Sep 29, 2019 08:03 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Rahbar dengan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran
    Pertemuan Rahbar dengan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei bertemu dengan para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran Kamis, 26 September 2019.

Dalam pertemuan yang bertepatan dengan momentum peringatan "Pekan Pertahanan Suci", Ayatullah Khamenei menjelaskan berbagai masalah penting dalam masalah dalam dan luar negeri Iran. Rahbar dalam statemennya menegaskan  bahwa periode "Pertahanan Suci" tahun 1980 hingga 1988 sebagai fase cemerlang dalam sejarah Republik Islam Iran yang penuh pelajaran yang harus diwariskan kepada generasi mendatang. Selain itu, Ayatullah Khamenei menekankan "Tawakal" sebagai elemen yang paling penting dalam melanjutkan perjuangan dan mencapai tujuan.

"Ketawakalan Imam [Khomenei] kepada Allah swt di awal meletusnya perang dan selama delapan tahun pertahanan suci, meskipun menghadapi berbagai kesulitan, keterbatasan dan tekanan, adalah hal yang luar biasa. Oleh karena itu, ketawakalan ini harus tetap ada saat ini di semua bidang," ujar Ayatullah Khamenei.

Pertemuan Rahbar dan anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran 

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengungkapkan kemajuan Republik Islam selama empat puluh tahun sebagai berkah karunia ilahi. Rahbar berkata, "Hari ini martabat, otoritas, dan kebanggaan material dan moral negara ini di dunia, dan antusiasme besar pemuda revolusioner dalam mendorong kemajuan serta lompatan besar sehingga negara ini tidak bisa dibandingankan dengan fase awal kemenangan Revolusi Islam; semua pencapaian ini berkat karunia ilahi, jadi kepercayaan terhadap Tuhan tidak boleh dilupakan,".

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung masalah kekuatan generasi muda sebagai jantung gerakan kemajuan bangsa dan negara. Mereka memiliki tiga karakteristik: energi, harapan, dan inisiatif yang menjadi aset utama bangsa. Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Ketika saya bersama kaum muda dan berada lingkungan kaum muda, perasaan saya seperti perasaan seseorang sedang bernapas di udara pagi; saya merasa segar dan bugar,".

Menurut Rahbar, pemuda harus dilibatkan di lapangan dan tidak diabaikan kekuatannya. Mengabaikan kekuatan ini adalah kerugian besar. Fakta sejarah pertahanan suci menunjukkan bahwa komandan Sepah Pasdaran adalah para pemuda berusia 26 hingga 25 tahun, dan para komandan tentara juga pemuda sekitar 30 tahun. Kini, kita juga harus mengambil kesempatan ini dengan melibatkan kaum muda dalam pembangunan, termasuk di jajaran manajemen pemerintahan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan hari Kamis (26/9/2019) menekankan mengenai pemahaman terhadap gerak-gerik musuh, dengan mengatakan, "Trump dalam statemen terbarunya mengatakan jika Iran memenuhi permintaan AS, maka kondisi rakyat akan lebih baik. Musuh sedang mencoba untuk mempengaruhi pemahaman para pembuat keputusan, pejabat negara dan masyarakat umum. Para pejabat dan media AS dan Eropa berulang kali menanamkan kata 'tidak bisa' dan 'tidak mampu' demi mengalihkan kepentingan nasional kita sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi kini bisa menyelesaikan semua masalah ekonomi dan mata pencaharian dengan memanfaatkan kapasitas dan kekuatan nasional.".

Ayatullah Khamenei memandang permusuhan Barat terutama AS terhadap Iran sebagai tanda legitimasi dan kekuatan Republik Islam. Rahbar mengatakan, "Negara telah membuat berbagai lompatan ke depan yang membuat musuh marah dan khawatir. penyebab utama dijatuhkannya sanksi untuk mencegah kemajuan ini, tetapi berkat karunia Allah swt dalam waktu dekat, kita akan menyaksikan kemajuan di berbagai bidang,".

Dalam masalah perjanjian nuklir, pihak Eropa telah berulangkali menegaskan tentang urgensi JCPOA bagi keamanan internasional dan menyerukan pelestariannya yang berkelanjutan. Tetapi pada kenyataannya, mereka justru sejalan dengan kebijakan AS yang mengintensifkan tekanan terhadap Iran sebagaimana yang mereka lakukan hari ini. 

"Tidak bisa kita mempercayai negara-negara yang telah memegang panji permusuhan terhadap pemerintah Islam, terutama AS dan beberapa negara Eropa, karena mereka menunjukkan permusuhan langsung kepada rakyat Iran. Tentu saja, cara kita berinteraksi dengan negara-negara selain rezim Zionis dan Amerika tidak tertutup, tetapi secara umum kita tidak percaya kepada kekuatan selain dalam negeri sendiri, apalagi kepada mereka yang telah menyulut permusuhan terhadap Republik Islam," papar Ayatullah Khamenei.

Rahbar dalam pidatonya menyinggung motif permusuhan Eropa terhadap Republik Islam pada dasarnya tidak berbeda dengan Amerika Serikat. Beliau mengatakan, "Pihak Eropa menampakkan dirinya sebagai mediator dan berbicara panjang lebar, tetapi semua itu nihil belaka. Sanksi kedua yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat diikuti oleh Eropa dan mereka tidak mengambil langkah apapun. Setelah itupun, saya tidak membayangkan mereka akan melakukan langkah untuk Republik Islam, dan kita harus memutus semua harapan kepada mereka. Sekarang ini menjalin komunikasi, interaksi dan pertemuan, maupun kontrak dengan mereka tidak masalah, tetapi sama sekali tidak ada kepercayaan terhadap mereka. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa dipercaya, dan mereka melanggar semua perjanjian yang ditandatanganinya sendiri,".

Mengenai kemajuan Republik Islam Iran di berbagai bidang, Rahbar memaparkan, "Kini pemerintahan Islam tidak hanya lebih kuat dari 40 tahun silam, bahkan lebih kuat dari sepuluh tahun yang lalu, dan kekuatan revolusi dan politiknya telah berkembang di kawasan dan akar revolusi semakin kuat. Tentu saja, ada tugas-tugas berat, karena ada berbagai masalah di bidang budaya dan ekonomi, dan musuh meingkatkan pengaruhnya, terutama dalam infiltrasi budaya. Tetapi jika pejabat menjadikan parameter tindakannya dengan tidak mempercayai musuh, maka bisa dipastikan bahwa konspirasi akan berhenti dan menangkalnya,".

Menyikapi isu internasional terutama situasi sosial, politik dan ekonomi AS dan Eropa saat ini, Rahbar menjelaskan, "Amerika sebagai musuh utama kita, saat ini menjadi negara yang paling dibenci di dunia. Bahkan Eropa sendiri mengakui kelemahan dan penurunan kekuatannya,".  

Pandangan Ayatullah Khamenei ini disampaikan dengan mengutip salah satu pernyataan pemimpin Eropa di Majelis Umum PBB baru-baru ini. Rahbar mengungkapkan, "Pejabat Eropa secara eksplisit mengakui penurunan peradaban Barat, tetapi dalam keadaan yang lemah ini, mereka masih tidak melupakan arogansinya,". 

"Secara ekonomi, menurut statistik yang dikeluarkan lembaga-lembaga internasional, beberapa negara Eropa, seperti Jerman, Inggris, Italia dan lainnya menunjukkan bahwa tingkat utang mereka setara dengan total PDB-nya. Masalah ekonomi di negara-negara ini serius dan persoalan politik di Inggris dan Prancis terlihat jelas di mata publik dunia. Jadi manfaatkanlah kesempatan ini," papar Ayatullah Khamenei. 

Pemimpin Revolusi Islam dalam pidatonya sangat menekankan masalah kepercayaan dan keyakinan terhadap janji ilahi, dengan mengatakan, "Tujuan kita adalah mengimplementasikan agama Tuhan dan menerapkan syariah ilahi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Allah swt akan menolong kini sesuai dengan janji-Nya, dan hingga kini janji tersebut telah ditepati. Meskipun Republik Islam menghadapi berbagai masalah tapi tetap berada di puncak martabatnya dan menjadi sumber kebanggaan bagi Islam,".

Beliau menyerukan kepada semua kalangan khususnya, pejabat negara supaya "bertakwa, jujur, dan bekerja keras, secara serius memberantas korupsi, menumbuhkan produksi dan memperkuat sumber daya manusia yang setia terhadap revolusi, dan memperkuat persatuan nasional".

Di penghujung pidatonya, Rahbar menyinggung provokasi yang gencar di dunia maya, dengan mengatakan, "Menangkal keputusasaan sebagai masalah paling penting. Sebab, jika tidak ada harapan, tidak ada hal besar yang akan dilakukan. Harapan untuk masa depan yang cerah bukanlah harapan yang salah, tetapi masa depan negara yang benar-benar cerah dan optimistis,"(PH)