Agitasi baru AS terhadap Iran
-
Michael Waltz
Parstoday- Dengan kerkuasanya kembali Donald Trump, presiden kontroversial Amerika Serikat, Washington mulai melancarkan upaya baru untuk melawan Iran dengan menjalankan kembali kampanye tekanan maksimum dari satu sisi, dan meluncurkan perang psikologis serta agitasi terhadap Republik Islam Iran.
Sekaitan dengan ini, Penasihat Keamanan Nasional Donald Trump, Michael Waltz Jumat (21/2/2025) saat Konvensi Partai Republik (CPAC) di Washington, mengulang berbagai klaim Amerika Serikat anti-progam nuklir Iran demi menjustifikasi kebijakan tekanan maksimum terhadap Republik Islam Iran.
Seraya mengisyaratkan bahwa Republik Islam Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, Waltz mengklaim: Jika Iran memiliki senjata nuklir, maka pertanyaan ini akan muncul, apakah mereka pemain regional atau tidak. Mereka dapat memusnahkan sekutu kami, Israel.
Waltz, yang khawatir dengan kekuatan pertahanan Iran yang bersifat pencegahan, mengklaim bahwa Tehran akan memiliki kemampuan untuk menyerang di mana saja jika memperoleh senjata nuklir, dengan mengklaim: "Mereka akan memiliki payung nuklir untuk melaksanakan semua serangan ini dan serangan lainnya. Mereka seharusnya tidak memiliki senjata nuklir. Selama masa kepresidenan Trump, kami akan melakukan segala hal untuk mencegah hal ini terjadi."
Penasihat keamanan nasional Trump melanjutkan: Presiden Trump baru-baru ini menandatangani perintah untuk melanjutkan tekanan maksimum agar terus menekan ekonomi Iran.
Klaim Penasihat Keamanan Nasional AS terhadap program nuklir damai muncul ketika Washington belum memberikan bukti kuat tentang dugaan dimensi militer dalam aktivitas nuklir Iran, meskipun negara ini dan rezim Israel berulang kali mengklaim tentang upaya Iran memperoleh senjata nuklir. Selama masa kepresidenan Joe Biden, Amerika Serikat berulang kali mengakui bahwa Iran tidak memiliki program nuklir militer. Terkait hal ini, badan intelijen utama AS telah mengakui bahwa Iran tidak sedang berupaya membuat senjata nuklir.
Dalam sebagian laporan tidak terklasifikasi Kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada Juli 2023, sembari menegaskan kembali bahwa Iran saat ini tidak sedang melaksanakan kegiatan pengembangan senjata nuklir utama yang diperlukan untuk menghasilkan bom nuklir yang dapat diuji, diklaim bahwa Tehran masih terus melanjutkan kegiatan penelitian dan pengembangannya.
Sebelumnya, pada Desember 2022, Direktur Intelijen Nasional AS saat itu, Avril Haines, mengakui bahwa tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa Iran telah membuat keputusan untuk membuat senjata nuklir. Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), juga mengatakan dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan Davos pada 21 Januari 2025, sebagai tanggapan atas pertanyaan apakah IAEA juga meyakini hal ini, mengingat klaim rezim Israel bahwa ada tujuan militer dalam program nuklir Iran, mengatakan: "Tidak, kami tidak memiliki bukti bahwa Iran sedang memproduksi senjata nuklir."
Poros kedua agitasi baru Amerika melawan Iran adalah upaya untuk menampilkan citra Iran sebagai negara pemicu perang yang, dengan menjual pesawat tak berawak ke negara lain, membuka jalan bagi kekerasan dan penghancuran manusia. Dalam konteks ini, sebuah pesawat nirawak dipamerkan di acara Konvensi Nasional Partai Republik (C-PAC) tahun ini dengan tujuan menciptakan suasana yang menentang Iran dan membenarkan tindakan balasan terhadap apa yang disebut sebagai ancaman Iran.
Media Amerika mengklaim bahwa pesawat nirawak tersebut, yang ditembak jatuh oleh tentara Ukraina, diserahkan ke Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Ukraina dan Polandia serta organisasi nonpemerintah Amerika "United Against Nuclear Iran" (UANI). "United Against Nuclear Iran," yang dipimpin oleh Mark Wallace, mantan perwakilan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berfokus pada berbagai kegiatan yang menentang Republik Islam Iran.
Sumber-sumber Amerika mengklaim bahwa pesawat tak berawak buatan Iran ini digunakan oleh Rusia dalam perang melawan Ukraina dan kemudian ditransfer dari negara tersebut ke Amerika Serikat. Drone ini adalah pesawat pengebom bunuh diri dan berjenis Shahed-136. Sumber-sumber Barat mengklaim bahwa Rusia menggunakan pesawat tak berawak Shahed dalam perang di Ukraina dengan mengganti namanya menjadi "Geran 2". Uni Eropa dan Amerika Serikat sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap Tehran dengan mengklaim bahwa Iran telah mengirim pesawat tak berawak ke Rusia.
Menanggapi tindakan terarah Amerika yang memamerkan pesawat tanpa awak di pertemuan C-PAC untuk mencoreng citra Iran, perwakilan Republik Islam Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan pada hari Jumat: "Tidak ada larangan penjualan pesawat tanpa awak Shahed." Badan tersebut menambahkan: "Drone Shahed adalah salah satu jenis drone terbaik di dunia; Ia memiliki kemampuan identifikasi, pengawasan, dan operasional yang sangat baik, dan harganya juga sangat terjangkau."
Perwakilan Republik Islam Iran di PBB melanjutkan: "Tidak ada larangan hukum atas penjualannya. Negara mana pun yang berjanji tidak akan menggunakannya untuk menyerang negara lain dapat mengajukan permohonan untuk membelinya."
Faktanya, Amerika Serikat telah mempromosikan propaganda menentang pesawat tak berawak Shahed 136, menggambarkannya sebagai penyebab kematian manusia, seolah-olah Washington tidak memiliki peran dalam genosida warga Palestina di Gaza dengan mengirimkan sekitar 80.000 ton berbagai bom dan amunisi ke rezim Zionis. Sementara Amerika Serikat memainkan peran terbesar dalam ketidakamanan dan pembunuhan warga sipil di Asia Barat pada era pasca-Perang Dingin dengan melancarkan dua perang besar di Afghanistan dan Irak dan kemudian mendukung kelompok teroris di Suriah, Irak, dan Afghanistan. Sekarang, dengan memberikan lampu hijau untuk mengirim 1.800 bom baru ke Israel, Trump telah memberi Tel Aviv alat yang diperlukan untuk terus membunuh warga Palestina dan orang-orang di negara-negara tetangga. (MF)