Adab Bepergian (Bagian 2)
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i22030-adab_bepergian_(bagian_2)
Berikut ini adab dan tata krama dalam bepergian:
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 01, 2016 17:51 Asia/Jakarta
  • Isfahan
    Isfahan

Berikut ini adab dan tata krama dalam bepergian:

Sebelum Bepergian

 

1. Menunaikan hak orang lain dan berwasiat

 

Kejadian tidak dapat diprediksi dengan tepat. Setiap saat mungkin saja terjadi banyak peristiwa yang berujung pada kematian manusia. Dengan demikian, sangat tepat, bahkan dianjurkan agar setiap muslim sebelulm memulai bepergian, hendaknya membayar utang yang berada dalam tanggungannya, menyampaikan amanat kepada pemiliknya atau menuliskan surat wasiat yang isinya tentang utang dan lain-lain. Bila terjadi peristiwa, dimana Allah memanggil pulang seorang hamba-Nya, sehingga seseorang yang hendak bepergian di dunia harus bepergian menuju akhirat, ia telah menunaikan hak orang lain yang menjadi tanggungannya. Begitu juga menuliskan wasiat tentang salat dan puasa yang harus diqadha dan kewajiban syaraiat lainnya yang belum sempat dilakukannya.

 

Imam Shadiq as berkata, “Barangsiapa yang sudah naik kendaraannya, hendaknya ia berwasiat.”[1]

 

Dalam Islam, menulis surat wasiat sangat ditekankan, baik dalam kondisi hendak melakukan perjalanan atau tidak. Penekanan ini agar seorang muslim bila meninggal dunia tidak dalam keadaan menanggung kewajiban baik dirinya, atau kewajiban yang harus disampaikan kepada orang lain. Karena di Hari Kiamat, mereka yang masih punya tanggungan kepada orang lain tidak akan dimaaafka, kecuali orang tersebut dan ini masalah yang sangat berat.

 

Seseorang mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, “Saya hendak bepergian dan telah menulis surat wasiatku. Menurut Anda, saya harus menyerahkannya kepada ayah, anak atau saudaraku?”

 

Rasulullah Saw memuji perbuatannya menulis surat wasiat sebelum bepergian dan menasihatinya, “Seseorang yang siap bepergian, maka sesuatu yang paling baik sebagai penggantinya adalah ia melakukan salat empat rakaat di rumahnya dan setiap rakaat ia membaca surat al-Fatihah dan surat al-Ikhlas setelah itu membaca doa ini Allahumma Inni Ataqarrabu Bihinna Ilaika, Faj’alhunna Khalifati fi Ahli wa Mali (Ya Allah! Saya mendekati-Mu dengan empat rakaat salat yang kulakukan. Jadikan keempat rakaat salat ini sebagai penggantiku di keluarga dan hartaku).”

 

Setelah itu Rasulullah Saw bersabda, “Keempat rakaat ini sebagai penggantinya di rumah, harta dan keluarganya, hingga ia kembali.”[2]

 

2. Persiapan Bekal Terbaik

 

Setiap kali seseorang ingin bepergian, sekalipun dalam waktu singkat, ia harus mempersiapkan dirinya dengan bekal terbaik. Persiapan ini harus semakin baik ketika perjalanan yang dilakukan dalam waktu lama, sehingga ia tidak menemukan masalah lebih besar dalam perjalanan. Bekal ini termasuk uang dari hartanya yang halal. Dalam menggunakannya hendaknya ia tidak kikir sekaligus tidak boros dan bersikap dermawan kepada rekan-rekan seperjalanannya..

 

Abu Ya’fur menukil dari Imam Shadiq as bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada nafkah dan bekal di sisi Allah yang lebih baik dari bersikap seimbang. Allah menilai perilaku boros sebagai musuh, kecuali di musim haji.”[3]

 

Di tempat lain, Imam Shadiq as menukil Rasulullah Saw bersabda, “Tanda kemuliaan seseorang adalah saat bepergian ia menyiapkan bekal yang baik.”[4]

 

Dalam hadis lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kali kalian ingin bepergian, bawa bekal penuh makanan.”[5]

 

Setiap kali Imam Sajjad as hendak bepergian melakukan ibadah haji atau umrah, beliau membawa makanan terbaik, seperti kacang-kacangan, gula, tepung, susu dan kue-kue.[6]

 

Imam Shadiq as saat berdialog tentang sifat ksatria, beliau berkata, “Berbeda dengan bayangan kalian, keksatriaan tidak dapat terwujud dengan kefasikan dan dosa. Keksatriaan itu ada dua macam; pertama di tanah air dan yang kedua di perjalanan. Parameter keksatriaan seseorang ketika berada di daerahnya adalah menyibukkan dirinya dengan membaca al-Quran, melazimkan dirinya dengan masjid dan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan saudara mukminnya. Sementara keksatriaan dalam perjalanan adalah punya bekal yang cukup dan halal dan berbagi dengan rekan seperjalanan. Menjaga rahasia rekan seperjalanan setelah berpisah dengan mereka. Banyak bercanda terkait hal-hal yang tidak dimurkai Allah.”

 

Kemudian beliau menambahkan, “Demi Allah yang mengutus kakekku, Rasulullah Saw dengan kebenaran! Sesungguhnya Allah Swt memberi rezeki seorang hamba sesuai dengan keksatriaannya.”[7]

 

Dengan hadis-hadis yang ada, bersikap dermawan dalam perjalanan merupakan akhlak yang baik dan ditekankan dalam Islam. Selain itu, sangat salah bila menganggap Islam menyeru pemeluknya untuk makan seadanya. Sebaliknya, Islam justru menganjurkan pengikutnya untuk mempersiapkan bekal terbaiknya untuk digunakan dalam perjalanan, seperti makanan terbaik yang dimilikinya.

 

3. Peralatan

 

Satu lagi dari adab bepergian yang perlu diperhatikan adalah membawa peralatan penting dan yang dibutuhkan. Kondisi dan cuaca daerah tujuan yang berbeda dengan daerah sendiri membuat siapa saja yang akan bepergian menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.

 

Dari ucapan Imam Shadiq as tentang nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya sebagai berikut:

 

“Anakku!

 

Setiap kali engkau hendak bepergian, hendaklah engkau membawa perlengkapan yang bermanfaat seperti pedang, sepatu, sorban, ikat pinggang, gelas, benang, jarum dan obat-obatan yang dibutuhkan bila engkau atau orang lain sakit. Selama tidak berujung pada maksiat, turutilah keinginan rekan seperjalananmu.”[8]

 

Rasulullah Saw setiap kali bepergian senantiasa membawa lima barang; cermin, tempat celak, sisir, miswak dan kendi air. Menurut sebagian hadis yang lain, beliau membawa gunting.[9]

 

4. Pakaian yang Sesuai

 

Kondisi cuaca daerah yang akan dilalui atau ditempati seorang musafir membuatnya harus menyiapkan pakaian yang sesuai dengan daerah tersebut.

 

Dawud Raqiy berkata, “Saya bersama Imam Shadiq as sampai ke sebuah tempat di sekitar Madinah yang bernama Yanbu’. Karena beliau sudah keluar dari rumah, saya melihatnya memakai sepatu berwarna merah. Saya bertanya, ‘

Wahai keturunan Rasulullah! Sepatu apa yang engkau kenakan ini?’

 

Beliau menjawab, “Sepatu ini saya pilih untuk bepergian. Sepatu ini lebih tangguh menghadapi medan becek dan hujan.”[10]

 

5. Alat Bela Diri

 

Ada musuh, pencuri dan binatang di tengah jalan membuat mereka yang ingin bepergian ke tempat yang belum diketahui hendaknya menyiapkan alat untuk bela diri. Sangat ditekankan dalam perjalanan agar membawa tongkat.

 

Imam Shadiq as menukil dari ayahnya hingga Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Barangsiapa yang akan bepergian, hendaknya memegang tongkat.” Kemudian beliau membaca ay7at 22 surat al-Qashash, “Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi), "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”

 

Setelah itu beliau bersabda, “Barangsiapa memegang tongkat, Allah akan menjaganya dari setiap hewan buas, perampok dan setiap binatang berbisa. Allah akan mengembalikannya ke keluarganya dengan selamat beserta 77 malaikat yang senantiasa beristighfar untuknya hingga tiba di rumah dan meletakkan tongkatnya.”[11]

 

Terkait dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang dalam kondisi bepergian atau tidak dan memegang tongkat dengan tawadu, akan dituliskan seribu kebaikan baginya dan setiap langkah yang diayunnya. Seribu keburukan akan dihapus darinya dan ditambahkan seribu derajat baginya.”[12]

 

6. Cincin Akik

 

Termasuk adab bepergian dan terhitung Sunnah adalah menggunakan cincin akik. Karena dapat menjaga orang yang memakainya dari bahaya. Imam Shadiq as berkata, “Cincin akik melindungi pemiliknya dalam perjalanan.”[13]

 

7. Turbah Imam Husein as

 

Turbah Karbala punya posisi tersendiri bagi para pecinta Ahlul Bait. Penting ketika seorang hendak bepergian membawa turbah Karbala baik dalam bentuk bubuk atau sudah terbentuk untuk salat dan tayamum.

 

Ketika Imam Shadiq as tiba di Irak, masyarakat mengerumuninya dan bertanya, “Turbah Karbala obat segala penyakit. Apakah ia juga dapat mengusir segala ketakutan?”

 

Imam Shadiq as menjawab, “Iya. Barangsiapa dari kalian yang ingin menjauhkan rasa takut, ambillah tasbih dari turbah Imam Husein as dan membaca doa Lailatul Mabit sebanyak tiga kali di atas tempat tidur dan ciumlah lalu usapkan ke mata.”[14] (Saleh Lapadi)

 

Sumber: Ayin Safar; Qommi, Sayed Asgar Nazemzadeh, Bostan Ketab, cet 3, 1386 HS.

 

[1]. Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 267.

[2]. Al-Aman fi Akhthar al-Asfar wa al-Azman, hal 43.

[3]. Makarim al-Akhlaq, hal 251. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 9.

[4]. Ibid, hal 253. Al-Aman min Akhthar al-Asfar wa al-Zaman, hal 55. Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 310.

[5]. Ibid, hal 267. Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 309.

[6]. Ibid, hal 263. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 270.

[7]. Makarim al-Akhlaq, hal 254. Al-Mahajjah al-Baidha’, jilid 4, hal 580. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 274.

[8]. Al-Aman min Akhthar al-Asfar wa al-Azman, hal 54.

[9]. Ibid, hal 54. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 232.

[10]. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 272.

[11]. Bihar al-Anwar, jilid 7, hal 29. Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 274.

[12]. Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 274. Al-Aman min Akhthar al-Asfar wa al-Azman, hal 46. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 302.

[13]. Al-Aman min Akhthar al-Asfar wa al-Azman, hal 52. Wasail as-Syiah, jilid 3, hal 403.

[14]. Ibid, hal 47.