Lintasan Sejarah 5 Oktober 2020
Hari ini, Senin 5 Oktober 2020 bertepatan dengan 17 Safar 1442 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 14 Mehr 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Lailatul Harir, Malam Terakhir Perang Shiffin
1404 tahun yang lalu, tanggal 11 Shafar 38 HQ, malam terakhir perang Shiffin yang dikenal dengan nama Lailatul Harir.
Pada malam itu, pasukan Muawiyah merasakan sangat kedinginan, sehingga mereka mengeluarkan suara lolongan mirip anjing. Kata Harir sendiri dalam bahasa Arab berarti suara anjing.
Imam Ali as dengan memegang pedang Dzul Fiqar dan mengendarai kuda Nabi Saw memukul musuh. Setiap kali pedang beliau menghantam pedang musuh beliau mengucapkan takbir dan itu berarti seorang mati ditebas pedang beliau. Diriwayatkan bahwa pada malam itu saja Imam Ali as berhasil membunuh lebih dari 500 orang dan beliau sibuk berperang hingga subuh. Perang begitu hebat sehingga pedang beliau bengkok dan dengan lututnya beliau kembali meluruskannya.
Dalam perang ini, banyak tentara Imam Ali as yang gugur syahid, termasuk Ammar bin Yasir, Uwais al-Qarni, Hasyim Mirqal, anak Hasyim Khuzaimah bin Tsabit, Shafwan bin Hudzaifah, Abdullah bin Badil bersama saudaranya Abdurrahman bin Badil, Abdullah bin Harits saudara Malik al-Asytar. Mereka ini merupakan sahabat khusus Imam Ali as.
Sementara di pasukan Muawiyah banyak yang terbunuh dan perang ini berlangsung selama 14 bulan. Akhirnya dengan kelicikan Amr bin Ash dan kemunafikan sebagian orang seperti Asy’ats bin Qais al-Kindi perang Shiffin berakhir dengan perundingan.
Sidang Pertama Majlis Shura Melli Iran Pasca Kemenangan Revolusi Konstitusi
114 tahun yang lalu, tanggal 14 Mehr 1285 HS, Majlis Shura Melli Iran melakukan sidang pertamanya pasca kemenangan Revolusi Konstitusi.
Menyusul semakin meluasnya Revolusi Konstitusi Iran dan perintah Mozaffaruddin Shah Qajar untuk menerapkan tuntutan Revolusi Konstitusi, telah dilakukan pemilihan anggota Majlis Shura Melli atau Parlemen Iran. Secara keseluruhan terpilih 200 anggota legislatif yang akan bekerja selama dua tahun di posisi ini.
Poin penting dari perintah Mozaffaruddin Shah yang dikeluarkan akibat tekanan rakyat dan semakin memuncaknya tuntutan untuk melakukan Revolusi Konstitusi membuatnya terpaksa dalam perintah tulisan tangan pertamanya menjanjikan pembentukan Majlis Shura Melli. Tapi dalam tulisan tangan kedua, ia terpaksa memerintahkan pembentukan Majlis Shura Melli. Hal ini menunjukkan penegasan rakyat dan para tokoh Revolusi Konstitusi yang menginginkan syariat Islam diterapkan di negara ini. Sayangnya, sebagian kaki tangan istana dan mereka yang tertipu oleh Barat perlahan-lahan mulai menyimpangkan gerakan ini.
Sesuai dengan aturan yang dikeluarkan pemerintah, pemilu legislatif ini bersifat golongan. Kalangan keturunan raja, bangsawan, tokoh, pedagang dan ulama memilih sendiri wakilnya. Akhirnya, pada 14 Mehr 1285 HS, sidang pertama Majlis Shura Melli dilakukan dengan dihadiri para anggota Majlis, ulama, para pangeran, para menteri, duta besar dan pejabat pemerintah di istana Golestan.
Pada sidang pertama ini, Shah yang cacat dan sakit tetap dibawa menghadiri acara itu. Shah yang tengah menjalani hari-hari terakhir dari kehidupannya dengan suara yang lemah dan bergetar mengatakan, “Sejak 10 tahun lalu saya berharap dapat menyaksikan hari seperti ini. Alhamdulillah saya telah sampai kepada harapanku.”
Setelah itu pemilihan internal dilakukan dan Majlis Shura Melli memulai kerjanya. Periode pertama Majlis ini dibentuk sebuah tim untuk menyusun UUD yang dibuat dalam 51 Bab yang kemudian diratifikasi oleh para anggota Majlis dan disahkan oleh Shah. UUD itu diberinama Nezamnameh Siyasi.
Sejatinya, Majlis Shura Melli periode pertama merupakan parlemen revolusioner. Karena mereka sangat memperhatikan terciptanya prinsip-prinsip keadilan, menghalangi pengaruh istana dan para pelaku penindasan.
Slobodon Milosevic Dipecat
20 tahun yang lalu, tanggal 5 Oktober 2000, Slobodan Milosevic, diktator Yugoslavia, pelaku utama perang berdarah di Balkan, dipecat dari kekuasaannya.
Sebelumnya, selama berbulan-bulan, Milosevic mendapatkan protes dan penentangan dari dalam negeri dan dunia internasional. Pada masa perang Bosnia, Milosevic melindungi orang-orang Serbia di negara ini dan berperan utama dalam pembasmian etsnis Muslim Bosnia.
Setelah perang Kosovo, Milosevic dengan menggunakan berbagai cara, berusaha menggagalkan usaha-usaha untuk menumbangkan rezimnya. Usaha terakhirnya adalah mengubah undang-undang dasar negara dan mengadakan pemilihan presiden. Namun, dalam pemilu itu, Milosevic gagal terpilih kembali dan rakyat Serbia yang mendapat dukungan dari luar negeri, bangkit menentang Milosevic dan memaksanya untuk turun dari kursi kepresidenan. Pengganti Milosevic kemudian menyerahkannya ke pengadilan penjahat perang internasional di Belanda.