Pengaruh Luar Biasa Mendoakan Orang Lain!
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i11788-pengaruh_luar_biasa_mendoakan_orang_lain!
Bulan Ramadan adalah bulan membaca al-Quran dan bulan berdoa. Ahli makrifat mengatakan, bulan ini adalah bulan menuju kepada Allah, tempat perjamuan Allah dan suluk spiritual. Di bulan Ramadan, al-Quran diturunkan kepada Rasulullah Saw. Ulama menyebutnya dengan istilah “Quran Nazil” atau al-Quran yang turun. Sementara itu, di bulan suci ini sangat dianjurkan untuk berdoa dan diistilahkan dengan “Quran Shaid” atau al-Quran yang naik.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 14, 2016 05:32 Asia/Jakarta
  • Berdoa
    Berdoa

Bulan Ramadan adalah bulan membaca al-Quran dan bulan berdoa. Ahli makrifat mengatakan, bulan ini adalah bulan menuju kepada Allah, tempat perjamuan Allah dan suluk spiritual. Di bulan Ramadan, al-Quran diturunkan kepada Rasulullah Saw. Ulama menyebutnya dengan istilah “Quran Nazil” atau al-Quran yang turun. Sementara itu, di bulan suci ini sangat dianjurkan untuk berdoa dan diistilahkan dengan “Quran Shaid” atau al-Quran yang naik.

Di antara sekian ibadah, doa memiliki posisi spesial. Karena ia merupakan ibadah yang paling bagus dan paling tinggi di sisi Allah. Doa menunjukkan pengenalan dan makrifat kepada Sang Pencipta. Doa menjelaskan tentang lemahnya manusia di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, dalam sehari kita wajib berdoa sebanyak sepuluh kali dan kita katakan “Ihdinash Shirathal Mustaqim...tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”

Doa merupakan perantara menarik perhatian Allah dan menarik rahmat ilahi.

قُلْ مَا یَعْبَأُ بِکُمْ رَبِّی لَوْلا دُعَاوُکُمْ

Katakanlah wahai Nabi, (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak memerhatikan kalian, kalau tidak ada doa kalian.” (QS. Furqan: 77)

Mencermati ayat-ayat al-Quran dengan seksama akan ditemukan satu kenyataan bahwa setiap kali Rasulullah Saw ditanya oleh orang-orang di sekitarnya, maka Allah memberitahukan jawabannya kepada beliau. Sebagai contoh adalah tentang ruh “Wa Yas’alunaka Anir Ruh” atau tentang Anfal “Yas’alunaka Anil Anfal” atau tentang ahillah “Yas’alunaka ‘Anil Ahillah” atau tentang Kiamat “Ya’alunaka ‘Anis Sa’ah” atau masalah-masalah khusus “Yas’alunaka ‘Anil Mahidh”

Dari semua pertanyaan ini, pada hakikatnya Rasulullah Saw hanya perantara dalam menjawab, namun pada satu kasus tidak demikian. Dan itu adalah berdoa. Dalam ayat yang menyebutkan “Idza Sa’alaka Ibadi, Anni Fainni Qarib, Ujibu Da’watat Da’ Idza Daani... Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”

Sedemikian cintanya Allah kepada hamba-Nya, sehingga Dia sendiri yang menjawabnya dan tidak memerlukan perantara, sekalipun pribadi agung Rasulullah Saw. Allah Swt begitu senang tatkala mendengar hamba-Nya berdoa dan meminta kepada-Nya. Doa itu sendiri sangat bernilai. Sedemikian tingginya nilai tersebut, sehingga Allah terkadang menunda untuk mengabulkan permintaan hamba-Nya agar ia lebih serius lagi dalam berdoa.

Artinya, terlepas dari masalah terkabulnya sebuah doa, pada hakikatnya doa itu sendiri sebuah nilai. Karena itu merupakan sebuah pengakuan seseorang sebagai hamba-Nya. Doa satu bentuk kepasrahan diri kepada Allah Swt. Dan ini merupakan dasar keimanan seseorang kepada Allah Swt.

Imam Shadiq as berkata, “Allah tidak menyukai hamba yang bersikeras menuntut sesamanya mengerjakan kebutuhan dan hajatnya, tapi Allah menyukai hamba-Nya yang bersikeras dan serius kepada-Nya. Allah menyukai permintaan kepada-Nya dan hendaknya meminta apa yang ada pada-Nya.

Tiga pengaruh ajaib doa untuk orang lain

Rasulullah Saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ دَعَا لِلْمُوْمِنِینَ وَ الْمُوْمِنَاتِ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَیْهِ مِثْلَ الَّذِی دَعَا لَهُمْ مِنْ کُلِّ مُوْمِنٍ وَ مُوْمِنَةٍ مَضَی مِنْ أَوَّلِ الدَّهْرِ أَوْ هُوَ آتٍ إِلَی یَوْمِ الْقِیَامَة

Tidak ada seorang hamba yang berdoa untuk orang-orang Mukmin dan Mukminah melainkan Allah mengembalikan [mengabulkan] doa itu sebagaimana yang disampaikan, seperti setiap orang mukmin dan mukminah yang telah berdoa untuknya di masa lalu dan masa yang akan datang sampai Hari Kiamat.” (Bihar al-Anwar, jilid 90, hal 386)

Tujuan seseorang yang mendoakan orang lain tanpa menyebut dirinya dengan harapan mendapatkan kelipatan balasan dari Allah sesuai dengan apa yang didoakannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Hammad salah satu sahabat Imam Shadiq as berkata:

قُلتُ لِأبی عَبدِالله (علیه السلام) أَشْغَلُ نَفْسِی بِالدُّعَاءِ لِإِخْوَانِی وَ لِأَهْلِ الْوَلَایَةِ فَمَا تَرَى فِی ذَلِکَ

“Kepada Abi Abdillah [Imam Shadiq as] saya berkata, “Saya menyibukkan diri dengan mendoakan saudara-saudara saya dan para pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw, pekerjaan saya adalah mendoakan mereka dan tidak menyangkutkan diri saya. Bagaimana pendapat Anda tentang cara saya ini?”

Pada awalnya Imam Shadiq menjawab,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَکَ وَ تَعَالَى یَسْتَجِیبُ دُعَاءَ غَائِبٍ لِغَائِبٍ

Allah mengabulkan doa seseorang kepada orang lain yang tidak bersamanya.

Kemudian berkata,

وَ مَنْ دَعَا لِلْمُوْمِنِینَ وَ الْمُوْمِنَاتِ وَ لِأَهْلِ مَوَدَّتِنَا رَدَّ اللَّهُ عَلَیْهِ مِنْ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ لِکُلِّ مُوْمِنٍ حَسَنَة

Barang siapa yang berdoa untuk orang-orang Mukmin dan Mukminah, dan untuk orang-orang yang mencintai kami, maka Allah akan memberikan pahala kebaikan kepadanya dari zaman Nabi Adam as sampai Hari Kiamat untuk setiap mukmin.” (Wasail as-Syiah, jilid 7, hal 110) (Emi Nur Hayati)