Bulan Perjamuan Tuhan (24)
Menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, adalah sirah Rasulullah Saw dan para imam. Al-Quran sangat menekankan persatuan dan menghindari perpecahan.
Dalam surat Al Imran 103 disebutkan, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Allah Swt dalam al-Quran berulangkali menyebutkan dan mengingatkan pentingnya persatuan umat Islam. Menurut para mufasir dari seluruh mazhab baik Syiah dan Sunni, al-Quran diturunkan secara sekaligus di bulan Ramadhan dan pada lailatul qadar. Tidak ada Muslim yang meragukan bahwa al-Quran adalah sumber hidayah dan kebahagiaan umat manusia di muka bumi ini.
Pada ayat 185 surat al-Baqarah disebutkan, " (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)..." Berdasarkan ayat ini, al-Quran adalah untuk hidayah seluruh umat manusia, ini berarti al-Quran sendiri bukan saja menjadi faktor persatuan melainkan juga memberikan berbagai jalan dan sarana untuk mewujudkan persatuan umat Islam.
Al-Quran memperkenalkan Nabi Muhammad Saw sebagai penyebar persatuan dan persaudaraan, serta memuji akhlak mulianya. Sirah Nabi Muhammad Saw penuh dengan terobosan persatuan dan pendekatan antara umat Islam. Pada tahun pertama Hijriah, Rasulullah Saw mewujudkan tali persaudaraan antara kaum Muhajir dan Anshar.
Dua kelompok Muslim tersebut dari sisi etnis, profesi dan lingkungan asal mereka tumbuh, sangat berbeda. Muncul kekhawatiran bahwa masalah-masalah tersebut akan menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Oleh karena itu, Rasulullah Saw sejak awal menciptakan ikatan batin di antara mereka dan dengan demikian beliau menekankan kepada masyarakat Muslim soal pentingnya persatuan untuk umat Islam.
Umat Islam dengan meneladani Rasulullah Saw dan melaksanakan ajaran penuh hikmah al-Quran, harus selalu mencari titik kolektif serta menghindari perselisihan dan perpecahan. Salah satu faktor pemersatu dalam al-Quran adalah bulan penuh berkah dan rahmat, Ramadhan. Ramadhan dapat dikatakan sebagai salah satu simbol persatuan dan kekompakan umat Islam di seluruh dunia.
Ibadah berpuasa di bulan Ramadhan, bagi umat Islam dari berbagai mazhab dan golongan, merupakan di antara perilaku kolektif dan spektakuler, sedemikian rupa sehingga sejak awal di bulan Ramadhan ini, gaya hidup umat Islam adalah sama. Setiap Muslim dari segala etnis, warna kulit, kebangsaan dan kelompok, memuliakan bulan ini dan melaksanakan ibadah wajib ini.
Pada bulan Ramadhan, semua Muslim terjaga pada subuh untuk menyantap hidangan sahur, menunaikan shalat, membaca al-Quran dan bermunajat kepada Allah Swt. Sejak azan Subuh hingga azan Maghrib, umat Islam berpuasa serta mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melakukan perbuatan baik seperti membagikan makanan, membantu anak yatim dan juga menolong fakir miskin.
Bulan Ramadhan termasuk di antara bulan-bulan yang di dalamnya, umat Islam mengalami semacam transformasi internal dalam dirinya dan hasil dari perubahan tersebut adalah perbedaan positif yang dapat dirasakan dalam kehidupannya. Di bulan Ramadhan, umat Islam berubah menjadi satu umat dan beribadah bersama-sama. Khususnya pada malam lailatul qadar di mana umat Islam akan berkumpul di masjid dan berbagai tempat untuk membaca doa bersama-sama dan bermunajat memohon ampunan dari Allah Swt.
Sebagaimana Kabah, rumah Allah Swt, bak lilin yang menyedot umat Islam berkumpul di kota Mekkah, Ramadhan juga bak taplak besar yang mengumpulkan dan menyatukan umat Islam. Semua Muslim mengetahui keagungan malam lailatul qadar dan kesempatan istimewa yang dibawanya. Terlepas dari perbedaan marginal soal penentuan tanggal lailatul qadar antara malam 21 dan 23 menurut Syiah dan malam 27 menurut Ahlussunnah, pada hakikatnya ini bukan perselisihan.
Umat Muslim Syiah dan Sunni berdasarkan perbedaan penetapan malam lailatul qadar tersebut, dapat bertahajjud di malam ke-21, 23 dan 27 untuk menyemarakkan malam agung tersebut dengan bermunajat dan berdoa.
Di antara amal ibadah pemersatu di bulan Ramadhan adalah Itikaf. Termasuk di antara perintah Allah Swt kepada para pembangun Kabah, yaitu Nabi Ibrahim dan Ismail as, adalah pembersihan rumah Allah Swt untuk para penunai thawaf, shalat dan itikaf.
Dalam surat al-Baqarah ayat 125, Allah Swt berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud."
Berdasarkan ijma' para ulama Islam dari semua mazhab, itikaf adalah amalan mustahab, dan berdsarkan sunnah Nabi Saw, sangat ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Itikaf berarti menetap untuk waktu lama demi beribadah. Itikaf memiliki dua rukun yaitu tinggal di masjid jami dan berpuasa.
Ibadah ini bersifat individu dan tanpa masa khusus, akan tetapi dengan perencanaan dan manajemen yang tepat, sunnah Rasulullah Saw itu dapat berubah menjadi ibadah kolektif. Dewasa ini, ibadah kolektif dan pemersatu di pekan-pekan terakhir bulan Ramadhan ini, mendapat sambutan hangat masyarakat Muslim di berbagai negara khususnya dari kalangan pemuda.
Sebabnya adalah pengaruh ibadah tersebut dalam mempersatukan hati, meningkatkan kesadaran serta wawasan terhadap maarif agama, perasaan kedekatan diri dengan Allah Swt, penyucian akhlak serta pertumbuhan dan ketenangan jiwa. Pengaruh-pengaruh tersebut membuktikan dimensi pemersatu dalam ibadah itikaf. Itikaf akan memperkokoh pilar persatuan Islam yaitu ideologi ketauhidan dan pada akhirnya akan memperluas interaksi sosial dan persaudaraan dalam masyarakat Islam.
Umat Islam dengan memanfaatkan berkah dan keutamaan berharga di bulan Ramadhan ini dapat mengambil langkah-langkah efektif untuk mengokohkan pondasi persatuan dan solidaritas. Maksud dari persatuan umat Islam, umat Muslim disamping mempertahankan mazhab masing-masing, juga menitikberatkan pada titik kolektif agama seperti tauhid, al-Quran, Rasulullah Saw, sunnah dan sirah Nabi, serta keyakinan terhadap hari kiamat. Pada saat yang sama mereka juga hendaknya menghindari berbagai perselisihan mazhab, politik, etnis dan lain-lain yang akan merusak barisan umat Islam.
Agama yang menyebut sesama mukmin sebagai saudara, menilai ketakwaan sebagai keutamaan, berharap terdengar seruan persatuan dan persaudaraan di antara negara-negara Islam. Apa yang hingga kini menjadi mimpi banyak pengikut Rasulullah Saw adalah perwujudan persatuan hakiki umat Islam.
Dengan merunut pada berbagai isu penting dunia Islam seperti masalah Palestina dan al-Quds, kita menyaksikan betapa masih banyak pemerintahan kuat di negara-negara Muslim yang tidak mampu menciptakan sebuah langkah terpadu dalam hal ini. Dan sangat disayangkan sekali, mereka bahkan menjadi sekutu musuh umat Islam yaitu Israel dan Amerika Serikat. Masalah besar yang dihadapi dunia Islam dewasa ini adalah munculnya tren permusuhan dan perang antara sesama saudara Muslim.
Jika kita memperhatikan berkah melimpah bulan Ramadhan dan jamuan yang disediakan Allah Swt untuk hamba-Nya, alangkah baiknya jika kita dapat menjadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk melangkah menyelesaikan masalah dunia Islam. Meski makar, propaganda dan dendam musuh terhadap umat Islam tidak akan berhenti, akan tetapi dengan kewaspadaan dalam mengidentifikasi kepentingan bersama dan musuh kolektif, serta menjaga persatuan di bawah naungan tauhid, maka umat Islam akan menang.