang cedera.
Menurut para peneliti, cedera ligamen atau luka pada jaringan ligamen lebih merugikan secara ekonomi bagi para atlet sepakbola profesional dan kuda-kuda adu, dibanding yang lainnya.
Biaya pengobatan yang tinggi dan waktu lama untuk menyembuhkan jaringan dan bisa kembali beraktivitas, di antara masalah yang ditemui dalam pengobatan jenis cedera ini.
Cedera semacam ini menguras anggaran klub dan menghabiskan waktu bermain yang cukup lama bagi para atlet.
Waktu rata-rata yang dibutuhkan para atlet untuk sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala hingga dapat bermain kembali, antara 6-11 bulan dengan menggunakan metode lama. Oleh karena itu para peneliti berusaha menemukan metode yang lebih baik dari metode lama tersebut.
Sebagian besar jaringan sel tubuh mampu menyembuhkan diri sendiri setelah tubuh mengalami cedera, namun jaringan sel ligamen tidak punya kemampuan ini dan membutuhkan pengganti.
Oleh karena itu para peneliti dengan mengimplementasikan ilmu manufaktur tekstil dalam memproduksi komposit perancah biodegradasi yang bisa ditransplantasi pada tubuh, dengan ilmu baru stem cell culture (kultur sel punca) dan pemisahannya dari sel-sel jaringan target, berusaha menemukan metode baru untuk mengobati dan mereproduksi jaringan-jaringan sel ligamen yang cedera dalam waktu cepat. Dalam metode ini digunakan metode rekayasa jaringan.
Para peneliti mengatakan, penelitian ini inovatif dan ciri khas mekanik luar biasa khusus prancah final karena sisi geometri dan desain jaringan serat nano sutranya menyebabkan kemiripan yang dekat sekali dengan jaringan ligamen manusia.
Kekuatan produksi serat nano yang digunakan dalam perancah ini dibandingkan dengan produk industri, membuat biaya pembuatannya lebih rendah dari metode-metode penanaman sel biasa di bidang Anterior Cruciate Ligament (ACL), dan bisa digunakan pada bank organ transplantasi tubuh (jika reaksi-reaksi biologis sel punca terkonfirmasi) untuk setiap orang berdasarkan permintaan orang tersebut, termasuk di antara kegunaan perancah ini untuk menyembuhkan cedera ligamen.
Perancah ini digunakan di bidang ilmu pengetahuan sel punca, reakayasa medis, pengobatan dan pendidikan kedokteran dan teknologi berdasarkan bahan konduktor.
Hasil kajian Scopus, pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik, mempublikasikan 30 negara dengan kualitas ilmu pengetahuan tertinggi dunia di tahun 2017.
Hasil ini menunjukkan posisi unggul Iran dalam pertumbuhan interaksi keilmuan negara ini di arena internasional.
Pertumbuhan ilmu pengetahuan Iran di tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016 mengalami pertumbuhan lebih dari 12 persen dan merupakan rata-rata tertinggi yang pernah diraih negara-negara kuat di bidang ilmu pengetahuan. Lebih dari 83 persen kuantitas ilmu pengetahuan dunia pada tahun 2017 didominasi oleh 30 negara.
Sebuah proyek penelitian dapat menjadi buah dari seorang peneliti atau partisipasi ilmiah sejumlah peneliti dari sebuah negara atau beberapa negara.
Ketika dua atau beberapa peneliti dari sejumlah negara berbeda bekerjasama menggarap sebuah proyek penelitian, maka saat itu terjadi interaksi ilmiah di tingkat internasional yang biasanya bertujuan memperluas cakupan ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah proyek penelitian bersama, para peneliti dari Cina, Amerika Serikat dan Australia berhasil menghentikan aliran darah yang sedang ditransfer ke beberapa tumor kanker di dalam tubuh tikus dengan menggunakan sejumlah nanorobot dan membunuh tumor berbahaya ini.
Menurut para peneliti, jika berhasil disempurnakan, metode ini dapat menjadi alternatif pengganti metode-metode pengobatan yang umum digunakan untuk menyembuhkan kanker seperti kemoterapi dan radioterapi.
Pada metode-metode yang biasa digunakan saat ini, selain sel-sel kanker, sel-sel sehat pun ikut rusak. Akan tetapi nanorobot secara akurat hanya menyerang sel-sel kanker dan tumor.
Pada proses penelitian ini, nanorobot dibuat dengan DNA sebuah virus. Robot ini berbentuk sebuah layar tipis dan mengandung enzim bernama Thrombin yang digunakan untuk proses trombus.
Akhirnya, semuanya disuntikkan ke dalam tumor-tumor kanker dan saat bersentuhan dengan molekul-molekul tumor, ia menghambat transfer darah ke molekul-molekul tersebut lewat proses trombus.
Eksperimen sukses atas metode pengobatan ini terhadap tikus yang terkontaminasi sel kanker dada manusia dan sel-sel kanker ovarium manusia, membuka jalan untuk penggunaan nanorobot itu secara lebih luas di masa depan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, FDA memberikan persetujuan uji coba darah untuk yang pertama kalinya guna mendiagnosa Cedera Otak Traumatik atau Traumatic Brain Injury (TBI).
Uji coba darah ini setelah 4 jam dapat menjelaskan apakah seseorang menderita cedera otak yang berbahaya sehingga memerlukan CT Scan dan pemeriksaan lebih teliti atau tidak.
Menurut Direktur FDA, uji coba ini dapat mengurangi biaya scan dan uji coba-uji coba tidak urgen, serta penghematan besar untuk sistem-sistem pengobatan.
Uji coba ini mengukur dua protein dalam sel-sel otak yang masuk ke aliran darah pasca benturan di kepala. Uji coba darah yang dilakukan 12 jam pasca insiden dapat melacak keberadaan protein-protein ini. Persetujuan dari FDA merupakan langkah maju di bidang pembuatan dan persetujuan atas teknologi baru.[]