Pasien Diabetes dan Target Gula Darah Ideal
-
Diabetes
Pengendalian gula darah adalah kunci untuk menghindari munculnya berbagai komplikasi diabetes melitus. Namun, pengendalian itu sulit dilakukan sebagian besar pasien diabetes di Indonesia.
Menurut hasil studi Diabcare tahun 2012 yang melibatkan 1967 pasien diabetes, baru 32 persen yang berhasil menurunkan kadar gula darah HbA1C sesuai target yang ditentukan, yaitu di bawah 7 persen.
Menurut Prof.dr.Pradana, Sp.KD-KEMD, angka tersebut sebenarnya tidak terlalu buruk dibandingkan dengan pasien diabetes di beberapa negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.
"Rata-rata angka pencapaian target memang sekitar itu, tapi di negara maju jumlah pasien diabetes yang tidak terdiagnosis hanya sedikit. Sedangkan di Indonesia mayoritas belum terdiagnosis dan belum tersentuh tenaga kesehatan. Akibatnya angka komplikasi juga tinggi," kata Pradana dalam acara diskusi di Jakarta, Jumat (14/10/2016).
Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk mengukur kadar gula darah rata-rata selama 2-3 bulan ke belakang. Nilai ideal yang dianjurkan adalah kurang dari 7 persen.
Semakin tinggi HbA1C, maka semakin tinggi pula risiko munculnya masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit jantung, gangguan penglihatan, penyakit ginjal, stroke, dan sebagainya.
Untuk mencapai nilai HbA1C kurang dari 7 persen, maka rata-rata gula darah sewaktu tidak boleh melebih 200, dan gula darah Puasa kurang dari 130.
Menurut Pradana, bila nilai HbA1C pasien lebih dari 10 persen, maka yang harus dikontrol lebih dahulu adalah kadar gula darah puasa. "Kadar gula darah Puasa yang harus diperbaiki, bisa dengan menggunakan obat atau sudah harus insulin," kata dokter yang banyak melakukan penelitian tentang diabetes ini.
Pemeriksaan HbA1C menjadi salah satu pegangan utama untuk mengetahui apakah penyakit diabetes terkendali atau tidak. Sayangnya, pemeriksaan ini belum diketahui oleh kebanyakan pasien diabetes. Bahkan, menurut Pradana, dari kalangan dokter juga belum banyak yang menyadari pentingnya pemeriksaan tersebut.
"Oleh awam memang belum banyak dikenal karena pemeriksaan ini relatif mahal. Di jalaur pelayanan kesehatan pemerintah juga belum, tapi di swasta sudah. Laboratorium-laboratorium besar sekarang umumnya menyediakan layanan pemeriksaan ini," ujarnya.
Dalam pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus di Indonesia yang dikeluarkan oleh Perkumpulan Endikronologi Indonesia (Perkeni), sebenarnya sudah disebutkan pentingnya pemeriksaan gula darah teratur, termasuk HbA1C.
Selain itu, ditekankan perlunya pemeriksaan kesehatan berkala secara rutin setiap tahun, misalnya mengukur kadar Kolesterol, cek jantung, atau pun mata, pada pasien diabetes.
"Yang penting adalah apakah dokter-dokter umum dan internis mengimplementasikan pedoman-pedoman itu," katanya.
Untuk mendorong para dokter dalam melaksanakan pedoman tersebut, Perkeni bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pihak swasta untuk memberi edukasi. Salah satunya adalah Partnership for diabetes Control in Indonesia (PDCI).
Menurut dr.Arya Wibitomo, Country Medical Chair & Medical Head GEM PT.Sanofi Indonesia, PDCI telah berjalan selama 5 tahun dan sudah menjangkau 500 dokter penyakit dalam dan hampir 5000 dokter umum di Indonesia.
"Edukasi itu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dokter dalam mendiagnosis dan melakukan terapi diabetes," kata Arya.
Apa Saja Kriteria Dokter yang Berhasil Menangani Diabetes Melitus?
Pengelolaan dan pengendalian penyakit kronis seperti diabetes sangat penting, karena ada komplikasi yang berbahaya, dan juga beban ekonomi yang besar bila penyakit ini tidak terkontrol.
Peran dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam membantu pasien diabetes mengendalikan gula darahnya sangat penting karena ini adalah penyakit menahun.
"Dalam penyakit diabetes melitus, yang menjadi dokter sebenarnya adalah pasien itu sendiri. Pasien lah yang menentukan kapan ia harus berobat, kapan harus cek gula darah, atau bagaimana mengatur pola makan. Oleh karena itu pasien diabetes perlu teman untuk mengelola penyakitnya, yaitu dokter," kata Dr.Pradana, Sp.KD-KEMD, dalam acara diskusi di Jakarta, Jumat (14/10/2016).
Intervensi dini yang dilakukan dokter sebelum munculnya komplikasi sangat penting. Tidak cuma mengandalkan obat, pasien juga harus diedukasi pentingnya melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat.
"Dengan diet dan olahraga saja sudah banyak manfaatnya untuk turunkan gula darah," kata Guru Besar Endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang bisa memicu kerusakan pembuluh darah dan organ-organ tubuh. Karena itu pasien didorong untuk mengelola penyakitnya agar mencapai target gula darah sesuai standar dokter.
"Sebenarnya kalau nilai HbA1C pasien-pasiennya mencapai target, itu artinya dokternya berhasil menangani diabetes," imbuhnya.
Pemeriksaan HbA1C dilakukan untuk mengukur kadar gula darah rata-rata selama 2-3 bulan ke belakang. Nilai ideal yang dianjurkan adalah kurang dari 7 persen.
Pradana menjelaskan, kontrol gula darah pada pasien diabetes bersifat individual dan tidak dapat dipukul rata. "Kalau untuk pasien yng sudah lansia, targetnya boleh lebih longgar. Berbeda halnya dengan pasien yang muda-muda, yang baru terdiagnosis, atau harapan hidupnya tinggi, maka harus lebih ketat targetnya," paparnya.
Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) telah membuat pedoman penanganan dan pencegahan penyakit diabetes. Pedoman tersebut menurut Pradana, merupakan petunjuk bagi para dokter untuk melakukan tugasnya.
"Yang penting adalah pedoman itu dilaksanakan oleh para dokter," kata Pradana.
Ia menambahkan, cara dokter bekerja bergantung pada pengetahuan dan pengalamannya. Dalam hal pengelolaan diabetes, dokter perlu diyakinkan untuk menjalankan pedoman yang sudah diberikan.
Salah satu upaya yang dilakukan Perkeni bekerja sama dengan swasta adalah Partnership for diabetes Control in Indonesia (PDCI) untuk mengedukasi para dokter umum dan dokter penyakit dalam.
"PDCI memberi keyakinan bahwa kalau pengelolaan diabetes dilakukan dengan lebih baik, lalu mencapai target kadar gula darah HbA1C, maka komplikasi penyakit bisa ditekan. Pasien cuci darah, stroke, atau jantung, juga akan menurun," ujarnya.
Pedoman yang ada, lanjut Pradana, selama ini belum dikerjakan karena belum ada pengalaman dari dokter dan juga belum dikondisikan. "Kalau sekarang sudah diwajibkan karena hasilnya dipantau oleh BPJS melalui program pengelolaan penyakit kronis atau Prolanis," katanya.
Tolak ukur keberhasilan PDCI itu antara lain adanya perubahan sikap dokter dalam melaksanakan pedoman pengelolaan diabetes. Misalnya saja memeriksa kaki pasien setiap kontrol, memeriksa mata, atau menyarankan pasiennya melakukan check up setahun sekali. (Kompas)