Memilih Teman dalam Islam
Manusia dalam berinteraksi dan berteman saling memberikan pengaruh luar biasa. Teman yang baik dan bijak, akan selalu memperkuat tekad islah dan kesempurnaan dalam diri manusia. Dia akan membantu dalam perjalanan meniti kebahagiaan, dan sebaliknya, teman yang buruk akan menjerumuskan manusia.
Ketika angin bertiup melintasi selokan, maka bau busuk dan tidak sedap yang akan tercium. Akan tetapi ketika angin berhembus dari taman bunga, maka aroma harum kesegaran yang akan dicium manusia. Berteman juga demikian. Orang yang baik akan memberikan pengaruh yang baik, sementara teman yang buruk akan merusak akhlak dan jiwa seseorang.
Pada suatu hari, para sahabat Nabi Isa as atau yang disebut dengan Hawariyun bertanya kepada nabi, "Wahai Ruhullah! Dengan siapa kami berteman dan bergaul?" Nabi Isa as menjawab, "Dengan orang yang akan mengingatkan kamu kepada Allah Swt ketika kalian bertemu dengannya, yang ucapannya menambah pengetahuan kalian, dan ilmu kalian dapat mendorongmu mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat."
Kepribadian manusia dibentuk dalam tiga lingkungan, keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pertemanan. Lingkungan pertemanan dan persahabatan memang sangat menarik bagi setiap manusia. Secara fitrah, setiap manusia akan selalu tertarik untuk mencari teman. Dalam lingkungan pertemanan tersebut, manusia merasakan ketenangan dan menikmati waktu dengan penuh keceriaan. Poin pentingnya adalah dalam hubungan ini, akan muncul pengaruh akidah, akhlak dan perilaku dari setiap pihak. Oleh sebab itu penting untuk mencari teman yang pantas.
Mengingat poin tersebut, maka para pemimpin agama sangat menekankan para pengikutnya untuk menghindari berteman dan bergaul dengan orang-orang tidak saleh. Bahwa pertemanan dengan sejumlah orang yang tidak saleh dan buruk itu dilarang adalah karena peran determinannya dalam kebahaagiaan dan keterjermusan seseorang. Semua nabi dan rasul mengimbau umatnya untuk berteman dengan orang-orang bijak, saleh dan baik. Karena berteman dengan orang baik akan menciptakan suasana sehat. Sama seperti perumpamaan angin yang menghembus dari taman bunga.
Al-Quran memberikan perhatian khusus terhadap masalah pertemanan, karena setelah pasangan, maka teman adalah yang paling besar memberikan pengaruh pada diri manusia. Oleh karena itu, dalam ayat-ayat al-Quran telah dibahas berbagai masalah dalam pertemanan dengan menggunakan berbagai isyarat dan kata.
Dari sisi al-Quran, setiap orang hendaknya memilih teman yang sesuai dengan karakter dan kepribadiannya atau dengan kata lain, sama dengan dirinya. Kesesuaian tersebut akan sangat membantu dalam menciptakan suasana persahabatan yang kondusif. Oleh karena itu, terkadang dalam menilai seseorang, kita perlu merujuk pada teman-temannya.
Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, "Setiap orang bergantung pada keyakinan temannya, maka hendaknya kalian berhati-hati dengan siapa kalian berteman."
Pada ayat 69 surat an-Nisa, Allah Swt berfirman, "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
Dapat disimpulkan bahwa dari perspektif al-Quran, tidak ada teman terbaik selain para nabi, orang-orang saleh dan shiddiqin. Sebaliknya, menurut al-Quran, teman yang terburuk adalah yang mengikuti setan, termasuk orang-orang kafir, sesat, penentang kebenaran dan kriminal, mereka adalah seburuk-buruknya teman.
Dalam berbagai hadis juga telah disebutkan berbagai kelompok dan pengaruh mereka terhadap kepribadian seseorang. Sebagai contoh berteman dengan orang-orang kaya. Disebutkan, "Orang yang bergaul dengan orang-orang kaya, maka Allah Swt akan memperbanyak kecintaannya kepada dunia. Sedemikian rupa sehingga mereka hanya memikirkan pengumpulan harta dan kekayaan. Seluruh ucapan dan perilaku mereka akan terkait dengan bagaimana cara menambah kekayaan, mempertahankan dan menjaganya."
Pada prinsipnya, melihat orang kaya dengan busana, pakaian, rumah dan mobil yang serba mewah serta para pembantunya, akan menggoda manusia untuk mencari kesenangan dan kenyamanan dalam hidup. Ketika itu, kecintaan pada dunia akan tumbuh dalam hati mereka dan manusia akan terdorong hanya untuk mengumpulkan dan menambah kekayaannya. Dia akan melupakan kebercukupan, dan pada akhirnya akan melupakan akhirat dan Allah Swt. Oleh sebab itu sangat sulit baginya untuk membantu kelompok fakir miskin.
Rasulullah Saw menyebut orang-orang kaya yang gila harta dan kekayaan sebagai manusia-manusia dengan hati yang telah mati, "Hindarilah duduk dengan orang-orang yang hatinya mati!" para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapa yang hati mereka mati?" Rasulullah Saw menjawab, "Setiap orang kaya yang kekayaan telah memabukkannya."
Dalam ajaran Islam, umat Muslim juga diimbau untuk duduk bersama orang-orang kaya dan konglomerat, sebaliknya justru didorong untuk duduk dengan kelompok fakir miskin. Pengaruh pertemanan seperti ini adalah karena setiap orang yang duduk dengan fakir miskin, akan meningkatkan rasa syukur dan keridhoannya pada apa yang telah dianugerahkan Allah Swt kepadanya.
Fakir adalah seorang yang tidak dapat memikul beban finansial kehidupannya sendirian dan dia membutuhkan bantuan sama seperti pohon anggur yang harus bersandar pada kayu penyangga sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Kelompok fakir, karena mereka adalah orang yang berusaha keras dan kemampuan mereka mencari uang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Oleh karena itu, duduk dan bergaul dengan mereka akan meningkatkan rasa kebercukupan dan syukur dalam hati seseorang.
Duduk bersama orang saleh, merupakan salah satu ajaran Islam. Orang yang duduk bersama para ulama akan dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Imam Ali as berkata, "Duduklah dengan ulama agar pengetahuan kalian bertambah, akhlak kalian menjadi baik, dan jiwa kalian terbersihkan."
Adapun bergaul dengan orang-orang yang zuhud juga merupakan jenis pergaulan baik. Pengaruh positif mereka pada diri manusia akan sangat besar khususnya menyangkut perhatian manusia terhadap akhirat.
Kezuhudan berarti hidup cukup dengan sedikit hal yang dimiliki. Kezuduhan adalah ketidakbergantungan pada dunia materi dan duniawi. Bisa jadi orang yang zuhud adalah seorang kaya. Oleh karena itu, zuhud bukan berarti tidak memiliki atau fakir melainkan menghindari hedonisme.
Orang yang zuhud bisa jadi adalah orang yang kaya akan tetapi dia tidak memiliki ketergantungan pada materi dan duniawi serta lebih banyak emngingat akhirat, beribadah dan berupaya mendapatkan keridhoan Allah Swt. Duduk dan bergaul dengan orang-orang seperti ini akan mengangkat ruh dan jiwa manusia pada titik penghambaan mutlak.
Adapun teman terbaik adalah orang-orang saleh. Orang-orang saleh adalah hamba-hamba pilihan Allah Swt yang mencapai derajat tersebut karena amal perbuatan dan jiwa luhur mereka. Al-Quran menyebut mereka Salihin atau orang-orang saleh. Berdasarkan keterangan al-Quran, orang-orang saleh adalah mereka yang beriman dan beramal saleh.
Dalam surat al-Araf ayat 170, Allah Swt berfirman, "Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan."
Ayat tersebut menyebutkan beberapa ciri khas orang-orang saleh yaitu yang beriman kepada kitab suci dan mengamalkan perintah Allah Swt. Manusia yang saleh adalah yang memiliki kerendahan hati dan khusyu'.
Pada ayat 114 surat Al Imran disebutkan, "Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh."
Pada ayat itu, Allah Swt menjelaskan bahwa orang-orang saleh adalah mereka yang bergegas dalam perbuatan baik. Manusia-manusia saleh tidak akan menunggu berbuat baik dalam masyarakat dan mereka selalu terdepan dalam melaksanakannya. Dan merekalah sebaik-baik teman. Dalam doa Nabi Ibrahim as, beliau bermunajat kepada Allah demikian:
رَبِّ هَبْ لِی حُکْماً وَ أَلْحِقْنِی بِالصَّالِحِینَ
"Ya Allah, anugerahkan ilmu dan pengetahuan kepadaku dan gabungkan aku dalam kelompok orang-orang saleh."