Tragedi 11 September dan Peran Saudi
Selama beberapa bulan terakhir, wajah Saudi sebagai sekutu utama AS di dunia Arab semakin tercoreng. Bahkan, beberapa hari belakangan ini, atas permintaan sebagian keluarga korban peristiwa 11 September, rakyat AS menuntut investigasi mengenai peran para pejabat Arab Saudi dalam peristiwa teroris tersebut.
Rangkaian sepak terjang rezim Al Saud, di antaranya agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi terhadap Yaman, diskriminasi terhadap perempuan di dalam negeri, dan upaya meluaskan pengaruh Riyadh di negara-negara Muslim dengan menggunakan pendapatan minyaknya, serta penyebaran ekstremisme di berbagai negara, menyulut kebencian dan kemarahan masyarakat AS terhadap rezim Al Saud.
Aksi protes mereka selama beberapa hari belakangan ini semakin meningkat, terutama setelah sebagian keluarga korban peristiwa 11 September menuntut penyelidikan mengenai peran para pejabat Arab Saudi dalam peristiwa serangan teroris itu.
Pasca peristiwa serangan terhadap gedung WTC, pejabat Arab Saudi membantah keterlibatan warganya dalam serangan tersebut. Padahal sebanyak 15 orang dari 19 pelaku serangan teroris itu adalah warga negara Saudi. Saat ini dokumen terpenting yang membuktikan keterlibatan Saudi dalam peristiwa 11 September adalah laporan rahasia setebal 28 halaman yang disampaikan Kongres AS di tahun 2002 mengenai serangan teroris. Ironisnya, George W. Bush mengintruksikan untuk menyimpan rapat-rapat laporan tersebut. Tapi kemudian, Obama di akhir masa jabatannya menyampaikan masalah tersebut ke publik AS.
Dokumen 28 halaman tersebut hanya sebagian dari investigasi awal mengenai serangan 11 September 2001. Sebelum Juli tahun ini, berkas rahasia ini masih tersimpan rapat di gudang arsip. Sejatinya, laporan setebal 28 halaman ini menjelaskan rincian mengenai jaringan warga Saudi yang hidup di AS dan kemungkinan membantu pelaku melancarkan aksinya menabrakkan pesawat ke gedung WTC pada 11 September 2001 silam.
Pemerintahan Bush menilai dokumen ini sebagai bagaian dari keamanan nasional AS. Oleh karena itu, ia melarang segala bentuk publikasi berkaitan dengan dokumen setebal 28 halaman tersebut. Lebih dari satu dekade, Gedung Putih menyembunyikan mengenai fakta tentang keterlibatan Arab Saudi dalam serangan teroris di AS. Tapi kemudian Obama mengambil jalan lain dan menyetujui publikasi laporan itu.
Dokumen rahasia ini menyebut FBI dan CIA mengetahui kemungkinan hubungan antara Bin Khaled Al-Muhdar dan Nawaf Al-Hazami, dua pelaku penyanderaan pesawat dalam serangan 11 September dengan dua orang pejabat Saudi, yang salah satunya memiliki hubungan dengan duta besar Arab Saudi di AS. Dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa saudara tiri pemimpin AlQaeda, Osama Ben Laden, bernama Abdullah ben Laden pernah bekerja di kedutaan Arab Saudi di Washington. Ia juga disebut-sebut memimpin sebuah organisasi yang mendukung teroris.
Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan belum lama ini, Abdullah adalah ketua Organisasi Kerja sama Pemuda Muslim Arab" yang mendukung gerakan teroris internasional. Selain itu, FBI memiliki bukti yang menunjukkan adanya kerja sama antara Abdullah dengan Muhammad Atha dan Marwan Al-Shahi. Kedua orang tersebut hadir dalam kasus penabrakkan pesawat ke gedung WTC.
Tidak hanya itu, laporan setebal 28 halaman tersebut menjelaskan sejumlah nama yang warga Saudi yang dicurigai memiliki hubungan dengan pelaku penyerangan 11 September 2001. Dokumen rahasia ini juga menjelaskan mengenai jaringan Saudi di AS yang membantu untuk melacak jejak serangan teroris lebih dari satu dekade itu.
Laporan FBI menyebutkan bahwa Muhamamd Rafiq Qadir Harunami termasuk salah seorang teman dekat Abdullah Ben Laden yang memiliki hubungan dengan Muhammad Atha dan Al-Shahi. Selain itu, FBI dalam laporannya mengungkapkan bahwa Abdullah Ben Laden termasuk salah seorang staf kedutaan Arab Saudi di AS yang memiliki hubungan dengan organisasi teroris.
Berdasarkan informasi yang diberikan FBI, setidaknya dua orang dari pelaku serangan kemungkinan adalah personil intelejen Arab Saudi. Selain itu dokumen rahasia FBI mengungkapkan kerja sama sebagian anggota angkatan laut Arab Saudi dengan pelaku penyerangan 11 September 2001.
Lafi Al-Harbi, salah seorang personil angkatan laut Saudi selama 17 hari di bulan Maret 2000 lebih dari sembilan kali menjalin kontak dengan pelaku serangan teroris 11 September, terutama Al-Muhdar dan Al-Hazami. Laporan FBI juga menunjukkan adanya hubungan antara seorang tersangka teroris dengan salah seorang pangeran Arab Saudi. Nama tersangka tersebut tidak disebutkan dalam laporan FBI. Ia bekerja sebagai staf di sebuah jalur penerbangan Arab Saudi.
CNN mempublikasikan sebuah bukti yang menunjukkan hubungan antarpelaku Al-Qaeda dan sebuah perusahaan yang salah satu pemiliknya adalah pangeran Bandar bin Sultan, salah seorang anggota penting keluarga kerajaan sekaligus mantan duta besar Arab Saudi di AS. Dari sini, jejak keterlibatan pangeran Bandar bin Sultan bisa dilacak melalui hubungannya dengan salah seorang pelaku serangan teroris.
Pada tahun 2002, buku telpon anggota al-Qaeda ditemukan di Pakistan, dan akses telponnya disadap. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa personil keamanan AS menemukan buku telpon Abu Zubidah dan melacak seluruh nama yang terdapat dalam daftar nomor telpon yang ada di sana. Di buku tersebut, FBI menemukan sejumlah nomor penting di AS, salah satunya adalah sebuah nomor perusahaan yang dikuasai manajemennya oleh rumah Bandar bin Sultan di Colorado.
FBI menuturkan,"Sejak 19 pelaku serangan 11 September menyandera empat pesawat dan mengubah jalur penerbangan AS, kemungkinan keterlibatan resmi Arab Saudi dalam serangan ini akan mempengaruhi hubungan bilateral," Kini, dengan terbongkarnya dokumen rahasia Kongres AS tahun 2002 setebal 28 halaman, meskipun laporan ini tidak mengungkapkan hubungan langsung keterlibatan Bandar bin Sultan dalam serangan teroris 11 September, tapi apakah tidak ada pertanyaan baru mengenai peran Arab Saudi dalam serangan tersebut.”
Bob Graham, ketua komisi investigasi Kongres AS yang bertanggung jawab mengenai laporan 28 halaman terseeut mengatakan, "Tidak satupun dari dua nomor telpon ini dipublikasikan sebelumnya. Oleh karena itu, harus dicari kontak telpon dengan orang yang tahu nomor ini, dan miliki siapa, sehingga masuk dalam daftar telpon Abu Zabidah".
Terbongkarnya hubungan tidak langsung antara Bandar Bin Sultan dengan salah seorang anggota Al-Qaeda merupakan bagian dari kepingan informasi baru dalam dokumen rahasia. FBI dan CIA berkesimpulan bahwa rangkaian fakta di lapangan menunjukkan tidak adanya seseorang dari pihak keluarga kerajaan yang mendukung serangan 11 September 2001. Tapi Graham meyakini adanya hubungan tidak langsung antara mantan duta besar Saudi di AS dengan serangan teroris itu, yang memerlukan penyelidikan lanjutan.
Dokumen 28 halaman juga menyinggung hubungan antara Bandar bin Sultan dengan salah seorang warga Saudi bernama Osama Basnan yang berada di AS ketika peristiwa terjadi dan bantuannya terhadap pelaku penabrakkan pesawat pada tanggal 11 September 2001. Dokumen ini menyinggung sejumlah uang yang diberikan bandar kepada Osama Basnan dan istrinya. Dilaporkan, Basnan menerima cek senilai 15.000 dolar dari Bandar, dan data ini juga masuk laporan FBI. Selain itu, istri Basnan juga secara langsung menerima cek dari Bandar.
Meski FBI dan CIA masih mengelak untuk mengakui keterlibatan langsung Bandar Bin Sultan terhadap serangan teroris 11 September 2001, tapi masyarakat AS semakin menyadari fakta mengenai keterlibatan Saudi yang tidak bisa ditutupi oleh kepentingan politik itu.