Bulan Perjamuan Tuhan (20)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i58244-bulan_perjamuan_tuhan_(20)
Tanggal 20 Ramadhan tahun ini jatuh bertepatan dengan hari wafatnya Imam Khomeini ra dan kita akan memanfaatkan momen ini untuk menelisik tentang kedudukan bulan Ramadhan dalam pandangan tokoh revolusioner ini dan cara beliau menjalani bulan suci ini. Ramadhan adalah bulan perjamuan Ilahi, musim semi al-Quran, dan bulan penyucian jiwa. Allah Swt memberikan nikmat puasa kepada hamba-Nya sehingga mereka dengan amal ibadahnya dapat meraih derajat takwa.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 07, 2018 11:11 Asia/Jakarta

Tanggal 20 Ramadhan tahun ini jatuh bertepatan dengan hari wafatnya Imam Khomeini ra dan kita akan memanfaatkan momen ini untuk menelisik tentang kedudukan bulan Ramadhan dalam pandangan tokoh revolusioner ini dan cara beliau menjalani bulan suci ini. Ramadhan adalah bulan perjamuan Ilahi, musim semi al-Quran, dan bulan penyucian jiwa. Allah Swt memberikan nikmat puasa kepada hamba-Nya sehingga mereka dengan amal ibadahnya dapat meraih derajat takwa.

Al-Quran menyebut Ramadhan sebagai bulan pemberi petunjuk bagi manusia; sebuah bulan yang 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari kedua adalah pemberian ampunan (maghfirah), dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari siksa api neraka. Ada banyak keutamaan dan pahala yang disediakan kepada orang yang berpuasa di bulan ini. Semua keutamaan ini tentu saja akan diraih oleh mereka yang memahami hakikat puasa dan menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam hidupnya.

Imam Khomeini ra menganggap bulan suci Ramadhan sebagai bulan yang membawa banyak berkah untuk manusia, dan percaya bahwa keberkahan ini menjadi milik mereka yang bisa memanfaatkannya di bulan ini. Bapak Pencetus Revolusi Islam ini menaruh perhatian khusus pada bulan Ramadhan dan mempersiapkan diri sebelum memasuki bulan ini yaitu; memperbaiki diri, mengendalikan hawa nafsu, menyucikan jiwa, mengubah kondisi lahir dan batin dari sebelumnya, bertaubat, dan menyiapkan diri untuk bermunajat kepada Allah.

Imam Khomeini ra

Dalam sebuah pesan menyambut Ramadhan, Imam Khomeini berkata, "Perbaikilah diri kalian dan fokus kepada Allah Swt. Beristighfar dari perilaku yang tidak baik. Jika kalian telah melakukan dosa, bertaubatlah sebelum mendatangi bulan Ramadhan dan biasakan lisan kalian untuk bermunajat kepada Allah." Beliau menganggap langkah awal memperbaiki diri adalah menjauhi ghibah (mengumpat atau menggunjing) dan fitnah. Menurutnya, puasa seseorang akan diterima dan memperoleh rahmat Allah jika ia mampu mengontrol anggota badannya. Dalam kondisi ini, puasa akan menjadi perisai yang kuat terhadap godaan syaitan.

Tokoh revolusioner ini menjelaskan bahwa untuk sampai ke sana, seseorang harus berjanji dengan Allah Swt dan membuat keputusan bersejarah untuk dirinya. Beliau mengatakan, "Berjanjilah dengan Tuhan kalian bahwa kalian akan menghindari ghibah, fitnah, dan berkata buruk kepada orang lain selama Ramadhan. Kendalikan lisan, penglihatan, pendengaran, tangan, dan seluruh anggota badan kalian. Waspadalah dalam bertutur kata dan bertindak, karena dengan perbuatan baik ini mungkin Allah akan memperhatikan kalian dan kalian akan menjadi orang yang baik setelah melewati bulan puasa – ketika syaitan dilepas dari belenggu – dan selanjutnya tidak lagi termakan tipuan syaitan."

Di antara kegiatan khusus Imam Khomeini ra selama Ramadhan adalah fokus pada ibadah dan shalat tahajud. Beliau memandang ibadah sebagai sarana untuk mencapai cinta Ilahi dan dalam kamus cinta Ilahi, ibadah tidak boleh dilihat sebagai sarana untuk meraih surga. Salah seorang sahabatnya berkata, "Di bulan Ramadhan, Imam Khomeini menciptakan perubahan khusus dalam hidupnya yang sesuai dengan bulan ini. Beliau memanfaatkan bulan ini sepenuhnya untuk membaca al-Quran, berdoa, dan mengerjakan amalan sunnah yang terdapat di bulan Ramadhan."

Salah satu ibadah khusus di bulan Ramadhan adalah membaca al-Quran yang dibarengi dengan pemahaman dan memperhatikan makna dan tafsirnya. Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran dan membaca firman Allah Swt di bulan ini memiliki keutamaan yang besar. Dalam banyak riwayat, Ramadhan disebut sebagai musim semi al-Quran.

Di sepanjang Ramadhan, Imam Khomeini menaruh perhatian khusus untuk membaca al-Quran. Di setiap waktu walaupun singkat, beliau selalu menggunakannya untuk membaca kitab suci ini, dan kegiatan ini bahkan dilakukan beberapa menit sebelum menu berbuka dihidangkan. Ulama besar ini juga membaca al-Quran selepas shalat malam sampai waktu subuh tiba.

Salah seorang pengawalnya di kota Najaf mengisahkan bahwa di bulan Ramadhan, Imam Khomeini setiap harinya membaca 10 juz al-Quran, artinya setiap 3 hari beliau mengkhatamkan bacaan al-Qurannya.

Imam Khomeini ra

Hidangan langit dan makanan spiritual dihadirkan untuk menyambut Ramadhan seperti, turunnya al-Quran, malam Lailatul Qadar, turunnya para malaikat, penentuan qadha dan qadar, dan hal-hal lain. Untuk itu, Ramadhan disebut bulan perjamuan Tuhan. Dalam pandangan Imam Khomeini, Allah Swt telah mengundang semua manusia ke perjamuannya pada bulan Ramadhan. Makna perjamuan Tuhan di alam materi adalah bahwa kita harus menjauhkan seluruh syahwat duniawi.

Menurut beliau, perjamuan ini kadang menjadi tidak dipahami dan hal ini secara langsung berkaitan dengan perilaku manusia, terutama di masa sekarang, ketika banyak penindasan dan konflik menimpa mereka. Dalam hal ini, Imam Khomeini menerangkan, "Semua telah diundang ke perjamuan Ilahi, semua menjadi tamu Allah Swt. Jika manusia masih mengikuti hawa nafsunya, berarti dia belum sampai ke perjamuan ini dan jika pun sudah sampai, ia tidak mencicipinya. Semua kegaduhan yang kalian saksikan di dunia karena mereka tidak memanfaatkan perjamuan ini dan menolak menjadi tamu Allah. Jadi, berusahalah untuk menyambut undangan ini."

Imam Khomeini meyakini makna dari puasa hakiki adalah tidak melakukan penindasan dan juga tidak menerima penindasan. Beliau berkata, "Jika di bulan Ramadhan ini, kaum Muslim secara berjamaah telah memasuki perjamuan Tuhan dan membersihkan dirinya, maka mustahil bagi mereka akan menerima penindasan. Tunduk pada kezaliman sama seperti membiarkan orang zalim melakukan penindasan; semua ini bersumber dari tidak adanya tazkiyatun nafs. Jika kita telah mencapai tazkiyatun nafs, kita tidak akan menerima kezaliman dan orang zalim. Ini semua karena kita belum bersih."

Kehadiran malam Lailatu Qadar telah menambah keutamaan bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam turunnya para malaikat dengan izin Allah Swt, dan malam penentuan ketetapan manusia untuk satu tahun ke depan. Maksud dari Qadr adalah penentuan dan penetapan. Pada malam itu, Allah Swt menentukan nasib manusia untuk satu tahun, kehidupan dan kematian, rezeki, kebahagiaan dan kesengsaraan, dan segala urusan lain.

Mengenai malam Lailatu Qadar, Imam Khomeini mengatakan, "Carilah malam mulia ini dan raihlah berkah-berkah yang terdapat pada malam diturunkannya al-Quran ini, karena semua kebahagiaan dunia diturunkan pada malam itu dan untuk itu, Lailatul Qadar disebut lebih utama dari semua malam di dunia ini."

Imam Khomeini ra

Beliau menekankan bahwa jika setelah berakhirnya bulan Ramadhan, tidak ada perubahan apapun dalam perbuatan dan tindakan kita, dan gaya hidup kita juga tidak berbeda dengan sebelum bulan puasa, maka tujuan dari puasa itu belum tercapai. Imam Khomeini percaya bahwa derajat takwa harus diraih sebelum berpisah dengan bulan Ramadhan dan Hari Raya orang mukmin terletak di penghujung bulan ini.

"Perlu dicatat bahwa Hari Raya akan menjadi milik kalian jika kalian berpisah dengan perjamuan ini dengan benar. Hari Raya adalah milik orang yang telah memperoleh manfaat dari perjamuan ini. Sebagaimana kita harus meninggalkan syahwat lahiriyah, maka syahwat batin yang menjadi penghalang utama jalan manusia, juga harus dicegah," jelas Imam Khomeini.

Beliau menegaskan, “Bersungguh-sungguhlah meraih berkah Ramadhan dan jangan biarkan berlalu begitu saja. Nuansa religius yang dirasakan selama Ramadhan harus tetap dijaga untuk menjalani bulan-bulan lain.”