Masa Depan Hubungan Transatlantik
Pendekatan, kebijakan, dan tindakan Presiden Donald Trump dianggap sebagai babak baru dari kebijakan yang tak lazim dan anti-dunia oleh Amerika Serikat. Sejalan dengan slogan "America First," Trump memprioritaskan kepentingan dan tujuan AS, tanpa memperhatikan pandangan dan kepentingan negara lain. Dia percaya bahwa unilateralisme dan kebijakan sepihak Washington akan meningkatkan kekuatan dan dominasi negara itu atas rival-rivalnya.
Dengan menjalankan unilateralisme serta kebijakan sepihak dan hegemonik, Trump berusaha memaksakan pendekatan dan tuntutannya kepada sekutu-sekutu Amerika di Eropa, dan secara praktis membahayakan hubungan transatlantik. Kerusakan hubungan dan perselisihan antara kedua pihak belum pernah tercatat separah ini di era-era sebelumnya.
Sekarang hubungan transatlantik terkena dampak perselisihan yang meluas terkait berbagai masalah, termasuk penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir, dimulainya perang dagang Amerika terhadap Eropa, dan tindakan balasan negara-negara Eropa terhadap Washington.
Trump berulang kali menyalahkan negara-negara Eropa atas apa yang disebutnya kontribusi yang tidak memadai kepada NATO. Keluarnya AS dari Perjanjian Iklim Paris juga telah memicu kritik keras dari para pemimpin Eropa. Secara khusus, mundurnya AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 8 Mei 2018, benar-benar bertentangan dengan keinginan Uni Eropa dan Troika Eropa (Inggris, Perancis, dan Jerman).
Eropa terang-terangan menyatakan penentangan terhadap AS yang tengah terlibat banyak perselisihan. Eropa telah mengumumkan tekadnya untuk mempertahankan kesepakatan nuklir JCPOA dan melanjutkan hubungan bisnis, ekonomi, dan perbankan dengan Republik Islam Iran. Analis politik, Herman Tertch percaya bahwa Eropa lebih memilih mendukung Iran di tengah ancaman AS untuk mengembalikan sanksi. Para pemimpin Eropa berpikir bahwa lebih baik merangkul sebuah negara seperti Iran daripada berdiri di samping Presiden Trump.
Pendekatan Trump untuk semata-mata mengejar kepentingan AS telah mendorongnya mengambil sikap yang bertentangan dengan masyarakat internasional dan bahkan mitranya di Eropa. Menurut Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, gagasan America First yang digaungkan Trump telah menyebabkan Amerika sendirian.
Dalam memajukan kebijakannya, Trump menempuh cara-cara yang tidak biasa yaitu; ancaman dan gertakan, yang mencerminkan kepribadian dia sendiri. Konflik Trump tidak terbatas dengan mitranya di Eropa, tuntutan agresif presiden populis Amerika dalam masalah perdagangan dan proteksionisme – dengan memberlakukan tarif impor yang besar – telah melahirkan sebuah koalisi global menentang kebijakan Trump di bidang perdagangan.
Perjalanan Trump ke Eropa baru-baru ini untuk menghadiri KTT NATO di Brussels dan kemudian kunjungannya ke Inggris, adalah cerminan yang jelas dari kegagalannya, karena para pemimpin Eropa menentang sikap dan tuntutan Trump di KTT NATO. Di Inggris, presiden AS menghadapi gelombang protes besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat, organisasi hak asasi manusia, kelompok anti-perang dan anti-rasis. Aksi ini jelas memperlihatkan sikap kompak masyarakat Eropa dalam menentang Trump.
Setelah menghadapi penentangan dari para pemimpin Eropa di KTT NATO dan juga serangan media terhadap dirinya, Trump diperkirakan akan mengambil sikap yang lebih keras di hadapan Eropa.
Salah satu konflik paling penting antara transatlantik adalah masalah pertahanan dan keamanan. Trump selama kampanye pilpres AS 2016 menyebut NATO sebagai organisasi ketinggalan jaman dan usang. Setelah duduk di Gedung Putih, ia telah mengintensifkan tekanannya terhadap Aliansi agar menambah pagu anggaran militer mereka.
Dalam hal ini, Donald Trump mengatakan, "Kita tidak bisa lagi mengeluarkan lebih banyak biaya untuk keamanan Eropa, dan anggota NATO harus mengakhiri situasi tidak adil mereka saat ini dan membayar biaya keamanan mereka sendiri."
Permintaan Trump ini mengundang reaksi Eropa yang tidak begitu positif. Meskipun Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengklaim bahwa para anggota NATO telah menyetujui proposal Trump untuk meningkatkan anggaran militer, namun tuntutan ini tidak diterima oleh negara-negara Eropa, termasuk Jerman. Para pemimpin Eropa marah dengan unilateralisme dan arogansi Trump, dan mereka tidak bisa lagi menerima perlakuan seperti ini.
Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk pada upacara penandatanganan perjanjian baru terkait kerjasama Uni Eropa-NATO mengatakan, "Saya ingin mengirim pesan kepada Presiden Trump, yang telah mengkritik Eropa hampir setiap hari untuk waktu yang lama. Amerika sayang, hargai sekutu Anda, bagaimana pun Anda tidak memiliki sekutu yang lebih baik daripada Uni Eropa. Anggaran yang dibelanjakan Eropa untuk pertahanan lebih besar dari yang dialokasikan Rusia dan setara dengan anggaran pertahanan Cina."
Sebaliknya, Trump menolak pernyataan presiden Dewan Eropa dan mengklaim bahwa AS memiliki banyak sekutu. Serangan verbal yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menunjukkan ketegangan antara Washington dan Brussels. Dalam statemennya, Donald Tusk mengatakan Amerika pada era Trump menjadi lebih terisolasi di dunia dan sudah tidak memiliki banyak sekutu.
Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Presiden Trump. Dia menyebut Uni Eropa sebagai musuh Amerika. Dia mengatakan, "Saya pikir kami punya banyak musuh, dan tak ada yang berpikir itu adalah Uni Eropa, tapi mereka musuh kami. Uni Eropa benar-benar memanfaatkan kami dalam perdagangan; Rusia adalah musuh dalam hal-hal tertentu; Cina adalah musuh ekonomi, tentu saja; mereka adalah musuh."
Meskipun hubungan AS dengan Uni Eropa diwarnai banyak gesekan dalam beberapa bulan terakhir, namun ini adalah sikap Trump yang paling keras ke Eropa. Dengan demikian, Trump setelah 70 tahun terjalinnya hubungan transatlantik, telah menempatkan Eropa pada daftar musuh-musuh Amerika. Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May, Trump menyarankan London untuk menggugat Uni Eropa sebagai bagian dari strategi keluar dari organisasi tersebut.
Di lain pihak, Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk sudah sering mengkritik presiden Amerika secara terbuka. Dia menuding Trump menyebarkan berita-berita palsu. Dalam sebuah tweet, Tusk menulis, "Uni Eropa dan Amerika adalah teman baik. Siapa pun yang mengatakan kami musuh, menyebarkan berita palsu."
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini menanggapi pernyataan Trump yang menyebut Uni Eropa sebagai musuhnya. Dia mengatakan, "Kami telah menyatakan dengan jelas siapa teman-teman kami, Amerika Serikat dan saya berulang kali menegaskan bahwa pergantian pemerintahan tidak akan mengubah realita ini."
Eropa dan AS telah bertindak sebagai sekutu transatlantik sejak Perang Dunia Kedua, tetapi perimbangan politik berubah sejak Donald Trump berkuasa di Washington dan sikap-sikapnya telah menimbulkan banyak kekhawatiran bagi sekutu Washington di Eropa. Banyak pejabat Eropa berpendapat bahwa kebijakan Trump telah memperlihatkan watak asli Amerika, di mana tidak ada yang namanya teman dan musuh, dan ia telah mengabaikan sistem hukum internasional.
Lalu, apakah pendekatan Trump terhadap Eropa hanyalah sebuah sikap pribadi atau ia mewakili gerakan yang berada di Amerika, yang ingin meninjau ulang landasan hubungan luar negeri Washington, termasuk hubungan mereka dengan Eropa?
Dalam hal ini, Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan, "Mundurnya Amerika dari peran internasionalnya bukan hanya karena seorang presiden, tetapi ini adalah sebuah perubahan fundamental yang juga tidak akan kembali seperti sebelumnya setelah pemilu mendatang."
Dengan kata lain, para pemimpin Eropa percaya bahwa mulai sekarang mereka harus mengambil sikap yang berbeda dalam berurusan dengan Amerika, dukungannya kepada Washington sudah harus dikurangi, dan fokus untuk mengambil sikap dan tindakan.
Jadi, dapat diprediksi bahwa hubungan transatlantik akan terus bergerak menuju divergensi, dan perselisihan kedua pihak akan semakin tajam dari waktu ke waktu. Banyak dari pemimpin dan pejabat tinggi Uni Eropa juga memandang sikap Trump sebagai tidak terukur, tidak rasional, dan pada akhirnya akan merugikan blok Barat dan ini harus dilawan.