Aids, Ancaman Penyakit Global
-
Hari Aids Sedunia
Salah satu masalah besar yang mengancam masyarakat dunia saat ini adalah penyakit aids. Dengan tingkat penyebaran yang semakin tinggi, penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan penting di tingkat dunia.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala penyakit akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini telah menjadi isu global sebab dalam waktu yang relatif singkat terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit tersebut di seluruh dunia. Hingga kini belum ditemukan adanya vaksin atau obat yang efektif sebagai pencegahan penyakit yang dapat menimbulkan berbagai infeksi oportunistik penyebab kematian ini, sehingga hingga saat ini HIV/AIDS masih menjadi keresahan di seluruh dunia.
Pada tahun 1988, PBB menetapkan tanggal satu Desember sebagai "Hari Aids Sedunia". Prakarsa ini pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Selanjutnya, setiap tanggal satu Desember diperingati sebagai hari aids sedunia untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Kasus aids pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan sejawatnya di Los Angeles pada tanggal 5 Juni 1981. Ketika itu Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya kasus ini pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Beberapa tahun kemudian, CDC Amerika serikat yang mengamati kasus HIV dan aids melihat peningkatan kasus infeksi yang tidak lazim berupa Infeksi yang merusak sistem kekebalan tubuh. Semula para dokter tidak mengetahui penyebab rusaknya kekebalan tersebut. Sebelum infeksi ini hanya dilaporkan terjadi pada orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak oleh kanker atau oleh obat-obat penekan sistem kekebalan tubuh, misalnya: mereka yang menjalani pencangkokan organ tubuh. Kondisi ini kemudian disebut dengan aids.
Sementara itu HIV ditemukan oleh Luc Montagnier dkk dari institut Pasteur Perancis. Mereka berhasil mengisolasi virus penyebab aids. Kemudian pada Juli 1994, DR Robert Gallo dari lembaga kanker Nasional menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari penderita aids yang diberi nama HTLV – III. Virus itu terus berkembang dengan nama HIV.

UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa aids telah membunuh lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui tahun 1981. Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi, dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan aids meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981. Jumlahnya kini meningkat beberapa kali lipat melampaui 37 juta orang.
Afrika Sub-Sahara menjadi kawasan terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan 21,6 sampai 27,4 juta orang kini hidup dengan HIV. Dua juta orang dari mereka adalah anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun.
Sebanyak Lebih dari 64 persen dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat atau 76 persen dari semua wanita hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12 juta anak yatim atau piatu yang menderita aids hidup di Afrika Sub Sahara.
Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi kawasan terburuk kedua yang terinfeksi dengan besaran 15 persen. Sebanyak 500.000 anak-anak mati di wilayah ini karena aids. Dua pertiga kasus infeksi HIV di Asia muncul di India, dengan perkiraan 5,7 juta terinfeksi, melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5,5 juta yang membuat negara ini terbesar jumlah pengidap infeksi HIV di dunia.

Masalah lain yang paling mempengaruhi penyebaran aids adalah ketidakperdulian penderita terhadap penyakit tersebut. Saat ini lebih dari 37 juta orang di dunia terjangkiti penyakit aids. Tapi 40 persen dari mereka tidak menyadarinya. Kebanyakan dari mereka baru menyadari terjangkiti penyakit ini setelah muncul tanda-tanda di tubuhnya yang diserang virus HIV.
Tahun ini PBB menetapkan slogan "mendorong semua orang untuk mengetahui status HIV mereka" untuk mengkampanyekan kesadaran terhadap bahaya penyakit aids. Di tingkat global, penanganan masalah besar ini membutuhkan itikad politik yang kuat dan investasi yang besar. PBB menyatakan hingga tahun 2020 membutuhkan 9,31 miliar dolar, dan di tahun 2030 bertambah 3,29 miliar dolar menjadi sekitar 12,6 miliar dolar untuk mengatasi masalah ini dan menjadikan generasi mendatang bebas dari penyakit aids. Tujuan ini akan terwujud jika negara kaya membantu negara miskin untuk bersama-sama mengatasi masalah global ini.