Penyebaran Wabah di Yaman, Dampak Pelanggaran HAM
Rezim Arab Saudi berdasarkan kebijakan ekspansionis dan haus perangnya, didukung sejumlah negara Arab, terus melakukan pembantaian terhadap rakyat Yaman, dan setiap hari selalu menambah kesulitan hidup bagi mereka. Rakyat tertindas Yaman selain menderita karena rumah-rumah mereka hancur, terlantar dan kelaparan, sekarang harus menghadapi ancaman kematian akibat penyebaran wabah penyakit.
Yaman adalah negara termiskin di jazirah Arab yang berpenduduk sekitar 27, 58 juta jiwa menurut data Bank Dunia tahun 2016. Lebih dari 18 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan sekitar tujuh juta berada di bawah ancaman kelaparan. Selain masalah kelaparan dan kelangkaan makanan, serangan brutal rezim Al Saud ke Yaman, juga mengakibatkan tewasnya warga sipil dan hancurnya infrastruktur negara itu. Agresi militer Saudi menyebabkan fasilitas medis Yaman hancur dan tersebarnya wabah berbagai jenis penyakit. Saat ini penyebaran wabah penyakit di Yaman terjadi begitu cepat dan menewaskan banyak warga, terutama perempuan dan anak-anak.
Stephen O'Brien, Wakil Sekjen PBB urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat dalam laporannya untuk Dewan Keamanan mengatakan, tidak benar bahwa saat ini krisis sedang membayangi Yaman, karena krisis sebenarnya telah melanda seluruh wilayah Yaman. Hal itu terjadi di hadapan mata kita dan yang paling menderita adalah masyarakat umum. Kondisinya bahkan lebih buruk lagi, perang telah menciptakan kelaparan yang terjadi begitu cepat. Yaman sebenarnya tidak sedang berjuang melawan kekeringan. Karena jika tidak ada perang, maka tidak akan pernah ada kelaparan, penderitaan, penyakit atau kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengabarkan peningkatan angka kematian di tengah rakyat Yaman akibat terkena wabah penyakit. WHO mengumumkan, sejak bulan April 2017, jumlah korban wabah mencapai lebih dari 1.800 orang. Pada saat yang sama, sekitar 356.591 orang terjangkiti atau diduga terkena wabah penyakit. Dalam laporan WHO disebutkan, lima provinsi Yaman yang penduduknya paling banyak terkena wabah adalah Sanaa, Al Hudaydah, Hajjah, Amran dan Ibb. Lebih dari setengah warga Yaman yang terkena wabah yaitu 53,9 persen berada di provinsi-provinsi itu.
Provinsi Hajjah adalah provinsi yang jumlah warganya paling banyak terkena wabah penyakit. Di provinsi ini, 346 orang tewas akibat terkena wabah. Di urutan berikutnya adalah Provinsi Ibb dengan 231 kasus kematian akibat wabah, lalu Provinsi Al Hudaydah dengan 210 kasus, Provinsi Sanaa ada 159 kasus dan Provinsi Amran dengan 149 kasus. Menurut laporan WHO, wabah penyakit menyebar di 21 provinsi Yaman dan hanya di Provinsi Arkhabil Saqtari, di Timur negara itu, hingga kini belum ditemukan kasus penyebaran wabah.
Meski lembaga-lembaga kemanusiaan sudah berusaha mengatasi masalah wabah penyakit di Yaman, namun epidemi penyakit terus terjadi di negara itu. Penyebaran penyakit lebih banyak terjadi di wilayah-wilayah pertempuran antara pasukan Saudi bersama pasukan bayaran afiliasi pemerintahan terguling Yaman, dengan gerakan rakyat Ansarullah. Surat kabar Jerman, Der Spiegel menulis, tidak ada satupun tempat di dunia ini dimana wabah menyebar begitu cepat, seperti di Yaman. Jumlah warga Yaman yang terkena wabah meningkat menjadi 360.000 orang dan ada kemungkinan terus bertambah. Di Yaman, Sudan Selatan, Somalia, Nigeria dan Kenya, terjadi wabah dan dalam beberapa bulan terakhir jumlah korbanya terus membengkak.
Christian Lindmeier, Juru Bicara WHO terkait hal ini mengatakan, kondisi di Yaman tercipta sedemikian rupa sehingga kemungkinan untuk terjadinya wabah terbuka lebar. Dampak perang internal dan ketidakamanan menyebabkan banyak orang mengungsi dan mereka dapat menjadi faktor penyebaran penyakit. Peter Maurer, Presiden Komite Palang Merah internasional, ICRC mereaksi terjadinya penyebaran luas penyakit di Yaman dengan mendatangi negara itu dan dalam lawatan lima harinya ia mengunjungi kota Aden, Taiz dan Sanaa.
Maurer memperingatkan meluasnya wabah penyakit di Yaman dan memburuknya kondisi rakyat negara itu akibat blokade total Saudi. Ia menuturkan, hingga akhir tahun 2017, jumlah warga Yaman yang terkena wabah akan menembus angka 600.000 orang. Presiden ICRC itu menegaskan, kami sudah melakukan sejumlah langkah pencegahan seperti mengumpulkan sampah, pengolahan air bersih, memperbaiki jaringan penyaluran air yang berpengaruh besar dalam penyebaran wabah, dan bersama lembaga-lembaga lain, melakukan aktivitas medis untuk mencegah penyebarluasan wabah penyakit di negara ini.
Oxfam, organisasi amal internasional yang bergerak di bidang penanggulangan bencana dan advokasi, hari Jumat (28/7) menyampaikan laporan tentang kondisi menyedihkan terkait penyebaran wabah di Yaman. Dalam laporan itu disebutkan, jumlah warga Yaman yang terkena wabah diperkirakan mencapai lebih dari 600.000 orang. Sementara dalam laporan WHO dikatakan, sekitar 370.000 warga Yaman diduga terkena wabah dan 1.828 warga meninggal dunia akibat wabah sejak April 2017. Jumlah ini jauh lebih besar dari warga Haiti yang dilaporkan terkena wabah pada tahun 2011. Saat itu ada 340.311 warga Haiti yang terkena wabah.
Laporan Kantor Koodinator urusan Kemanusiaan PBB mengatakan, jumlah warga Yaman yang membutuhkan bantuan kemanusiaan menembus angka 20 juta orang. Peningkatan jumlah warga Yaman yang terkena wabah berkaitan langsung dengan keamanan pangan dan penyebaran virus atau wabah. Virus penyakit menyebar melalui air dan makanan yang tercemar. Namun sungguh disayangkan serangan brutal Saudi ke Yaman telah menghancurkan seluruh infrastruktur dan menyebabkan terjadi pencemaran serta penyebaran beragam jenis penyakit menular. Rakyat Yaman tidak punya akses untuk mendapatkan makanan dan minuman sehat. Di saat yang sama, serangan ke rumah sakit dan pusat-pusat medis Yaman telah mengganggu proses pengobatan pasien.
Berdasarkan dokumen Hak Asasi Manusia PBB, akses mendapatkan air bersih dan memiliki sistem sanitasi, merupakan salah satu hak asasi setiap orang dan dalam setiap perang, bangunan-bangunan terkait dengan dua hal itu tidak boleh diserang. Berdasarkan resolusi 64/292, Agustus 2010, Majelis Umum PBB bertema "Hak atas air dan sistem sanitasi", akses atas air minum sehat dan sistem sanitasi, adalah hak asasi setiap manusia.
Resolusi ini mengakui secara resmi akses atas air bersih dan sistem sanitasi sebagai faktor utama terwujudnya hak asasi manusia dan menekankan tanggung jawab setiap negara untuk meningkatkan dan mendukung seluruh hak asasi manusia yang saling terkait dan tak terpisahkan. Selain itu, berdasarkan komentar umum No.15 (2002), Komite Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, jika masyarakat tidak memiliki air bersih yang cukup, maka hak makan mereka tidak akan terwujud.
Tedros Adhanom, Dirjen WHO setelah berkunjung ke Yaman mengatakan, meluasnya wabah di Yaman adalah krisis penyakit terbesar di dunia. Akan tetapi yang harus lebih diperhatikan masyarakat internasional adalah akar krisis besar dunia ini. Peter Maurer, Presiden ICRC mengungkapkan, tidak diragukan wabah di Yaman telah menyebar secara luas akibat perang. Sejak lama ICRC sudah memperingatkan, perusakan infrastruktur Yaman adalah pelanggaran terorganisir atas prinsip-prinsip kemanusiaan di negara itu, dan penyebaran wabah penyakit juga merupakan dampak langsung dari penghancuran tersebut.
Hancurnya bandara Sanaa telah menghentikan proses penyaluran obat dan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Yaman. Seluruh instansi kesehatan Yaman lumpuh dan negara ini tidak mampu mengatasi meluasnya wabah. Di tengah kondisi mengenaskan di Yaman ini, Presiden Amerika Serikat justru melakukan lawatan luar negeri pertamanya ke Saudi dan menandatangani kontrak penjualan senjata yang akan digunakan untuk membantai rakyat Yaman. Tapi bukan hanya Amerika, negara-negara Barat lain seperti Perancis, Inggris dan Jerman juga menjual senjatanya ke Saudi.