Membaca Buku, Membuka Cakrawala
Hari ini diperingati sebagai "Hari Buku Sedunia". Pada 23 April 1995, UNESCO menetapkan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia. Hari buku menghidupkan tradisi literasi masyarakat, terutama di kalangan siswa yang saat ini semakin menurun di tengah banjir informasi media sosial.
Sejumlah pakar berkeyakinan bahwa otak juga perlu dilatih dan diasah demi menjaga kesehatannya sebagaimana fisik. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Neurologi menunjukkan bahwa rajin membaca buku membantu menjaga otak manusia tetap tajam, bahkan ketika usia menua. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa mereka yang terlibat dalam kegiatan latihan otak seperti membaca lebih lambat mengalami penurunan kualitas otak dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Sebuah penelitian yang dilakukan selama enam tahun terhadap 294 responden menunjukkan pengaruh signifikan membaca terhadap ingatan kuat. Studi yang dilakukan Rush University Medical Center menunjukkan bahwa orang dewasa yang menghabiskan waktu luang mereka dengan melakukan kegiatan intelektual seperti membaca memiliki kemungkinan 32 persen lebih lambat mengalami penurunan kognitif di kemudian hari daripada mereka yang tidak.
Gemar membaca bisa melindungi otak dari penyakit Alzheimer, mengurangi tingkat stres, mendorong pikiran positif dan memperkuat persahabatan. Ken Pugh, PhD, presiden dan direktur penelitian Haskins Laboratories mengatakan, membaca memberikan jenis latihan yang berbeda bagi otak dibandingkan menonton TV atau mendengarkan radio.
Ketika Anda memahami halaman perhalaman buku, bagian otak telah mengembangkan fungsi-fungsi lain, seperti kemampuan imajinasi, bahasa dan pembelajaran asosiatif yang seluruhnya terhubung dalam sirkuit saraf tertentu untuk membaca. Robert S. Wilson, PhD, profesor neuropsikologi di Rush University Medical Center berkata, "Aktivitas yang melibatkan latihan otak membuat otak lebih efisien mengubah struktur untuk terus berfungsi dengan baik, terlepas dari hal-hal neuropatologi yang berkaitan dengan usia,”.
Membaca buku yang menarik juga terbukti menurunkan tingkat hormon stres yang tidak sehat, seperti kortisol. Majalah Weight Watchers melaporkan sebuah penelitian di Inggris tentang pengaruh positif membaca. Peserta dilibatkan dalam kegiatan yang memicu kecemasan, kemudian diberikan waktu selama beberapa menit untuk melakukan sejumlah aktivitas. Ada yang membaca, mendengarkan musik, atau bermain video game. Tingkat stres mereka yang melakukan aktivitas membaca turun 67 persen dibanding dengan kelompok yang melakukan kegiatan lain.
The Journal of Psychosomaticm menjelaskan peran membaca sebagai cara terbaik untuk mengurangi stres. David Lewis dari University of Sussex, Inggris, menulis, "Membaca buku bahkan lebih baik dari mendengarkan musik, bermain game, atau berjalan-jalan dalam mengurangi stres. Manfaat membaca juga disejajarkan dengan olahraga dan Tai Chi yang efektif menghilangkan stres".
Membaca juga bisa menjaga otak dalam kerja kognitif di usia tua. Dalam sebuah penelitian dilaporkan bahwa hampir 300 orang yang suka membaca juga memiliki tingkat kognitif 30 persen lebih baik dari yang jarang membaca. Selain itu, mereka yang aktif membaca berisiko lebih rendah mengalami pikun dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan aktivitas yang melibatkan otak.
Menurut studi yang dilakukan oleh National Academy of Science, Amerika Serikat menunjukkan, orang-orang yang menggunakan kemampuan kognitif secara optimal pada usia pertengahan berisiko lebih rendah menderita Alzheimer. Peneliti juga menjelaskan aktivitas kognitif, termasuk membaca [dan bermain catur], merupakan latihan otak yang terbaik dalam mencegah degenerasi kognitif pada otak.
Manfaat membaca menurut Jordan E. Ayan berdampak bagi perkembangan sebagian besar jenis kecerdasaan, di antaranya adalah, menambah kosa kata dan pengetahuan akan tata bahasa dan sintaksis. Hal yang lebih penting lagi, membaca memperkenalkan kita pada banyak ragam ungkapan kreatif. Dengan demikian mempertajam kepekaan linguistik dan kemampuan menyatakan perasaan. Membaca akan membuat kita belajar mengenai metafora, implikasi, persuasi, sifat nada, dan banyak unsur ekspresi lain yang semuanya penting bagi segala jenis profesi mulai seniman, pelaku bisnis, hingga penemu.
Banyak buku dan artikel yang mengajak kita untuk berintropeksi dan melontarkan pertanyaan serius mengenai nilai, perasaan, dan hubungan kita dengan orang lain.
Membaca memicu imajinasi. Buku yang baik mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan karakternya. Bayangan yang terkumpul dari tiap buku atau artikel ini melekat dalam pikiran, dan seiring waktu berlalu, membangun sebuah bentang jaringan ide dan perasaan yang menjadi dasar metafora yang kita tulis, gambar yang kita buat, bahkan keputusan yang kita ambil.
Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dari otak manusia, bahkan bisa dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Paul C. Burns, Betty D. Roe dan Elinor P. Ross dalam penelitiannya mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks. Sebab, ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Kedelapan aspek ini bekerja secara bersamaan saat kita membaca. Oleh karena itu, membaca akan meningkatkan kinerja otak secara optimal.
Membaca mengembangkan selective attention (perhatian selektif), sehingga otak hanya memproses informasi yang secara sengaja dicerna. Ini merupakan unsur terpenting konsentrasi.
Seseorang hanya mampu menikmati bacaan dan menyerap informasi dengan baik hanya apabila otak dalam keadaan efektif mengelola informasi atau secara umum disebut berkonsentrasi. Jika seseorang bisa menikmati bacaan dengan penuh semangat, ini menandakan kemampuan berkonsentrasinya berkembang dengan baik.
Para psikolog berkeyakinan bahwa membaca adalah makanan mental kita. Semakin baik bacaan kita, maka gizi mental pun semakin tinggi. Demikian juga sebaliknya. Bacaan pun harus disesuaikan dengan usia, sebab tidak setiap buku tepat bagi setiap orang.
Setiap hari kita berhadapan dengan banyak media dan informasi yang berseliweran di benak. Dunia maya membuat kita lebih mudah mengakses informasi. Tapi di sisi lain, perhatian kita semakin terpecah sebab melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang hampir bersamaan. Misalnya, kita membuka fecebook, dan pada saat yang sama mengecek email, sekaligus membuka twitter. Selain membuat pikiran kita sulit konsentrasi, hal tersebut menyebabkan tingkat stress bertambah dan produktivitas berkurang.
Tapi ketika kita membaca buku, perhatian akan tertuju kepada buku yang kita baca. Oleh karena itu, membaca buku meningkatkan daya konsentrasi.Selain itu, membaca buku juga meningkatkan daya kritis yang sangat dibutuhkan di tengah menggunungnya informasi.
Sejatinya, membaca buku bukan hanya sebuah proses belajar bagi manusia, tapi juga sebuah budaya. Oleh karena itu membutuhkan sosialisasi di tengah masyarakat sehingga menjadi bagian dari kebutuhan mereka. Membaca buku meningkatkan level budaya sebuah bangsa, mengubah pandangan mengenai kehidupan menjadi lebih logis dan rasional. Peningkatan tingkat kebudayaan sebuah masyarakat akan mendorong kemajuan dan pembangunan sumber daya manusia. Inilah mengapa, membaca membuka cakrawala menuju dunia baru.(IRIBIndonesia/PH)