Bulan Perjamuan Tuhan (21)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i58250-bulan_perjamuan_tuhan_(21)
Pada malam 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah, Imam Ali as kembali mengingat ucapan Rasulullah Saw yang disampaikan kepadanya di bulan Ramadhan. Ketika itu Rasul Saw berkata, "Sebuah peristiwa pahit akan menimpamu di bulan ini. Aku melihatmu tengah melaksanakan shalat ketika seorang paling celaka di muka bumi menghantam kepalamu dengan pedang sehingga jenggotmu bersimbah darah yang bercucuran dari kepalamu."
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 07, 2018 11:42 Asia/Jakarta

Pada malam 19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah, Imam Ali as kembali mengingat ucapan Rasulullah Saw yang disampaikan kepadanya di bulan Ramadhan. Ketika itu Rasul Saw berkata, "Sebuah peristiwa pahit akan menimpamu di bulan ini. Aku melihatmu tengah melaksanakan shalat ketika seorang paling celaka di muka bumi menghantam kepalamu dengan pedang sehingga jenggotmu bersimbah darah yang bercucuran dari kepalamu."

Pada malam itu, Imam Ali as menjadi tamu di rumah putrinya, Ummu Kultsum al-Kubra di Kufah. Setelah berbuka puasa, Amirul Mukminin segera bangkit untuk melaksanakan shalat dan melanjutkan dengan munajat. Ia mengelus jenggotnya sambil berkata, “Ya Allah! Janji kekasih-Mu Rasulullah sudah dekat. Ya Allah! Jadikan kematian sebagai keberkahan bagi Ali."

Ketika melangkah menuju ke pintu rumah, ikat pinggang dan kain rida'nya tersangkut di pintu dan terlepas. Imam berkata kepada dirinya, "Wahai Ali, kencangkanlah ikat pinggangmu untuk kematian." Saat sedang mendirikan shalat di mihrab Masjid Kufah, Ibnu Muljam datang mendekat dan mengayunkan pukulan pedangnya ke kepala Ali, tepat ketika ia hendak bangun dari sujudnya.

Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali

Darah mengucur deras dari kepala suci itu dan dengan suara lengking, Imam Ali berteriak, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah beruntung." Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya sembari mengucapkan firman Allah Swt dalam surat Thaha ayat 55; "Dari tanah itulah Kami jadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain."

Racun di pedang Ibnu Muljam menyebar cepat ke sekujur tubuh Imam Ali as. Putranya, Hasan dan Husein as bersama para pemuda Bani Hasyim segera membawa Imam ke rumah. Wajah Ali as seketika pucat pasi karena pendarahan hebat. Selanjutnya, Ibnu Muljam dengan tangan terikat dibawa ke sisi Imam Ali. Sambil menatap orang yang ingin membunuhnya, Imam berkata, "Apakah selama ini aku menjadi pemimpin yang jahat bagimu hingga engkau membalas aku seperti ini?"

Ketika itu, Amirul Mukminin juga mengingatkan putranya, Imam Hasan as tentang cara memperlakukan Ibnu Muljam. Ia berkata, "Wahai anakku! Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota badannya, karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, 'Jangan memutilasi anggota badan sekalipun terhadap anjing gila.'"

Atas permintaan Ali as, seluruh anak-anaknya dan pemuka Bani Hasyim berkumpul di samping tempat tidurnya. Semua orang menangis saat menyaksikan pemimpin mereka dalam kondisi seperti itu. Imam Ali menghibur mereka dan berkata, "Tenanglah kalian semua dan jangan bersedih. Jika kalian tahu apa yang aku pikirkan dan saksikan, niscaya kalian tidak akan bersedih. Ketahuilah, seluruh kerinduanku adalah ingin segera bertemu dengan pemimpinku Rasulullah. Aku ingin segera bertemu istriku yang penyayang dan setia, Zahra as."

Imam Ali as dengan badan yang menggigil karena racun, memanggil putra sulungnya dan berkata, "Putraku Hasan, mendekatlah kemari." Hasan bin Ali as lalu mendekat dan duduk di samping ayahnya. Beliau meminta agar kotak penyimpanan barang dibawakan ke sisinya. Disaksikan oleh banyak orang, Imam Ali membuka kotak itu dan menyerahkan seluruh isinya (pedang Zulfikar, sorban dan rida' Rasul, sebuah catatan kecil, dan al-Quran) kepada Hasan.

Imam Ali meminta kesaksian para hadirin dan berkata, "Kalian semua menjadi saksi, Hasan, cucu Rasulullah adalah imam dan pemimpin setelahku." Setelah terdiam senejak, Imam Ali kembali melanjutkan ucapannya, "Wahai putraku! Kaulah ahli warisku dan wali setelahku. Jika engkau mau, engkau dapat memaafkan orang yang membunuhku. Jika tidak, maka pukullah dia sekali saja sebagaimana dia memukulku.” Lalu Imam Ali meminta Hasan menuliskan wasiat yang disampaikan kepadanya.

Imam Ali as

Setelah bersaksi atas keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad Saw, Imam Ali as berkata, "Aku berwasiat kepada kalian berdua (Hasan dan Husein as) dan semua anak-anakku serta keluargaku dan kepada semua orang yang wasiatku ini sampai kepada mereka, untuk bertakwa kepada Allah Tuhan kalian dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim… Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan mengelola urusan kalian, serta memperbaiki hubungan di antara kalian. Karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, 'Memperbaiki hubungan di antara kalian lebih baik dari melaksanakan shalat dan puasa sunnah setahun.'"

Imam Ali as kemudian mewasiatkan mereka agar memperhatikan hak-hak orang lain dan mematuhi aturan, karena syarat pertama bagi kesuksesan sebuah masyarakat adalah disiplin dan komitmen terhadap aturan. Imam juga menekankan kerukunan dan kasih sayang dan menganggapnya sebagai kebutuhan masyarakat Muslim. Dalam pandangan Imam Ali as, al-Quran dan Sunnah Nabi, ibarat benteng perlindungan, yang melindungi semua Muslim dari perpecahan.

Imam Ali kemudian berkata, "Berpeganglah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah tercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian saling bermusuhan lalu Allah mempersatukan hati kalian."

Ada banyak kekurangan dan kealpaan dalam kehidupan manusia, yang tidak dapat ditutupi kecuali dengan kasih sayang dan persahabatan, dan di antara semua itu, anak-anak yatim piatu merupakan golongan yang paling membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Imam Ali as sendiri sangat memperhatikan anak yatim dan ia sendiri dijuluki sebagai bapaknya para anak yatim.

Dalam hal ini Imam Ali as berpesan, "Perhatikanlah anak yatim! Jangan menelantarkan mereka dan jangan sampai mereka disia-siakan di tengah kalian. Karena aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, 'Siapa yang mencukupi seorang anak yatim hingga ia tercukupi, maka Allah akan mewajibkan baginya surga seperti Allah mewajibkan neraka bagi yang memakan harta mereka.'"

Dalam al-Quran, perihal berbuat kebaikan kepada anak yatim disebut langsung setelah perintah berbuat kebaikan kepada kedua orang tua dan kerabat. Dalam surat an-Nisa ayat 36, Allah Swt berfirman, "Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin…"

Imam Ali as – sebagai teladan dan pemimpin kaum Muslim – dalam wasiat terakhirnya meminta masyarakat untuk memperhatikan al-Quran dan mematuhi perintah yang datang dari kitab suci itu, mendirikan shalat sebagai tiang agama, dan mendatangi Baitullah.

Beliau berkata, "Allah, Allah, perhatikanlah al-Quran, jangan sampai orang lain lebih mengamalkannya daripada kalian. Allah, Allah, perhatikanlah rumah Tuhan kalian (Ka’bah), jangan sampai kosong dari kalian. Perhatikanlah shalat, karena ia adalah sebaik-baik amal dan tiang agama kalian."

Imam Ali as

Sebelum mengakhiri pesannya, Imam Ali as berwasiat tentang jihad di jalan Allah Swt dengan harta, jiwa, dan lisan, serta mengajak kaum Muslim untuk melakukan yang makruf dan mencegah yang munkar.

Setelah selesai menyampaikan wasiat, Imam Ali as kembali menatap satu per satu orang-orang yang berkumpul di sekitarnya. Beliau kemudian berkata kepada mereka, "Aku menitipkan kalian semua kepada Allah, aku memohon pamit kepada kalian semua. Salam dan rahmat Allah atas kalian semua."

Ketika itu keringat menetes dari dahi Imam Ali as dan secara perlahan memejamkan matanya, dan dengan tenang mengucapkan; "Asyahaduallah ilaha illallah wahdahu la syarikalah wa asyahadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh