Konfrontasi antara Multiras dan Nasionalis di AS
https://parstoday.ir/id/radio/world-i46052-konfrontasi_antara_multiras_dan_nasionalis_di_as
Wakil Presiden Amerika Mike Pence meninggalkan arena pertandingan football atau sepak bola Amerika yang berlangsung di Indiana, negara bagian asal Pence, setelah beberapa pemain berlutut saat lagu kebangsaan diputar.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 17, 2017 11:06 Asia/Jakarta

Wakil Presiden Amerika Mike Pence meninggalkan arena pertandingan football atau sepak bola Amerika yang berlangsung di Indiana, negara bagian asal Pence, setelah beberapa pemain berlutut saat lagu kebangsaan diputar.

Di Twitter, mantan Gubernur Indiana itu mengatakan, "Saya meninggalkan pertandingan Colts hari ini karena Presiden Trump dan saya tidak akan menghargai kegiatan apa saja yang tidak menghormati tentara, bendera, atau Lagu Kebangsaan kita.''

Dalam cuitannya di Twitter, Presiden Donald Trump mengatakan aksi Wapres Amerika itu bukan spontanitas. "Saya meminta Wapres Pence meninggalkan stadion jika ada pemain yang berlutut, tidak menghormati negara kita," kata Trump dalam cuitannya.

Sementara pemain Colts berdiri saling bergandeng lengan dalam pertandingan di kandang sendiri di Indianapolis, lebih dari 20 pemain San Francisco 49ers berlutut selama lagu itu berkumandang seperti telah mereka lakukan selama berminggu-minggu.

Pemain football profesional yang umumnya kulit hitam Amerika, dengan tegas menyatakan, mereka berlutut untuk memrotes ketidakadilan ras dan ketidak-setaraan sosial.

Berlutut saat menyanyikan lagu kebangsaan di sejumlah stadium olah raga di Amerika telah berulang kali ditekankan dan aksi ini tidak ditujukan untuk menghina serta melecehkan bendera dan lagu kebangsaan. Aksi ini sekedar ekspresi untuk memprotes ketidaksetaraan sosial di Amerika. Meski demikian aksi ini yang pada awalnya tidak begitu penting, kini menjadi isu yang diperdebatkan kubu pro kebijakan multiras dan kubu pro nasionalis Amerika.

Jika ada yang bertanya sedang musim apa di Amerika Serikat, jawabannya adalah sedang musim berlutut. Pemicunya adalah Colin Kaepernick. Aksi berlutut itu dilakukan oleh banyak orang dari berbagai latar belakang mulai dari olahragawan, musisi, pelajar, dan masyarakat umum. Semakin lama, semakin banyak orang yang berlutut saat lagu kebangsaan Amerika Serikat diperdengarkan.

Semua bermula saat pemain american football, Colin Kaepernick melancarkan protes atas aksi brutal polisi yang dilatarbelakangi sentimen ras. Seiring berjalannya waktu, aksi berlutut itu menjadi sesuatu yang langsung ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai dia menyinggung aksi itu dengan nada dan sikap yang lebih menyerang.

Aksi berlutut atau memegang dada dengan tangan saat lagu kebangsaan Amerika Serikat diperdengarkan punya akar sejarah yang panjang dalam dunia olah raga di negeri Paman Sam. Semua itu berkaitan dengan sesuatu yang diyakini benar oleh pelakunya. Sementara sebagian orang menilai aksi itu bermuatan politik dan tidak patriotis sehingga harus ditendang dari berbagai gelaran olah raga.

Colin Kaepernick memulai protes itu sekitar 13 bulan lalu tapi berlalu dalam keheningan karena tidak langsung mendapat sorotan publik serta tangapan masyarakat luas. Kala itu, dia hanya duduk di bangku cadangan saat lagu kebangsaan Amerika Serikat berkumandang. Tak lama kemudian, Colin Kaepernick berlutut dan mengatakan bahwa dia melakukannya untuk menghormati para veteran militer. Pose Colin Kaepernick itu lantas menjadi sangat ikonik.

Beberapa pemain lainnya lantas bergabung mengikuti aksi itu kendati mereka mendapat banyak kritik dari para penggemar american football karena dinilai tidak mencerminkan sikap menghormati. Aksi itu masih belum terkenal sorotan hingga akhir 2016.

”Saya tidak akan berdiri dan memperlihatkan kebanggan atas bendera negara ini yang melakukan tindak penekanan terhadap masyarakat kulit hitam dan masyarakat ras kulit berwarna (di luar kulit putih) lainnya. Bagi saya, ini lebih besar dari sekadar sepak bola dan sangat egois kalau melihatnya seperti itu. Ada banyak orang tergeletak di jalanan dan masyarakat tak peduli, termasuk untuk urusan pembunuhan,” kata Colin Kapernick usai pertama kali melakukan pose itu.

Saat ini selain menghadapi perdebatan lama seperti konflik antar elit politik kawakan dan baru, warga miskin dan kaya, kulit putih dan hitam, masyarakat Amerika Serikat juga menghadapi kontroversi baru. Kontroversi ini kini meletus antara kubu pro kebijakan multiras dan arus nasionalis. Kubu multiras meyakini yang membentuk Amerika adalah mutli etnis, pengikut berbagai agama dan mazhab. Menurut mereka untuk mempertahankan potensi ekonomi, sosial dan budaya negara ini maka kebijakan multiras harus tetap dilanjutkan.

Menurut pandangan kubu multiras, seluruh etnis dan agama di Amerika setara dan tidak boleh seseorang dibedakan hanya karena warna kulit, etnis atau agamanya. Kubu pro kesetaraan ini geram karena arus diskriminasi di Amerika masih tetap berlanjut dan para pengikut agama non Kristen, protestan serta warga kulit berwarna masih menghadapi kesulitan hidup di negara ini.

Kubu  ini menolak ketidaksetaraan etnis, mazhab dan gender. Mereka meyakini masuknya imigran khususnya imigran profesional dan berpendidikan dari berbagai balahan dunia akan meningkatkan kemampuan nasional Amerika dan negara ini akan tetap berada di puncak. Meski demikian, kubu multiras selama beberapa tahun terakhir dan menyusul krisis finansial tahun 2007-2008, sangat ditekan oleh kubu nasionalis dan kemudian mereka terpaksa mundur dari sejumlah sikapnya.

Sementara itu, kubu nasionalis menekankan perbedaan etnis dan budaya. Mereka meyakini keunggulan sebagian warga Amerika dari yang lain. Dari sisi identitas, kubu ini meyakini pemisahan sosial. Mayoritas kubu ini meyakini warga Amerika sejati adalah keturunan Anglo-Saxon dan bermazhab Protestan. Tentunya sosok seperti ini hanya dapat ditemukan di warga kulit putih. Namun demikian kubu ini juga memberi pengecualian bagi warga kaya dari etnis lain dapat dikategorikan sebagai warga sejati Amerika.

Terlepas dari pembatasan ini, nasionalisme eksklusivisme memandang warga lain sebagai warga kelas dua dan warga kelas dua ini dapat mengangkat dirinya menjadi warga kelas pertama dengan membuktikan kelayakannya dan memiliki kekayaan. Dengan demikian kubu ini sangat menekankan isolasi sosial, menolak masuknya imigran ilegal serta menegaskan penghornatan yang besar terhadap simbol-simbol nasionalisme seperti bendera dan lagu kebangsaan.

Pemilu presiden Amerika tahun 2016 menjadi titik balik dari isu nasionalisme di negara ini. Dari satu sisi, kebangkitan arus nasionalis dan rasis selama satu dekade lalu membuat sosok kontroversial seperti Donald Trump melalui slogan-solgan nasionalismenya berhasil menang di pemilu. Dan dari sisi lain, kemenangan Trump menambah semangat kubu nasionalisme di Amerika Serikat dan mereka semakin berani.

Dengan slogan "Kami akan kembali Menjadikan AS Super Power", Donald Trump tampil di pemilu presiden dan saat pelantikan Trump meneriakkan kata-kata "Amerika yang pertama". Ia juga menyebut imigran sebagai parasit dan warga Mexico sekelompok pasien gangguan jiwa. Tak puas, Trump juga menyebut Muslim sebagai kelompok teroris dan berjanji membangun tembok pemisah di perbatasan Mexico.

Sepekan setelah berkuasa di Gedung Putih, Trump mulai memberlakukan undang-undang pelarangan masuknya warga sejumlah negara Muslim ke Amerika. Kemudian saat menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB, Trump tanpa malu-malu mengatakan bahwa dirinya sekedar bekerja demi kepentingan Amerika dan bukannya kepentingan internasional.

Di iklim seperti ini, gerakan sayap kanan radikal yang condong atas keunggulan kulit putih membuat kubu nasionalis dan neo Nazi melihat peluang paling tepat  dan dengan dalih menjaga patung Jend. Robert E. Lee, komandan pasukan negara bagian selatan selama era perang saudara, mereka mulai unjuk kekuatan.

Unjuk kekuatan ini kemudian berujung pada bentrokan antara kubu nasionalis dan multiras yang mengakibatkan seorang tewas. Meski Trump pada akhirnya secara tersirat terpaksa mengecam arus sayap kanan akibat insiden ini, namun tak lama kemudian ia kembali memberikan angin segar kepada kubu pro nasionalis dengan kecamannya kepada para atlet yang berlutut saat menyanyikan lagu kebangsaan.

Saat ini, di tengah-tengah memuncaknya kekhawatiran atas perkembangan pesat arus radikal dan nasionalis, sejumlah kubu multiras Amerika juga meningkatkan aksinya. Jika tahun lalu hanya satu orang atlet yang berlutut saat dikumandangkannya lagu kebangsaan, tahun ini sejumlah atlet melakukan aksi serupa. Bahkan aksi ini tidak terbatas pada atlet, para budayawan, musisi dan pelajar juga melakukan aksi serupa.

Di sejumlah aksi demo dengan slogan "Nyawa warga kulit hitam juga berharga", bendera Amerika Serikat dibakar para demonstran. Para demonstran yang membakar bendera Amerika menyatakan, aksi tersebut sekedar ungkapan protes atas kondisi yang ada dan tidak boleh dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol nasional negara ini.