Kilas Balik 2016; Asia Tenggara dan Timur
Sejumlah peristiwa penting mewarnai perjalanan wilayah Asia Tenggara dan Timur di sepanjang tahun 2016. Salah satu transformasi terpenting dalam hubungan Republik Islam Iran dan negara-negara di Asia Tenggara adalah kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo ke Tehran. Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo tiba di Bandar Udara Internasional Mehrabad, Tehran pada Selasa, 13 Desember 2016.
Selama kunjungan satu hari di Iran, Jokowi bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, Ketua Parlemen Ali Larijani, dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar), Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Dalam pertemuan dengan Presiden Jokowi pada 14 Desember 2016, Ayatullah Khamenei menyinggung kapasitas besar yang dimiliki Iran dan Indonesia dan menyerukan peningkatan kerjasama ekonomi, politik, dan budaya.
Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap kemajuan dan kemuliaan Republik Indonesia – sebuah negara Muslim yang padat penduduknya – sebagai sumber kebanggaan umat Islam. Beliau menambahkan, Iran memandang Indonesia atas dasar persaudaraan dan kerjasama.
Menyoroti berbagai kemajuan baik Indonesia di berbagai bidang, Ayatullah Khamenei menuturkan, Republik Islam juga memiliki banyak kapasitas di berbagai sektor; ekonomi dan sumber daya mineral serta pertambangan, dan kami percaya negara-negara Muslim harus saling memperkuat satu sama lain dan menghindari perpecahan.
Rahbar menilai tingkat transaksi perdagangan antara Iran dan Indonesia tidak sesuai dengan berbagai kapasitas yang dimiliki kedua negara. Beliau menegaskan bahwa dengan menetapkan tahap-tahap waktu, level transaksi perdagangan harus ditingkatkan ke angka misalnya 20 miliar dolar.
Perkembangan penting lainnya selama tahun 2016 adalah perjalanan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif ke Jepang dan Cina dalam konteks pengembangan kerjasama bilateral. Zarif mengatakan kunjungan ke Tokyo akan fokus untuk membahas peningkatan hubungan bilateral di sektor ekonomi dan politik. Oleh karena itu, sejumlah pelaku ekonomi dan CEO perusahaan di Iran menyertai kunjungan ini.
Orientasi ke Timur dalam kebijakan luar negeri Iran terbilang sangat penting dan dengan adanya ketertarikan timbal-balik, hubungan Iran dengan sekelompok negara di kawasan telah meningkat, seperti hubungan Iran dengan Cina. Jelas bahwa Jepang juga menganggap sangat penting perluasan hubungan dengan Iran dan ada keyakinan bahwa kedua pihak dapat meningkatkan kerjasama di semua bidang, terlebih dengan memperhatikan kapasitas mereka.
Dalam kunjungan ke Beijing, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dan sejawatnya dari Cina, Wang Yi menekankan pentingnya semua pihak menghormati dan menjaga Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Pada kesempatan itu, Zarif dan Wang juga membicarakan kerjasama ekonomi dan perbankan, dana investasi untuk proyek, dan solusi bagi kesulitan mahasiswa Iran di Cina serta transformasi terbaru regional dan internasional.
Perkembangan terbaru dalam hubungan Cina dan Amerika Serikat telah menyedot perhatian dunia selama tahun 2016. Presiden Donald Trump mengatakan, Amerika tidak perlu terikat dengan posisi sebelumnya yaitu Taiwan adalah bagian dari Satu China. Ia secara terang-terangan mengabaikan protes diplomatik Cina setelah ia menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada 2 Desember.
Trump menegaskan, "Saya sepenuhnya memahami kebijakan Satu Cina, tapi saya tidak tahu mengapa Amerika harus terikat dengan kebijakan Satu Cina, kecuali kita memiliki kesepakatan dengan Beijing yang mencakup hal-hal lain, termasuk perdagangan." Trump mengkritik Cina atas kebijakan mata uangnya, kegiatannya di Laut Cina Selatan dan sikapnya terhadap Korea Utara.
Pembicaraan telepon antara Trump dan Tsai mengundang protes diplomatik dari Cina. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Cina. Pemerintah Beijing memperingatkan bahwa hubungan dengan Amerika mungkin akan bermasalah dan satu-satunya cara untuk mempertahankan hubungan yang stabil adalah dengan menghormati kepentingan fundamental satu sama lain.
Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi, meminta Presiden terpilih AS Donald Trump untuk menghormati kepentingan fundamental Cina. Ia mengatakan Cina akan berusaha untuk meningkatkan kerjasama dengan Amerika, tetapi ia meramalkan faktor-faktor baru yang rumit dan tak menentu akan mempengaruhi hubungan bilateral di bawah pemerintahan Trump.
Pada bulan September 2016, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan bahwa negaranya menentang sanksi sepihak terhadap Korea Utara. "Cina menentang sanksi sepihak yang tidak membantu untuk menyelesaikan masalah itu," kata Wang setelah pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida. Dia menegaskan bahwa harus ada "respon yang diperlukan" untuk menyikapi situasi di Semenanjung Korea dan Cina siap bekerja sama dalam kasus ini dengan Dewan Keamanan PBB.
Korea Utara melakukan uji coba nuklir kelima dan terbesar pada 9 September 2016 dan mengatakan bahwa pihaknya sudah menguasai kemampuan untuk memasang hulu ledak pada rudal balistik. Sejumlah negara dan PBB mengeluarkan reaksi keras dalam menanggapi uji coba kelima senjata nuklir Korea Utara. Namun, Pyongyang menegaskan bahwa langkah itu untuk merespon kebijakan konfrontatif Amerika terhadap Korea Utara.
Sementara itu, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani pada Oktober 2016 melakukan kunjungan resmi ke Malaysia. Selama di Kuala Lumpur, Rouhani bertemu dengan para petinggi negara itu untuk membahas hubungan bilateral, termasuk sektor ekonomi dan kerjasama industri serta teknologi. Lawatan Rouhani ke wilayah strategis Asia Tenggara merupakan bagian dari kebijakan luar negeri Iran yang condong ke Timur. Padangan Iran ke Timur sangat ditekankan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran. Dalam konteks ini, Rouhani juga telah berkunjung ke Vietnam dan Thailand.
Malaysia adalah negara penting Asia dan negara Muslim serta memiliki keragaman di sektor ekonomi dan teknologi di wilayah Asia Tenggara. Republik Islam senantiasa menekankan pengokohan hubungan dengan bangsa dan pemerintah Malaysia. Rouhani mengatakan, "Di era pasca perjanjian nuklir dan penghapusan sanksi, gerbang baru Iran sudah terbuka untuk kerjasama bagi teman-teman di Asia."
Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC) dan Petronas Malaysia juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk studi eksplorasi di ladang minyak Azadegan Selatan dan Cheshme Khosh di barat Iran. MoU itu ditandatangani oleh Wakil Direktur Eksekutif NIOC, Gholam-Reza Manouchehri dan CEO di Sektor Hulu Petronas, Mohd Anuar Taib di Tehran pada 21 Desember 2016.
Pada Oktober 2016, Presiden Filipina Rodrigo Duterte saat berada di Cina mengatakan bahwa Filipina “pisah” dengan Amerika Serikat dan sepakat untuk menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan dengan Beijing melalui perundingan. Meski komentar Filipina “pisah” dari AS diumumkan Presiden Duterte, Gedung Putih mengklaim bahwa pemerintah Manila belum secara resmi membuat permintaan untuk mengakhiri hubungan keamanan dan ekonomi antara AS dan Filipina.
Duterte juga telah memerintahkan diakhirinya patroli gabungan militer Filipina dan Amerika di Laut China Selatan, karena tidak ingin bermusuhan dengan Beijing. Ia menegaskan sudah saatnya kebijakan luar negeri Filipina independen. Ia menambahkan, ”Saya akan memetakan kebijakan luar negeri yang independen. Kami tidak akan merusak atau membatalkan perjanjian yang ada, karena mereka mengatakan ini akan memberikan kami jaminan."