Lintasan Sejarah 30 Juli 2020
-
Lintasan Sejarah 30 Juli 2020
Hari Arafah, Hari Para Pecinta Ilahi
1432 tahun yang lalu, tanggal 9 Dzulhijjah dalam sejarah dikenal dengan nama Hari Arafah dan termasuk hari-hari besar Islam, sekalipun tidak disebut sebagai hari raya atau ied.
Di hari ini Allah Swt menyeru hamba-hamba-Nya agar beribadah dan melakukan ketaatan. Allah sendiri mempersiapkan segalanya kepada mereka yang melakukan ibadah dan berdoa di hari ini. Pada hari penuh berkah ini setan begitu terhina dan marah.
Sejak tergelincirnya mata hari pada tanggal 9 Dzulhijjah, para jamaah haji melakukan ibadah wukuf di padang Arafah. Banyak hadis yang menyebutkan keutamaan melakukan wukuf di padang Arafah. Sementara saat matahari terbenam, para jemaah haji bergerak dari Arafah menuju Masy’ar al-Haram dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan manasik haji.
Ayatullah Mulla Ahmad Fazel Maraghi Wafat
128 tahun yang lalu, tanggal 9 Mordad 1271 HS, Ayatullah Mulla Ahmad bin Ali Akbar Fazel Maraghi meninggal dunia jenazah beliau dipindahkan ke Najaf lalu dikuburkan di pekuburan Wadi al-Salam
Ayatullah Mulla Ahmad bin Ali Akbar Fazel Maraghi lahir pertengahan abad ke-13 Hijriah. Beliau aslinya dari Maragheh dan tinggal di Tabriz. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar ilmu-ilmu keislaman, beliau pergi ke Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Di sana beliau belajar pada guru-guru besar hauzah seperti Sheikh Murtadha Anshari dan Sayid Hossein Kouh Kamareh-i.
Setelah bertahun-tahun belajar di hauzah Najaf, Ayatullah Mulla Fazel Maraghi akhirnya mencapai derajat tinggi dari keilmuan dan beliau kembali lagi ke Tabriz. Di kota ini beliau mengajarkan fiqih, ushul fiqh dan teologi. Beliau meninggalkan sejumlah karya tulis seperti catatan pinggir Nahjul Balaghah, catatan pinggir Shamadiah dan Tafsir al-Quran.
Pengeboman USS Indianapolis
75 tahun yang lalu, tanggal 30 Juli 1945, kapal USS Indianapolis ditorpedo kapal selam Jepang dan tenggelam dalam hitungan menit di perairan yang dipenuhi ikan hiu.
Korban yang selamat dari kejadian itu hanya 317 jiwa dari 1.196 penumpang. Akan tetapi, USS Indianapolis telah sukses menyelesaikan misi besarnya, yakni pengiriman komponen kunci bom atom ke Pulau Tinian di Pasifik Selatan. Bom atom itu baru akan dijatuhkan seminggu kemudian di Hiroshima.
Perkara tenggelamnya kapal Indianapolis disidangkan di pengadilan militer. Di sana Kapten Charles McVay dinyatakan bersalah karena gagal melakukan pelayaran berute zig-zag yang semestinya bisa menyelamatkan kapal dari serangan musuh. Namun, banyak awak kapal yang selamat berpendapat bahwa McVay hanya dijadikan kambing hitam. Barulah pada 2000, 55 tahun setelah Indianapolis tenggelam, Kongres AS menjernihkan nama McVay.[]