Hari Keluarga Sedunia
https://parstoday.ir/id/radio/world-i56878-hari_keluarga_sedunia
Sejak tahun 1994, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 15 Mei sebagai Hari Keluarga Sedunia dan setiap tahunnya diperingati dengan tema-tema khusus, sehingga setiap pemerintah dan bangsa memperhatikannya. Tujuan PBB memperingati Hari Keluarga Sedunia dikarenakan masyarakat internasional menilai keluarga sebagai pilar masyarakat paling utama dan melenyapkan kasus-kasus yang mengancam institusi keluarga.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 15, 2018 12:46 Asia/Jakarta

Sejak tahun 1994, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 15 Mei sebagai Hari Keluarga Sedunia dan setiap tahunnya diperingati dengan tema-tema khusus, sehingga setiap pemerintah dan bangsa memperhatikannya. Tujuan PBB memperingati Hari Keluarga Sedunia dikarenakan masyarakat internasional menilai keluarga sebagai pilar masyarakat paling utama dan melenyapkan kasus-kasus yang mengancam institusi keluarga.

Selain itu, Hari Keluarga Sedunia merupakan kesempatan untuk meningkatkan level kesadaran publik terkait pelbagai masalah yang berhubungan dengan keluarga dan mengembangkannya di masyarakat yang berbeda. Di Republik Islam Iran, sama seperti di negara-negara lainnya di dunia, pemerintah dan masyarakat memperingati Hari Keluarga Sedunia dan menyatakan dukungan khususnya atas institusi keluarga.

Keluarga dan masyarakat inklusif atau “Families and Inclusive Societies” merupakan tema Hari Keluarga Sedunia 2018. Slogan ini mengekspresikan peran keluarga dan kebijakannya dalam mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Dalam proses pembangunan dan kemajuan masyarakat yang berkelanjutan, faktor manusia dan non-manusia memainkan peran, dimana para ilmuwan humaniora dan ilmu sosial telah membahasnya. Salah satu faktor manusia adalah “keluarga”, seperti yang mereka katakan, “Keluarga memciptakan masyarakat yang sehat.”

Keluarga

Dalam Islam, institusi keluarga adalah komponen permanen dan komplementer dari kepribadian individu. Islam memberikan perhatian istimewa bagi keluarga dan menganggapnya sebagai paling dicintai Tuhan. Dalam budaya Islam, pembentukan keluarga sama dengan meraih separuh agama dan ibadah seseorang yang berkeluarga lebih unggul dari mereka yang belum menikah.

Tuhan menetapkan dasar kehidupan keluarga atas dasar cinta, kasih sayang, memaafkan, pengertian dan empati dan menganggap tugas suami-istri di tengah keluarga untuk menghormati satu sama lain dan untuk menjaga kesucian. Al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 187 menyebut suami-istri layaknya pakaian bagi lainnya, dimana saling memperindah satu sama lainnya, saling menyempurnakan, menyimpan rahasia yang lain dan saling menutup kekuranan. Rumah dan keluarga dalam Islam sedemikian penting dan sucinya, sehingga tidak diperkenankan seseorang memasukinya tanpa izin (Surat Nur ayat 27).

Mengamalkan ajaran-ajaran Islam dapat mencapai ketenangan batin baik baik individu maupun sosial, menjamin kesehatan dan keamanan masyarakat, pendidikan yang benar bagi anak-anak, mempertahankan nilai-nilai yang asli dan menciptakan keluarga dan masyarakat yang terhormat. Sebaliknya, tidak memperhatikan keluarga di dunia saat ini menyebabkan munculnya telah menyebabkan krisis emosional, perilaku dan sosial yang mendalam di banyak masyarakat.

Hari ini, berkurangnya moralitas manusia dan nilai-nilai sosial dan menganggap kepentingan material sebagai yang utama menjadi elemen yang justru lebih dominan dalam pembangunan. Manusia kini menghancurkan semua nilai masyarakat demi mencapai kesenangan maksimum dan menghilangkan segala kebutuhannya yang terdefinisi dalam sistem internasional. Dalam pendekatan ini, dengan kenaikan banyak indikator perkembangan di negara-negara modern, data akan ketidakadilan, kekerasan, pembunuhan dan pemerkosaan meningkat sejalan dengan pembangunan.

Dalam konteks pembangunan dan kemajuan Islam, hubungan moralitas dengan kepentingan ekonomi umat manusia adalah pilar utama. Ini adalah masalah yang memisahkan isu pembangunan yang dilihat hanya dari sudut pandang material. Peran “keluarga” sangat menonjol dalam pembangunan Islam yang bertujuan dengan fokus pada etika dan keadilan yang merupakan fokus utama keseimbangan sosial.

Dalam Islam, keluarga telah berperan dalam mencegah penyimpangan sosial dan kejahatan serta mencegah masalah psikologis dan memberikan jaminan sosial. Dengan kata lain, kesehatan dan kedinamisan masyarakat tergantung pada kesehatan dan kedinamisan keluarga.

Para sosiolog juga percaya bahwa ada hubungan erat antara kesehatan keluarga dan dinamika keluarga, sehingga mereka harus dipertimbangkan dalam konteks umum dan terintegrasi. Apa yang diajarkan dalam keluarga adalah dasar kemajuan dan faktor yang sama mempengaruhi perkembangan masyarakat.

Keluarga

Seseorang yang tumbuh dengan keinginan kuat dan usaha keras dalam keluarga akan menjadi lengan kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan. Pada prinsipnya, memperkuat keinginan dan memiliki kepribadian yang kuat adalah bagian dari pembangunan itu sendiri. Karena tidak dapat diterima bahwa yang dimaksud dengan pembangunan hanya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan politik dan lain-lain. Semua ini hanya tujuan menengah untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dan itu adalah pertumbuhan manusia.

Sepanjang sejarah manusia, keluarga telah menjadi pusat perluasan dan transfer nilai-nilai dan norma-norma sistem sosial dari generasi ke generasi. Perilaku dan ajaran pertama yang diterima anak-anak sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran selanjutnya. Jadi apa yang dipelajari di tahun-tahun pertama kehidupan mereka adalah pondasi dari pemikiran mereka sendiri.

Gharai Moghaddam, sosiolog dan pakar masalah keluarga mengatakan, “Jangan lupa bahwa anak yang baik selalu dibesarkan dalam keluarga yang tenang dan rasional. Sementara masyarakat yang baik terdiri dari keluarga yang baik. Keluarga adalah jembatan untuk mendorong masyarakat menuju tujuan transendental.”

Seseorang untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan perilaku bermasyarakat di tengah institusi keluarga dan di lingkungan ini pula ia diajarkan bagaimana mengatur hubungan sosialnya. Oleh karena itu, institusi keluarga telah diperkenalkan kepada semua generasi sebagai basis terpenting untuk transfer elemen budaya, keyakinan, adat istiadat, pengetahuan dan keterampilan kepada generasi baru.

Di satu sisi, keluarga menyediakan sarana bagi berkembangnya bakat dan perkembangan fisik, moral, sosial, emosional dan intelektual anak-anak dan remaja. Sementara di sisi lain, keluarga menjadi faktor yang efektif dalam pembentukan nilai-nilai, penciptaan budaya dan peradaban manusia.

Leo Buscaglia, psikolog pendidikan mengutip kejadian yang terjadi sewaktu ia masih kecil. Ia hidup bersama keluarga delapan orang dan ayahnya satu-satunya yang bekerja demi menghidupi keluarga. Suatu hari sang ayah pulang ke rumah dengan wajah tidak menyenangkan. Ibunya yang melihatnya dalam kondisi kacau itu bertanya, “Apa yang terjadi, mengapa begitu sedih?” Sang ayah menjawab, “Aku dikeluarkan dari pekerjaan. Kita bakal sengsara. Bagaimana kita menangani perut anak-anak ini?”

Pada waktu itu, Leo Buscaglia menarik napas tenang dan mengatakan, “Terima kasih Tuhan! Saya pikir kejadian yang lebih parah dari ini yang terjadi. Malam itu ibu menyiapkan segala sesuatu dan dengan bantuan tabungannya, ibu menyiapkan makan malam yang mewah. Sebelum makan, ibu berdoa, ‘Terima kasih banyak Tuhan atas segala pemberian yang berada di atas meja kami. Terima kasih bahwa sekalipun kehilangan pekerjaan, kami tidak kehilangan iman kepada-Mu. Saya tahu mulai sekarang pemberian-Mu akan mengalir dalam kehidupan kita.”

Keluarga

Pada saat itu, ayah Leo tersenyum yang mencerminkan harapan di wajahnya. Anak-anak dengan penuh harapan mengucapkan “Amin”. Beberapa hari kemudian, ayah mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik dari sebelumnya.

Leo Buscaglia mengatakan, “Saya baru menyadari bahwa sekalipun ayah saya yang mencari nafkah di rumah kami, tapi ibu saya memainkan peran lebih penting. Ibu mampu menjaga iman, solidaritas dan perasaan bahagia di tengah-tengah keluarga. Dalam kondisi krisis, ibu mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan finansial dan ekonomi hanya akan menghancurkan kita, ketika kita kehilangan iman dan harapan kita kepada Tuhan dan perbaikan situasi. Ibu tidak membiarkan kondisi ini terjadi bagi keluarganya.

Tentu saja, peran keluarga dalam proses pengembangan masyarakat membutuhkan perhatian pada hal-hal seperti serius meletakkan keluarga dalam kerangka hukum dan peraturan dan kebijakan eksekutif. Pemerintah perlu memperhatikan pertumbuhan keluarga dengan memperluas keamanan ekonomi, sosial dan budaya, sehingga keluarga dapat mendidik generasi baru menjadi pribadi yang sadar diri, mandiri, berdaya dan kritis demi pertumbuhan masyarakat melewati tantangan dunia modern dan krisis nilai.