Des 16, 2019 15:52 Asia/Jakarta
  • kemajuan iptek Iran
    kemajuan iptek Iran

Tim mahasiswa Fakultas Teknik Komputer, Universitas Teknologi Sharif Iran, setelah 18 tahun, berhasil menduduki peringkat ke-9 kompetisi internasional pemograman algoritma untuk mahasiswa, The International Collegiate Programming Contest, ICPC dan meraih medali perunggu.

Selain itu, tim mahasiwa Universitas Teknologi Sharif juga berhasil menempatkan dirinya di posisi pertama tim-tim dari Asia Barat, dan menjadi juara regional.
 
ICPC adalah salah satu kompetisi pemograman algoritma paling kredibel di dunia, dan dikenal sebagai olimpiade pemograman. 
 
Final kompetisi ini digelar 31 Maret-5 April 2019 di Portugis, dan diikuti oleh 135 tim terbaik dunia yang menjuarai pertandingan di tingkat regional dari sekitar 17.000 tim yang berasal dari 3.200 universitas. 
 
Di laga final, tim Universitas Teknologi Sharif berhasil mengungguli lawan-lawan berat seperti tim dari Universitas Princeton, Harvard, Oxford, Saint Petersburg, Stanford dan Carnegie Mellon University, CMU, dan masuk 10 besar tim terbaik dunia.
 
---
  
Pembuatan medical linear electron accelerator bernama Omid dengan energi 6 megaelectronvolt dilakukan dalam proyek bersama yang diikuti oleh Universitas Ilmu Kedokteran Isfahan, distrik ilmu penelitian Isfahan, badan energi atom Iran, departemen sains dan teknologi Kantor Kepresidenan Iran, Kementerian Kesehatan Iran dan perusahaan berbasis sains Behyar Sanat Sepahan. 
 
Alat ini diuji coba sebagai media radioterapi untuk penderita kanker pada 9 April 2019 bertepatan dengan Hari Teknologi Nuklir Nasional Iran yang dihadiri oleh presiden negara ini.
 
Menurut Rektor Univeristas Ilmu Kedokteran Isfahan, radioterapi merupakan salah satu metode utama yang digunakan dalam pengobatan kanker terutama kanker jaringan tubuh yang solid seperti kanker kulit, ginjal, tulang, otak, organ dalam dan liver, kecuali kanker darah. 
 
Alat ini sedemikian pentingnya sehingga menurut sebagian standar internasional, negara-negara dunia harus memiliki tiga alat radioterapi ini untuk setiap 1 juta penduduk. 
 
Alat radioterapi dan akselerator elektron linier medis produk Iran yang baru saja dipamerkan ini merupakan alat utama yang digunakan dalam pengobatan dengan radioterapi untuk penderita kanker, dan diperlukan teknologi tinggi untuk memproduksinya. 
 
Teknologi ini digunakan untuk memproduksi perangkat keras dan lunak yang dipasang di alat ini. Pasalnya, perangkat lunak diperlukan untuk menentukan lokasi radiasi, panduan radiasi dan umpan balik, harus dikontrol.
 
Menurut Rektor Universitas Ilmu Kedokteran Isfahan, teknologi ini hanya dikuasai oleh sejumlah kecil negara dunia, dan didominasi Amerika Serikat, Inggris dan Cina, sementara Iran menjadi negara keempat dunia yang masuk ke jajaran negara-negara yang menguasai teknologi ini. 
 
Pembuatan alat ini sejak awal produksi, pemasangan dan uji coba akurat serta aman, membutuhkan waktu lima tahun. Biaya total pembuatan alat ini sepertiga lebih murah dari produk asing. 
 
Tahap-tahap kajian izin produksi massal alat ini sudah dilakukan, dan selama setahun uji teknis, keamanan serta standar teknis saat ini masih dilakukan oleh sebuah tim dari organisasi makanan dan obat-obatan, Kementerian Kesehatan Iran.
 
Universitas Ilmu Kedokteran Isfahan

Para peneliti baru-baru ini menemukan kondisi baru bagi material. Setelah melakukan uji coba pada kalium, mereka menemukan bahwa logam ini bisa menjadi padat dan cair secara bersamaan pada situasi yang tepat. 

 
Material ini bisa berubah ke dalam beberapa bentuk berbeda, kebanyakan orang mengetahui bahwa material hanya bisa menjadi padat, cair dan gas. Untuk pertama kalinya para ilmuwan menemukan bahwa material, bahan, zat atau benda bisa mengalami dua kondisi pada saat yang bersamaan. 
 
Logam kalium secara khusus dapat menjadi padat dan cair secara bersamaan, jika  material ini berada di bawah tekanan dan suhu tinggi. 
 
Potassium atau kalium adalah contoh yang sangat sederhana. Bahan ini dalam kondisi padat memiliki struktur kristal dan seperti jaringan. 
 
Uji coba sebelumnya terhadap kalium yang berada di bawah tekanan tinggi menunjukkan atom-atomnya tersusun dengan metode yang rumit. 
 
Lima atom menyusun sebuah bentuk bujur sangkar, empat atom di setiap sudutnya dan satu atom berada di tengah struktur ini yang bertahan karena rantai bentuknya. 
 
Saat diletakkan di suhu panas, material ini menghilangkan rantai yang ada di antara atom-atom. Pada kondisi ini rantai kalium berubah dari bentuk yang tersusun menjadi tidak teratur.
 
Para ilmuwan melakukan penelitian untuk mengetahui kondisi ini dengan menggunakan simulasi komputer sehingga bisa mempelajari perilaku 2000 kalium pada kondisi yang tertekan. 
 
Dalam simulasi ini, ketika tekanan dan suhu dinaikkan hingga level yang dianggap cukup yaitu sekitar 2-4 gigapascal, atom-atom kalium dengan sendirinya membentuk rantai yang saling terhubung dan jaringan yang terstruktur. 
 
Pada kondisi ini, reaksi kimia di antara atom-atom jaringan cukup kuat, maka dari itu pada suhu antara 400-800 kelvin, atom-atom akan tetap padat. Akan tetapi rantai yang menghubungkan atom-atom akan meleleh, dan berubah menjadi cair.
 
Para peneliti menamai kondisi baru ini dengan "fase rantai meleleh", dan mereka percaya kondisi semacam ini bisa terjadi pada material yang lain seperti sodium bismuth. 
 
Menurut salah satu peneliti, kalium merupakan salah satu jenis logam paling sederhana yang dikenal sampai saat ini. 
 
Meskipun demikian, saat berada di bawah tekanan, ia akan berubah menjadi bentuk-bentuk dengan struktur yang rumit. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah PNAS.[]