Bulan Perjamuan Tuhan (22)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i58258-bulan_perjamuan_tuhan_(22)
Imam Ali bin Abi Thalib as gugur syahid pada 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah karena tebasan pedang Ibnu Muljam al-Muradi. Amirul Mukminin adalah sosok yang istimewa dan selalu dipuji oleh para pemuka agama di sepanjang sejarah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 07, 2018 12:28 Asia/Jakarta

Imam Ali bin Abi Thalib as gugur syahid pada 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah karena tebasan pedang Ibnu Muljam al-Muradi. Amirul Mukminin adalah sosok yang istimewa dan selalu dipuji oleh para pemuka agama di sepanjang sejarah.

Dalam sebuah pidato tentang bulan Ramadhan, Imam Ali berkata, "Wahai manusia! Matahari bulan Ramadhan telah menyinari laki-laki dan wanita yang berpuasa dengan rahmat, dan bulan ini menerangi mereka dengan rahmat, dan tiada siang dan malam di bulan ini kecuali Allah menebarkan kebaikan kepada umat ini. Barang siapa yang memperoleh tetesan rahmat Ilahi, maka ia akan dimuliakan di sisi Allah di hari pertemuan, dan tidak ada hamba yang dimuliakan di sisi-Nya kecuali ia akan dimasukkan ke surga…"

Di tengah pidatonya di Masjid Kufah, seseorang dari kabilah Hamdan berdiri dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Katakanlah lebih banyak lagi tentang bulan Ramadhan yang disampaikan oleh Rasulullah. Imam Ali as kemudian menyampaikan pesan-pesan Rasul Saw tentang puasa. Namun, pria Hamdan tersebut kembali berseru, "Wahai Amirul Mukminin! Katakan lebih banyak lagi tentang apa saja yang datang dari Rasulullah."

Syahadah Imam Ali as di bulan Ramadhan

Imam Ali as lalu melanjutkan khutbahnya, "Aku mendengar Nabi yang paling utama dari semua nabi berkata, 'Sesungguhnya pemimpin para wali akan dibunuh di penghulu segala bulan.' Aku bertanya, wahai Rasulullah! Manakah penghulu segala bulan itu dan siapa pemimpin para wali? Rasul Saw bersabda, "Penghulu segala bulan adalah Ramadhan dan pemimpin para wali adalah engkau wahai Ali."

Aku kembali bertanya, wahai Rasulullah! Apakah akan seperti itu? Rasul berkata, "Iya, aku bersumpah kepada Tuhanku, sesungguhnya orang yang paling celaka dari umatku bangkit dan menebas kepalamu dengan pedang hingga darah memerahkan jenggotmu." Mendengar ucapan itu, masyarakat yang hadir di Masjid Kufah mulai menangis dan Imam Ali as pun mengakhiri khutbahnya dan turun dari mimbar dengan tenang.

Imam Ali as dibunuh karena tegas dalam menegakkan keadilan. Mihrab Masjid Kufah telah menjadi tempatnya untuk melakukan ibadah dan bermunajat kepada Allah Swt. Ia juga meraih keberuntungan di tempat itu setelah Ibnu Muljam menebaskan pedang beracun ke kepalanya yang sedang menunaikan shalat. Amirul Mukminin syahid di jalan Allah Swt dan tidak ada sedikit pun ketakutan dalam hatinya ketika menjemput kematian.

Ali as adalah seorang teladan dan sosok mulia yang selalu dipuji oleh para tokoh agama di sepanjang sejarah. Masa mudanya yang penuh gairah dan kepahlawanan harus menjadi keteladanan pemuda sekarang. Kearifan dan sikap mawas diri tidak pernah terpisah dari dirinya walau sesaat. Ia berkata, "Janganlah menjadi hamba orang lain ketika Allah menciptakanmu merdeka."

Imam Ali as tidak pernah lelah berjuang untuk menegakkan kebenaran dan jalan lurus. Ia adalah manifestasi dari ayat-ayat al-Quran di tengah kaum Muslim, ia merangkul orang-orang miskin dan memperhatikan kaum lemah. Dalam pandangan Imam Ali as, orang kaya dan pejabat sama kedudukannya dengan masyarakat biasa.

Setelah duduk sebagai khalifah, banyak pembesar berkata kepadanya, "Ini baru hari pertama, tapi orang-orang berpengaruh sudah engkau copot dari jabatannya, ini tidak baik bagi pemerintahanmu." Mendengar masukan itu, Imam Ali tegas menjawab, "Apakah kalian menyuruhku mencari kemenangan dengan cara menzalimi kaum Muslim yang kepemimpinannya diserahkan kepadaku? Demi Allah! Selama (aku masih berumur), malam dan siang datang silih berganti, dan bintang-bintang masih terbit dan tenggelam di langit, aku tidak akan berbuat demikian. Bahkan seandainya itu adalah milikku, aku akan membagikannya secara sama di antara mereka; apalagi itu milik Allah?”

Hal yang memiliki nilai di mata Imam Ali as adalah keimanan, ketakwaan, keikhlasan, jihad, dan kemanusiaan. Selama masa singkat pemerintahannya, ia telah menegakkan prinsip-prinsip keadilan di tengah masyarakat.

Makam suci Imam Ali as di Najaf

Dapat dikatakan bahwa salah satu karakteristik utama Imam Ali as adalah kecintaannya kepada Allah Swt dan hubungan yang dekat dengan-Nya. Ini semua bersumber dari pengenalan dan makrifatnya yang tinggi tentang Tuhan. Dalam salah satu doanya, Imam berkata, “Ya Allah! Aku tidak menyembah-Mu karena takut terhadap siksa dan rakus terhadap pahala, melainkan karena menemukan Engkau layak untuk disembah.”

Bermunajat dan menghidupkan malam di bulan Ramadhan telah menjadi bagian dari rutinitas Imam Ali as. Ia berkata, "Kalian harus memperbanyak doa dan istighfar di bulan Ramadhan, karena doa akan menjauhkan kalian dari kesusahan, sementara istighfar akan menghapus dosa-dosa kalian."

Imam Ali as memandang ibadah sebagai tangga untuk naik mendekati Tuhan dan mi'raj ruhani ke arah pengenalan yang lebih jauh terhadap-Nya. Ali as menjelaskan bahwa ibadah adalah mengingat Tuhan, Dia telah menjadikan dzikir akan diri-Nya sebagai penerang hati. Lewat dzikir, jiwa dan hati bisa mendengar, melihat, dan menjadi lembut.

Imam Ali as kemudian menjelaskan berbagai keadaan dan kedudukan yang dimiliki para ahli ibadah. Dia berkata, "Para malaikat selalu menjaga mereka, ketenangan memenuhi hati mereka. Pintu-pintu Malakuti terbuka bagi mereka. Kasih sayang Ilahi yang tak terbatas, tercurahkan untuk mereka. Allah Swt melihat kedudukan dan derajat yang mereka peroleh melalui penyembahan dan pengabdian, menyukai amal mereka dan memuji kedudukan mereka. Di saat mereka menyebut Tuhan, mereka mencium aroma ampunan Ilahi dan merasakan terkoyaknya tirai gelap dosa-dosa."

Amirul Mukminin juga sangat menaruh perhatian pada masalah membaca dan mengamalkan al-Quran khususnya di bulan Ramadhan. Bahkan dalam wasiat di akhir hayatnya, beliau mengingatkan kaum Muslim untuk tidak melupakan kitab suci tersebut. Ia berkata, "Allah, Allah, perhatikanlah al-Quran, jangan sampai orang lain lebih mengamalkannya daripada kalian."

Imam Ali as menyebut al-Quran sebagai petunjuk yang tidak akan menyesatkan manusia. Beliau menegaskan, "Ketahuilah! Sebagaimana al-Quran sebagai penasehat yang tidak akan menipu, ia juga merupakan pedoman yang tidak akan menyesatkan dan tidak pernah bohong..."

Salah satu ajaran Islam adalah perintah untuk mengentaskan kemiskinan dan membantu kaum papa. Perintah ini begitu penting sehingga Islam mengingatkan bahwa ada hak fakir-miskin dalam harta yang kita miliki. Surat Adh-Dhariyat ayat 19 menyebutkan, "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."

Syahadah Imam Ali as di bulan Ramadhan

Di sepanjang hidupnya, Imam Ali as selalu memperhatikan fakir-miskin dan anak yatim. Pada malam-malam Ramadhan, beliau memberikan makanan kepada mereka dan menasihati mereka dengan kebaikan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ali bin Abi Thalib as selalu memberikan makan malam yang terbuat dari daging kepada masyarakat, ia sendiri tidak memakan daging itu. Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, ia menyampaikan khutbah dan menasehati mereka. Di salah satu khutbahnya, Imam Ali berkata, "Ketahuilah! Parameter perbuatan kalian adalah agama, penjaga kalian takwa, hiasan kalian adab, dan benteng pelindung harga diri kalian adalah kesabaran."

Dalam sebuah surat kepada Usman bin Hunaif, Imam Ali as berkata, "Jika aku mau, aku mengetahui jalan yang akan mengantarkanku kepada kesenangan duniawi seperti, madu murni, gandum yang halus, dan pakaian sutra. Namun, jauhlah hawa nafsu dari menguasai diriku dan kerakusan menyeretku untuk memilih makanan yang lezat, sementara di Hijaz dan Yaman mungkin ada orang yang tak memiliki harapan sedikit pun untuk mendapatkan roti, atau cukup makanan untuk disantapnya sampai kenyang, atau aku tertidur pulas dengan perut kenyang, sementara di sekelilingku banyak perut yang lapar dan kerongkongan yang haus.