Lintasan Sejarah 21 Maret 2016
Hari ini, Senin tanggal 21 Maret 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 11 Jumadil Tsani 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Badi’uz-Zaman Hamedani Wafat
1039 tahun yang lalu, tanggal 11 Jumadil Tsani 398 Hq, Badi'uz-Zaman Hamedani, seorang sastrawan dan penyair Iran terkemuka abad ke-4 hijriah, meninggal dunia.
Badi'uz-Zaman lahir di kota Hamedan sehingga ketika ia menjadi penyair, ia digelari dengan nama Fadhil Hamedani.
Badi'uz-Zaman menyusun syair-syair yang indah dan penuh makna sehingga ia menjadi terkenal. Karya-karya yang ditinggalkan oleh Badi'uz-Zaman di antaranya berjudul Diwan Asya'ar dan Rasaail Badi'uz-Zaman.
Ibnu Al-Atsir, Sejarawan Muslim Lahir
882 tahun yang lalu, tanggal 11 Jumadil Tsani 555 Hq, Abu al-Hasan Ali bin Abi al-Karam as-Syaibani yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu al-Atsir lahir ke dunia.
Ibnu al-Atsir menyelesaikan pendidikan dasar agamanya kepada ayahnya dan setelah itu berguru pelbagai ilmu kepada ulama besar di masanya. Hapalannya sangat kuat dan menghapal banyak hadis serta pembahasannya. Selain itu beliau dikenal sebagai sejarawan muslim
Beliau meninggalkan karya hebat dalam penulisan sejarah bernama al-Kamil fi at-Tarikh yang menjadi salah satu referensi sejarah Islam dan buku al-Jami’ al-Kabir fi Ilm al-Bayan.
Warga Tehran Demo Pemerintahan Reza Khan
92 tahun yang lalu, tanggal 2 Farvardin 1303 Hs, warga Tehran demo pemerintahan Reza Khan.
Pasca merebut kekuasaan, Reza Khan berusaha untuk mendirikan silsilah kerajaan Pahlevi. Untuk meraih tujuannya, pertama kali ia menyatakan pemerintahannya adalah republik sebagai pendahuluan untuk mentransformasikan kekuasaan dari dinasti Qajar kepada Dinasti Pahlevi.
Ketika Reza Khan mengumumkan pemerintahan republik, pada tanggal 2 Farvardin 1303 Hs, rakyat bersama ulama berkumpul di bundaran Baharestan, di depan gedung Majlis Syura Melli (parlemen) dan meneriakkan yel-yel menentangnya. Demonstrasi itu berujung bentrok antara rakyat dan pasukan keamanan, sehingga ada yang tewas, sementara sebagiannya terluka.
Peristiwa ini memaksa ketua parlemen mengeluarkan reaksi cepat lalu memerintahkan untuk melakukan penyidikan terhadap komandan militer Iran yang waktu itu dipegang oleh Reza Khan. Reaksi dari pihak parlemen ini mengkhawatirkan Reza Khan dan akhirnya ia mengeluarkan pernyataan meminta maaf dan akhirnya di tengah puncak aksi demo rakyat di pelbagai kota di Iran terhadap sistem republik Reza Khan, ia akhirnya menyatakan menarik kembali idenya itu.
Permulaan Tindakan Represif Shah secara fisik
53 tahun yang lalu, tanggal 2 Farvardin 1342 Hs (22 Maret 1963), dalam lanjutan tindakan represif Shah melawan kekuatan-kekuatan revolusi, antek-antek rezim Shah mulai menggunakan cara-cara fisik.
Saat itu, bertepatan dengan peringatan Imam Shadiq as. Karena khawatir akan berubah menjadi gerakan perlawanan revolusi, para petugas keamanan membubarkan acara peringatan itu yang dipusatkan di Madrasah Feiziyah, Qom dengan cara-cara yang sangat beringas.
Sebagian dari peserta acara peringatan yang mencoba memprotes langsung dibawa ke atas atap bangunan dan dilemparkan ke tanah. Sejumlah orang gugur syahid dalam peristiwa tersebut. Ini adalah awal mula tindakan represif secara fisik yang kemudian malah semakin mengobarkan api revolusi Islam di bawah pimpinan Imam Khomeini ra.
Perang PLO Melawan Israel
48 tahun yang lalu, tanggal 21 Maret 1968, terjadi perang hebat antara para gerilyawan yang tergabung ke dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dengan tentara Zionis Israel.
PLO adalah gerakan perjuangan bersenjata rakyat Palestina yang didirikan tiga tahun sebelumnya, yaitu tahun 1965. Sistem organisasi yang rapi serta isu merebut kemerdekaan dari tangan Israel, membuat organisasi ini dengan cepat memperoleh simpati para pemuda Palestina. Inilah yang membuat Tel Aviv sangat mengkhawatirkan organisasi ini.
Karena itu, pada tanggal tersebut, tentara Israel yang dilengkapi dengan peralatan perang yang canggih menyerang markas PLO yang saat itu berada di Kamp Pengungsi Karamah yang berada di perbatasan Jordania. Dalam perang itu, gerilyawan PLO berhasil menghabisi nyawa sekitar 1.230 tentara Zionis. Tank-tank baja milik tentara Zionis juga banyak yang dihancurkan atau direbut.
Peristiwa ini membuat PLO semakin poluler dan diperhitungkan di dunia. Akan tetapi, pada tahun 1991, pemimpin PLO Yaser Arafat memutuskan untuk mengubah haluan gerakan dari perjuangan militer menjadi perjuangan diplomatis. Arafat berharap perundingan-perundingan bisa menjadi cara terbaik guna memperoleh kembali hak-hak bangsa Palestina yang sudah dirampas. Hanya saja, harapan itu ternyata tinggal angan-angan.
Perubahan haluan perjuangan PLO tersebut malah semakin memberikan peluang bagi Zionis Israel untuk melakukan berbagai kesewenang-wenangan di tanah Palestina. Akibatnya, popularitas Arafat dan PLO semakin menurun.