Keintiman Turki al-Faisal dengan MKO
Pangeran Turki al-Faisal, mantan ketua dinas keamanan Arab Saudi yang terkenal dengan sikap anti Irannya, dalam sebuah statemen terbaru anti Tehran pekan lalu dalam pertemuan kelompok teroris Mujahidin Khalq (MKO) berserta sponsornya di Paris, Perancis mengungkapkan proyek baru rezim Al Saud anti Republik Islam Iran. Di sisi lain, MKO menyebut statemen Turki al-Faisal yang selaras dengan mereka sebagai pesan kejujuran.
Turki al-Faisal, mantan ketua dinas keamanan Arab Saudi dan bapak hubungan rahasia Riyadh-Tel Aviv saat berpartisipasi di pertemuan MKO di Paris, menguak dimulainya babak baru permusuhan Arab Saudi terhadap Republik Islam Iran. Kesalahan strategis Arab Saudi di permainan regional tidak sedikit. Kesalahan ini dimulai dengan dukungan terhadap rezim Saddam di Irak saat perang dengan Republik Islam dan secara bertahap berubah menjadi permusuhan nyata di berbagai sidang Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC).
Dampaknya dapat disaksikan di manasik haji dan bahkan merembet ke arah persaingan tak sehat dengan Iran di OPEC. Arab Saudi bahkan rela merusak harga pasar minyak dunia dan kehilangan miliaran dolar serta menanggung defisit anggaran 100 miliar dolar hanya demi merusak Iran. Kali ini Riyadh menampilkan sandiwara politik baru dengan memanfaatkan MKO.
Arab Saudi di lembaran hitamnya selama beberapa dekade terakhir memanfaatkan terorisme dan radikalisme Takfiri sebagai sarana untuk menggapai ambisinya. Namun sepertinya ujian dan kesalahan Arab Saudi di proyek ini terus berlanjut. Kini rezim Al Saud ingin mencicipi pengalaman baru menggandeng MKO melalui salah satu pangerannya yang meski tidak memiliki jabatan resmi, namun memiliki pengaruh kuat di tengah keluarga kerajaan. Padahal MKO selama ini terkenal gagal dalam menggalang kerjasama dengan berbagai rezim termasuk Saddam, Mubarak, Gaddafi dan hubungan langsung dengan Mossad. Di sisi lain, rupanya Arab Saudi menutup mata terhadap realita ini.
Catatan syuhada 17 ribu yang gugur di tangan anasir imperialis yang saat ini dengan bebas keluar masuk negara-negara Barat dan menggelar konferensi di Paris, merupakan dokumen yang tak dapat dipungkiri dari kinerja hitam kelompok teroris Mujahidin Khalq (MKO). Sementara Turki al-Faisal dengan mendukung kelompok ini telah menorehkan rekor baru pembibitan teroris oleh keluarga al-Saud serta menunjukkan wajah sejati Arab Saudi kepada dunia.
Anasir MKO antara tahun 1979-1981 meneror sejumlah pejabat dan tokoh revolusi serta berbagai lapisan masyarakat Iran. Setelah terpaksa lari dari Iran, MKO di bawah perlindungan negara Eropa dan Amerika selama beberapa waktu menetap di Perancis dan kemudian atas kesepakatan yang dicapai, kelompok ini dari Perancis pindah ke Irak. Anasir MKO selama di Irak aktif membantai warga selatan Irak dan warga Kurdistan di Irak.
Pasca invasi Amerika Serikat ke Irak dan tumbangnya rezim Saddam, MKO masih mendapat perlindungan Amerika dan Eropa, yanki negara-negara pengklaim pelopor anti terorisme dan pendukung Hak Asasi Manusia (HAM). Amerika pada 28 September 2012 mencoret nama MKO dari list hitam organisasi teroris dan dewasa ini, Arab Saudi memuji kelompok teroris ini dan mendukungnya.
Arab Saudi sepertinya saat ini memiliki kebijakan tertentu dan difokuskan pada dua tujuan. Tujuan pertama adalah mengobarkan instabilitas di kawasan dan jika memungkinkan membuat Iran kacau balau. Pengobaran isu Syiah-Sunni dan dorongan perang antar-mazhab, tudingan beruntun kepada Iran, dan upaya memprovokasi friksi sektarian dan etnis merupakan opsi Arab Saudi saat ini.
Dengan kata lain, Arab Saudi telah mengeluarkan seluruh kartunya dan kini Riyadh tidak memiliki pilihan lain kecuali menghancurkan kawasan bersama dirinya. Arab Saudi sampai detik ini menyeret sebagian wilayah di kawasan terlibat bentrokan dengan kelompok teroris Takfiri Daesh.
Adapun tujuan kedua proyek Turki al-Faisal adalah ancaman langsung kepada Iran melalui dukungan nyata terhadap kelompok teroris MKO. Sepertinya menyusul kekalahan beruntung di front muqawama di Suriah dan Lebanon serta Irak, Arab Saudi berusaha mengubah medan permainan di kawasan. Namun kali ini, pangeran Arab Saudi ini meski memiliki pengalaman intelijen dan mediasi menghubungan Riyadh dan Tel Aviv, namun masih tetap melakukan kesalahan prediksi.
Pengumuman dukungan penuh Al Saud kepada kelompok teroris seperi MKO mengindikasikan bahwa posisi negara ini masih terjepit dan tidak memiliki pilihan kecuali memanfaatkan kartunya yang telah terbukti gagal. Namun begitu kecil kemungkinan bahwa rezim Al Saud yang memiliki pengalaman minim tidak mengatahui nasib menyedihkan MKO saat menggalang kerjasama dengan diktator seperti Saddam. Oleh karena itu, mengherankan jika setelah 25 tahun para pangeran Arab Saudi akan melakukan tindakan seperti Saddam memanfaatkan MKO untuk mengancam dan menekan Republik Islam Iran. Sementara rezim Saddam gagal mengambil keuntungan dari MKO, meski kelompok teroris ini berada di jaman keemasannya.
Meski pengalaman politik dan keamanan Turki al-Faisal sebelumnya menunjukkan esensi langkah Arab Saudi dalam memanfaatkan kartu tersebut dalam koridor strategi usangnya mendukung kelompok teroris dan rezim Zionis. Namun Turki al-Faisal dengan kesalahan strategisnya menghadiri serta merilis statemen palsu di pertemuan anasir MKO kembali menunjukkan peran besar Riyadh dalam mendukung terorisme.
Turki al-Faisal, 71 tahun selama beberapa dekade memainkan peran besar di bidang intelijen dan mediasinya di berbagai sektor politik dan keamanan Arab Saudi. Turki al-Faisal anak ketujuh Raja Faisal dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri serta sekolah-sekolah Barat dan ia adalah saudara mantan menteri luar negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal. Di tahun 1973, Turki al-Faisal diangkat sebagai penasehat kantor kerajaan dan di tahun 1977 terpilih sebagai ketua dinas intelijen Arab Saudi hingga tahun 2001.
Di era tersebut, Arab Saudi mulai memberi dukungan besar-besaran kepada kelompok teroris di Afghanistan dan membentuk al-Qaeda berdasarkan kepentingan dan kebijalan luar negeri Amerika selama era perang dingin. Turki al-Faisal selama dua tahun menjabat duta besar Arab Saudi di Amerika Serikat setelah Bandar bin Sultan. Ia juga pernah aktif sebagai diplomat Arab Saudi di Inggris dan Irlandia.
Langkah Turki al-Faisal menormalisasikan hubungan Riyadh dengan Tel Aviv di tahun 2014 dipublikasikan melalui pesan persahabatan di Konferensi Perdamaian Israel. Pesan ini menyebutkan, “...Bayangkan andaikata Saya mampu naik pesawat penerbangan langsung dari Riyadh ke al-Quds dan dari sana Saya menuju Masjid Kubah Emas (Qubah Sakhra) dan makam Nabi Ibrahim di al-Khalil mengendarai taksi serta kemudian berkunjung ke Gereja al-Mahd di Betlehem dan mengunjungi Musium Holocaust...”
Tahun itu, Turki al-Faisal juga bertemu dan berunding langsung dengan Amos Yadlin, mantan ketua dinas intelijen militer Israel di Brussels. Setelah pertemuan tersebut, Turki al-Faisal mengatakan terjadi banyak perubahan di pandangan Arab terhadap Israel. Pangeran Arab Saudi ini khususnya selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa dirinya banyak terpengaruh Israel dan kebijakan luar negeri Tel Avif sangat mempengaruhi pengambilan keputusan di Riyadh.
Arab Saudi di proses perdamaian Arab di Camp David antara Mesir dan Israel juga memiliki peran signifikan, serta di kesepakatan terbaru dengan Mesir soal penyerahan dua kepulauan strategis Tiran dan Sanafir menunjukkan bahwa negara ini berusaha memanfaatkan poin ini untuk menggalang koordinasi keamanan lebih besar dalam koridor hubungan Riyadh-Tel Aviv.
Menyusul kesepakatan ini, Mesir menyerahkan dua pulau strategis Tiran dan Sanafir di Laut Merah kepada Arab Saudi. Pulau Tiran yang memiliki luas 80 km persegi terlatak di mulut Selat Tiran yang memisahkan Laut Merah dan Teluk Aqaba (Eilat). Sementara Pulai Sanafir terletak di timur Pulau Tiran. Sisi strategis pulau ini dari sisi bahwa Teluk Tiran merupakan satu-satunya jalur bagi Israel untuk mengakses Laut Merah dari Teluk Aqaba serta memainkan peran penting dalam perdagangan rezim ini.
Faktor perekat Saudi-Israel dengan catatan seperti ini, kini muncul melalui konferensi MKO. Kehadiran Turki al-Faisal di pertemuan kelompok teroris Mujahidin al-Khalq di Paris mengindikasikan bahwa Riyadh berusaha memanfaatkan seluruh sarana anti Iran dan poros muqawama di kawasan, meski jika sarana tersebut berupa tali yang telah usang seperti MKO.