Upaya AS Gulingkan Penguasa Venezuela
https://parstoday.ir/id/radio/world-i42892-upaya_as_gulingkan_penguasa_venezuela
Oposisi sayap kanan Venezuela di dalam dan luar negeri sudah lebih dari empat tahun melakukan segala cara untuk menumbangkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro; sebuah pemerintahan konstitusional dan demokratis. Salah satu slogan kunci pemilu Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah tidak mendukung perubahan rezim di negara mana pun, tapi ia tampaknya sedang mengikuti jejak para pendahulunya dan mulai berbicara tentang perubahan rezim di Venezuela.
(last modified 2026-03-11T19:12:53+00:00 )
Aug 17, 2017 11:24 Asia/Jakarta

Oposisi sayap kanan Venezuela di dalam dan luar negeri sudah lebih dari empat tahun melakukan segala cara untuk menumbangkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro; sebuah pemerintahan konstitusional dan demokratis. Salah satu slogan kunci pemilu Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah tidak mendukung perubahan rezim di negara mana pun, tapi ia tampaknya sedang mengikuti jejak para pendahulunya dan mulai berbicara tentang perubahan rezim di Venezuela.

Trump pada 8 Agustus 2017 bahkan mengancam akan menggunakan opsi militer untuk mengakhiri kekacauan di Venezuela. Ancaman ini bertentangan dengan semua janji kampanyenya, yang tidak akan mendukung perubahan rezim di negara mana pun.

AS dan oposisi dukungan Washington sudah hampir dua dekade mencoba melakukan perubahan rezim di Venezuela. Sejak kemenangan Hugo Chavez pada pemilu 1998 sampai Maret 2013 atau ketika Chavez mangkat, oposisi Venezuela dengan kucuran dana dari AS melancarkan berbagai konspirasi untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri Chavez.

Ketika itu oposisi Venezuela dan AS mengejar tiga tujuan utama dalam penggusuran Chavez. Pertama, merampas pendapatan minyak dari tangan sayap kiri. Kedua, membentuk sebuah pemerintahan sayap kanan pro-Amerika di Venezuela. Padahal, sayap kiri ingin mengurangi ketergantungan pada AS dan kemudian merangkul rival-rival negara itu seperti, Rusia, Cina, dan Iran. Sebenarnya, melepaskan diri dari AS sama saja dengan menggelar karpet merah untuk rival negara tersebut di Amerika Latin, yang dianggap sebagai halaman belakang AS sejak keluarnya Doktrin Monroe. Dan ketiga, memperlemah poros sayap kiri di Amerika Latin yang dikomandoi oleh Venezuela dan Chavez.

Nicolas Maduro juga menghadapi beragam konspirasi pasca kematian Chavez pada Mei 2013. Anjloknya harga minyak membuat pengganti Chavez itu harus bergelut dengan berbagai tantangan serius. Pada periode Maduro, media-media milik kubu sayap kanan di Venezuela membesar-besarkan setiap kegagalan pemerintah dalam manajemen mikro dan makro dan mempertanyakan legitimasi pemerintahan Maduro.

Anjloknya harga minyak yang diikuti oleh penurunan pendapatan minyak Venezuela – itupun di sebuah negara yang sangat bergantung pada penjualan minyak – menyebabkan banyak industri gulung tikar. Oposisi dan media-media mereka kemudian memprovokasi masyarakat yang terkena dampak krisis ekonomi untuk turun ke jalan-jalan. Resesi ekonomi dan inflasi yang tinggi di Venezuela telah membakar semangat demonstran untuk melancarkan protes.

Di sisi lain, kubu pro pemerintah juga turun ke jalan-jalan untuk menyuarakan dukungan mereka kepada pemerintah Venezuela. Mereka memiliki wawasan politik dan mengetahui siapa sutradara di balik kubu oposisi Venezuela. Kehadiran kubu pro dan kontra pemerintah telah memicu bentrokan dan kekerasan dalam dua tahun terakhir.

Dalam bentrokan itu, kubu sayap kanan mendapat dukungan dari corong-corong propaganda mereka, Amerika, kubu konservatif Inggris, Uni Eropa, media-media Barat, dan bahkan lembaga-lembaga internasional. Media milik sayap kanan Venezuela dan juga media-media Barat berusaha menampilkan tindakan oposisi sebagai sebuah gerakan damai, sementara pemerintahan Maduro diperkenalkan sebagai sebuah rezim represif dan diktator.

Lembaga-lembaga HAM dunia bahkan bersikap memihak dan dalam laporan-laporannya selalu menuding pemerintah Venezuela melanggar hak asasi manusia, tanpa melirik sama sekali kekerasan yang dilakukan kubu sayap kanan. Di sisi lain, pemerintah Venezuela memperoleh dukungan dari kubu sosialis, media-media pemerintah, para pemimpin sayap kiri seperti Kuba dan Bolivia, Rusia, Cina, dan media-media independen.

Di benua Eropa terdengar dua senandung yang berbeda terkait transformasi Venezuela. Ketua Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn mengecam aksi kekerasan yang melibatkan semua pihak di Venezuela dan berbeda dengan sikap para pejabat Eropa, ia justru memuji upaya efektif dan serius pemerintah Karakas dalam memangkas kemiskinan, meningkatkan level melek huruf, dan memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat miskin.

Corbyn – pada masa pemerintahan Chavez – juga mendukung pemimpin sosialis Venezuela itu dan menyebutnya sebagai sosok yang telah menginspirasi semua orang yang menentang pengetatan ekonomi dan ekonomi neo-liberal di Eropa. Partai sayap kiri Spanyol (Podemos) juga mengecam dukungan pemerintah Madrid terhadap sanksi AS yang menargetkan para pejabat Venezuela.

Para politisi dan media-media Amerika terang-terangan berbicara tentang perubahan rezim di Venezuela sejak Trump mulai berkuasa. Dalam hal ini, Kenneth Rapoza dalam sebuah artikel pada 3 Agustus lalu secara tegas menyatakan dukungan untuk perubahan rezim di Venezuela. Penulis tersebut mengatakan, "Jan Dehn, kepala penelitian bank investasi yang berbasis di London (Ashmore Group) berpendapat bahwa kemungkinan Presiden Nicolas Maduro tidak menyelesaikan masa jabatannya sangat tinggi."

Komentar ini dikeluarkan hanya beberapa hari setelah penyelenggaraan pemilu Majelis Konstitusi Venezuela dan kemenangan mayoritas para calon dari partai penguasa dalam pemilu tersebut. Namun, media-media Barat membesar-besarkan boikot yang dilakukan oleh kubu sayap kanan dengan maksud memperlemah legitimasi majelis tersebut. AS kemudian menjatuhkan sanksi terhadap hampir 10 pejabat pemerintah Venezuela setelah kemenangan tersebut.

Lalu, apakah konspirasi AS akan berujung pada perubahan rezim di Venezuela? Kuba mampu bertahan terhadap sanksi-sanksi sepihak AS selama hampir 60 tahun. Struktur sosial, ekonomi, dan politik di Kuba membuat masyarakat mampu menjalani kondisi sulit di bawah sanksi. Apakah struktur di Venezuela juga akan membuat masyarakat mampu memikul beban sanksi AS? Seberapa jauh sekutu Venezuela akan mendukung negara tersebut selama periode sulit ini?

Kondisi internal oposisi Venezuela tidak mengalami banyak perubahan dan selama 20 tahun terakhir, mereka terus berusaha menggusur kubu sayap kiri dari kekuasaan dan bahkan nekad melancarkan kudeta terhadap Chavez, di mana pengkudeta hanya mampu bertahan 47 jam. Kubu oposisi sekarang berharap banyak pada perkembangan regional dan pudarnya pengaruh sayap kiri di Amerika Latin serta bantuan-bantuan sekutunya di Gedung Putih dan Kongres AS.

Di sini, dua kekuatan lain dunia yaitu Rusia dan Cina kemungkinan akan melibatkan diri mereka di Venezuela. Ada indikasi bahwa Moskow dan Beijing berniat memperkuat ekonomi Venezuela. Pada Agustus ini, Venezuela dan Cina telah menandatangani kesepakatan senilai 50 miliar dolar untuk menggarap 650 proyek strategis bersama. Perusahaan Rusia, Russneft baru-baru ini juga menandatangani kontrak kerjasama di berbagai sektor minyak Venezuela.

Venezuela kemungkinan akan keluar dari kesulitan saat ini jika negara tersebut juga mendapat dukungan dari lembaga-lembaga regional seperti ALBA di bawah kepemimpinan Kuba dan Bolivia. Di dalam negeri, Presiden Maduro dan Majelis Konstitusi Venezuela perlu mengambil langkah-langkah untuk memperkuat persatuan dan konsolidasi internal serta mengatasi krisis ekonomi.

Venezuela secara umum sedang menjalani sebuah situasi yang sangat rumit dan semua kubu sedang berusaha untuk tampil sebagai pemenang dalam krisis di negara tersebut. Mantan Presiden Brazil Dilma Rousseff memiliki ungkapan yang sangat bagus untuk menggambarkan situasi Venezuela saat ini. Ia mengkritik peran media-media mainstream dan tindakan oposisi Venezuela. Menurutnya, mereka ingin mengulangi sejarah Irak dan Afghanistan di Amerika Selatan.

"Mereka akan menciptakan apa yang mereka lakukan di Irak dan Afghanistan di Amerika Latin; sebuah konflik bersenjata. Maduro memerintah Venezuela dalam keadaan yang ekstrim dan pemimpin Karakas telah diserang dari berbagai arah," kata Rousseff. (RM)