Ayah Segalanya Bagiku
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i22795-ayah_segalanya_bagiku
Rahmat bin Sukatma adalah nama ayahku. Wajahnya teduh, pembawaan pribadinya simpatik, dan sikapnya selalu ramah kepada siapapun yang ia temui. Gaya berbicara ayah pun santun. Ia adalah sosok pekerja keras. International Port Container (IPC) yang berada di Jalan Pulau Payung, Tanjung Priok, adalah tempat ia berkarier sampai saat ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 10, 2016 11:02 Asia/Jakarta
  • Ayah Segalanya Bagiku

Rahmat bin Sukatma adalah nama ayahku. Wajahnya teduh, pembawaan pribadinya simpatik, dan sikapnya selalu ramah kepada siapapun yang ia temui. Gaya berbicara ayah pun santun. Ia adalah sosok pekerja keras. International Port Container (IPC) yang berada di Jalan Pulau Payung, Tanjung Priok, adalah tempat ia berkarier sampai saat ini.

Ayah memulai karier pekerjaannya di sana mulai dari pegawai harian, hingga menjadi seperti sekarang ini berkat kegigihan dan kerja keras yang tak kenal waktu demi keluarganya. Bagiku, ayah adalah sosok laki-laki tangguh yang dengan sangat sukarela memikul beban demi membahagiakan istri dan anak-anaknya. Bahkan, tanpa memikirikan kesehatannya sendiri.

 

Dia adalah anak ke lima dari sembilan bersaudara yang terlahir di Kawasan Duri daerah Kosambi, Jakarta. Terdiri dari enam anak laki-laki dan sisanya perempuan. Semenjak kakek pensiun menjadi KS (Kepala Stasiun) Duri, kakek-nenek beserta saudara perempuan ayah pindah ke kampung yang terletak di Desa Sindang Mukti, Ciamis, Jawa Barat. Namun ayah dan semua saudara laki-lakinya memilih tetap berada serta mencoba mengadu nasib di Jakarta.

 

Ayah lahir pada bulan September, tepatnya empat puluh dua tahun yang lalu. Ayah adalah seorang sarjana satu-satunya di keluarga. Pantaslah kalau nenek sering membanggakannya. Ayah menikah dengan mama serta dikaruniai empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan. Ayah berhasil menjadi panutan dan inspirasi bagi anak-anaknya dalam menjalani kehidupan.

 

Perjuangan, pengorbanan, serta perlindungan ayah atas keluarganya tidak akan bisa terbayarkan oleh apapun di dunia ini. Perjuangan ayah hampir sama beratnya dengan perjuangan mama saat melahirkan anak-anaknya. Ayah berhasil dalam mendidik anak-anaknya. Kedua orang anaknya kini sedang mengenyam pendidikan untuk menjadi sarjana. Ayah juga berhasil membuat derajat perekonomian keluarga naik drastis. Itu semua berkat ayah. Terima kasih ayah atas semuanya! (Elly Herawatisfarisy20

 

Ayahku, Panutan dan Motivasiku

Hal yang paling membuatku ingat tentang dirinya adalah saat di mana ayah selalu sabar mengajariku bermain sepeda untuk pertama kali. Jatuh bangun aku alami saat memulai belajar bermain sepeda, tetapi beliaulah yang selalu menyemangatiku agar terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Sampai di mana saat diriku mulai lancar mengendarai sepeda tersebut, ayahku langsung berkata sambil memelukku, “Kau hebat, Nak!”

 

Menurutku, selain ibu, ayah adalah sosok yang selalu membuatku berpikir bahwa aku harus lebih baik darinya. Ayahku itu bernama Wahyu Bin Ahmid dengan latar pendidikan Strata 2-nya. Kewibawaan dan kesederhanaan yang dimiliki selalu dapat membuat diriku kagum terhadapnya. Kekaguman yang lainnya adalah sifat tanggung jawab terhadap keluarga yang sangat besar dan sifat penyayang terhadap kami semua.

 

Saat ini ayahku berusia 48 tahun, dan sudah cukup tua untuk dapat mengikuti keegoisan diriku. Berawal sejak kecil di mana diriku selalu diajarkan bagaimana menjadi anak yang tidak cengeng dan memiliki mimpi atau cita cita yang tinggi serta tekad yang kuat. Pekerjaannya sebagai guru di Sekolah Luar Biasa 02 Jakarta membuatnya menjadi seorang ayah yang sangat penyabar.

 

Beliau selalu sabar menghadapi kenakalan dan keegoisanku sampat saat ini. Sosoknya selalu membuat diriku kagum setiap saat. Ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang dimilikinya mengajarkanku bagaimana pentingnya memiliki keduanya. Berawal saat aku mulai belajar berbicara dan berjalan, dirinyalah yang selalu memotivasi diriku agar cepat bisa melakukannya.

 

Setiap malam, ayahku selalu mengajarkanku akan pentingnya mempelajari ilmu agama. Mulai dari membaca Iqro, menceritakan kisah-kisah rasul serta para sahabatnya, dan lain sebagainya. Saat diriku mulai masuk Sekolah Dasar, ia selalu berpesan padaku agar belajar sungguh-sungguh dan selalu hormat pada guru-guruku. Sosok dirinya yang selalu membuat diriku termotivasi ingin menjadi seperti dirinya.

 

Hadiah yang selalu ia berikan saat diriku menjadi juara kelas saat Sekolah Dasar dapat membuat diriku termotivasi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar, ayah menyarankanku untuk masuk ke Madrasah Tsanawiyah. Di mana di sana aku diharuskan memperdalam ilmu agamaku untuk bekal aku kelak.

 

Di mata ayah, ilmu agama sangatlah penting. Diriku selalu dinasihati untuk selalu memiliki keyakinan (iman) yang kuat. Dan percaya bahwa hidup ini semata-mata bukan hanya mengejar materi dan yang lainnya untuk urusan dunia, melainkan akhirat sangat penting untuk dipersiapkan.

 

Berkat kehebatan dirinyalah diriku semakin yakin bahwa ayahku adalah panutan dan motivasiku untuk terus melangkah ke depan. Sosok pekerja keras pun sangat melekat padanya. Hingga sampai saat ini beliau sanggup menyekolahkanku hingga ke jenjang perguruan tinggi.

 

Satu kata yang selalu aku ingat adalah saat di mana beliau berpesan, “Gapailah cita-citamu dengan caramu sendiri dan dengan cara yang halal, InshaAllah semua akan berjalan lancar. Dan ingatlah, hidup yang indah adalah saat di mana dirimu bisa bahagia dunia dan akhirat” ((Tulisan ini dikirim oleh nurfikri26)

 

Jangan Terlalu Memanjakan Anak sejak Kecil

Anak muda zaman sekarang tidak akan pernah mengenal yang namanya usaha sebelum mereka merasakan susahnya bekerja hingga mendapatkan gaji untuk menghidupi kehidupan sehari-hari. Contoh kecilnya sajalah, jika mereka sudah merasakan susahnya mencari pekerjaan dan ditolak dalam interview kerja. Dengan merasakan itu saja, mereka pastinya baru bisa sadar betapa sulitnya yang namanya berusaha.

 

Biasanya itu semua karena sejak kecil mereka sudah diberi segala fasilitas dan sarana untuk hidup oleh orangtuanya. Seperti handphone, sepeda motor, mobil, laptop, notebook, uang harian ataupun bulanan. Ada anak yang kuliah sudah sampai semester 6, tapi malah berhenti di tengah jalan. Alasannya simpel, hanya karena dia tidak kuat dengan tugas-tugas kuliahnya. Dan yang lebih penting lagi, mereka beralasan kalau mereka butuh liburan dan refreshing.

 

Padahal di luar sana banyak mereka yang juga ingin kuliah. Tapi karena keterbatasan dan kekurangan ekonomi, mereka tidak bisa merasakan duduk di bangku universitas. Seperti aku contohnya, yang tidak bisa lagi duduk di bangku universitas karena keterbatasan ekonomi orangtuaku.

 

Cenderungnya, anak SD yang sejak kecil sudah diberikan gadget oleh orangtuanya, ketika besar mereka akan tumbuh menjadi remaja yang selalu disibukkan dengan bermain game dan bermedia sosial. Tidak ada waktu untuk belajar, tidak ada waktu untuk berteman dan berkeluarga, dan tidak ada juga waktu untuk mengurus diri. Hingga akhirnya, dia pun tumbuh menjadi seseorang yang tidak mengenal yang namanya usaha.

 

Gadget yang dimilikinya itu, dia tidak sadar seberapa susah orangtuanya bekerja pagi, siang dan malam. Kecuali kalau memang orangtuanya memberikan pengawasan lebih dan tidak terlalu mengekang kepada anaknya, mungkin anak tersebut bisa menggunakan gadget yang diberikan orangtuanya itu dengan hal-hal yang positif. Ada juga anak sekolah yang masih belum genap berumur 17 tahun, tapi malah sudah diberikan motor, bahkan mobil.

 

Alasannya juga simpel, karena mereka (orangtua) selalu disibukkan oleh pekerjaan dan tidak bisa mengantar ataupun menjemput anak mereka. Padahal anak yang belum genap berumur 17 tahun belum punya SIM pastinya. Andaikan ada apa-apa di jalan, ujung-ujungnya polisi pasti menyuruh anak tersebut menelepon orangtua mereka.

 

Aku dulu juga pernah ditilang, dan disuruh menelepon orangtuaku. Tapi aku bilang saja kalau orang tuaku keluar kota. Anak yang belum genap berumur 17 tahun memang belum diperbolehkan untuk bekerja menghasilkan uang sendiri. Karena mereka masih memiliki seseorang yang bisa bertanggung jawab atas kehidupannya yaitu orang tua dan keluarganya. Tapi seorang anak haruslah diberi pengawasan dari orang tua. Dibutuhkan pengawasan, tapi janganlah terlalu ketat dan mengekang.

 

Jika sejak kecil seorang anak selalu dimanjakan oleh orang tua dengan cara memberikan mereka fasilitas dan sarana untuk hidup ataupun bergaul bersama teman-teman mereka, tanpa memberitahukan mana yang benar dan mana yang salah, takutnya nanti anak itu akan mengalami betapa sulitnya yang namanya ‘usaha’ di saat usia yang sudah tidak muda lagi. Karena kita semua pasti tahu, penyesalan selalu datang belakangan. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)